-
Jokowi mengenakan Batik Parang saat menghadiri sidang ijazah palsu.
-
Batik Parang Jokowi melambangkan keberanian dan keteguhan seorang ksatria.
-
Motif Batik Parang Jokowi menegaskan pesan tersirat ketenangan menghadapi ujian.
Suara.com - Kemunculan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Kamis (5/11/2026) menyedot perhatian luas.
Jokowi hadir langsung untuk mengikuti sidang pembuktian terkait kasus tudingan ijazah palsu dengan terdakwa Roy Suryo.
Tiba dengan menumpangi mobil Toyota Innova hitam, mantan Wali Kota Solo itu langsung disambut riuh massa pendukung yang telah memadati area pengadilan.
Namun, di luar tensi panas persidangan, gaya berbusana Jokowi justru menjadi sorotan tajam.

Dalam momen krusial tersebut, Jokowi memilih mengenakan kemeja batik motif Parang dengan sentuhan kontemporer.
Pemilihan motif klasik Jawa berkarakter tegas ini dinilai bukan kebetulan semata, melainkan sarat akan pesan filosofis tentang keberanian dan keteguhan seorang pemimpin di bawah tekanan.
Lantas, apa makna tersembunyi di balik motif Batik Parang yang membalut tubuh Jokowi saat melangkah ke ruang sidang?
Warisan Tertua Mataram Kartasura: Dari 'Pèrèng' hingga Ombak Samudra
Batik Parang dikenal sebagai salah satu motif batik tertua di tanah Nusantara yang telah ada sejak era Keraton Mataram Kartasura (Solo). Kata parang berakar dari kata pèrèng yang berarti lereng.
Hal itu tecermin dari susunan motif menyerupai huruf "S" yang saling mengait dan membentuk garis diagonal menurun, menyerupai kontur lereng gunung.
Bentuk dasar huruf "S" tersebut juga terinspirasi dari deburan ombak Samudra luas yang terus bergulung tanpa henti, merefleksikan semangat perjuangan yang tak pernah padam.
Secara historis, motif ini bukan kain sembarangan. Motif Parang terinspirasi dari simbolisme pedang yang melambangkan kekuatan, keberanian ksatria, dan daya juang tinggi.
Dahulu, para raja dan senapati perang Jawa kerap mengenakan motif ini sebelum terjun ke medan tempur dengan harapan pulang membawa kemenangan.

3 Filosofi Utama di Balik Guratan Motif Parang
Batik yang dikenakan Jokowi di meja hijau membawa pesan mendalam yang terbagi dalam tiga pilar makna utama:
1. Kesinambungan yang Tak Terputus
Rantai motif "S" yang saling bertaut tanpa jeda melambangkan kesinambungan hidup.
Filosofi ini memuat petuah agar manusia tak pernah berhenti memperbaiki diri, menjaga pertalian keluarga, serta konsisten melanjutkan estafet perjuangan.
2. Keteguhan Menghadapi Badai Tekanan
Layaknya deburan ombak laut yang tak henti-hentinya menghantam karang, pemakai Batik Parang diajarkan untuk tetap tegar, tenang, dan pantang menyerah meski diterpa ujian berat maupun terjangan badai kehidupan.
3. Kewibawaan dan Keseimbangan Kepemimpinan
Garis diagonal yang tersusun rapi menandakan ketegasan prinsip, kehormatan, dan kelayakan seorang pemimpin.
Pola teratur pada batik ini juga mengajarkan harmoni serta keseimbangan batin dalam menghadapi segala intrik sosial dan pekerjaan.
Simbol 'Perang' Menahan Hawa Nafsu dan Dharma Bakti
Dalam khazanah tutur Jawa, parang kerap dimaknai sebagai representasi kata 'perang'.
Bukan perang fisik semata, melainkan ikhtiar perang batin para raja dan ksatria dalam menaklukkan ego dan hawa nafsunya sendiri setiap hari.
Motif parang diposisikan layaknya ageman (busana) yang menjadi cerminan laku lampah menuju kesempurnaan diri.
Sementara kata batik itu sendiri lekat dengan makna bakti atau dharma bakti, yakni kesetiaan seorang ksatria untuk mengabdi seutuhnya kepada nusa, bangsa, keluarga, serta agamanya.
Di tengah bergulirnya agenda sidang pembuktian melawan Roy Suryo, balutan Batik Parang kontemporer yang dikenakan Jokowi seolah menegaskan pesan tersirat, yakni ketenangan sikap seorang ksatria yang pantang goyah, siap menghadapi tantangan, dan berpegang teguh pada prinsip kebenaran.