- Lari merupakan olahraga yang bermanfaat bagi kesehatan jantung, paru-paru, dan kebugaran tubuh secara keseluruhan.
- Muncul anggapan bahwa kebiasaan berlari dapat membuat wajah kendur dan tampak lebih tua, yang dikenal dengan istilah runner's face.
- Kondisi tersebut digambarkan melalui wajah yang lebih tirus, cekung, atau berkerut dan diduga berkaitan dengan gerakan berulang, paparan sinar matahari, serta penurunan berat badan.
Suara.com - Lari menjadi salah satu olahraga yang banyak dipilih untuk menjaga kebugaran tubuh. Selain mudah dilakukan, aktivitas ini juga dikenal memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan jantung, paru-paru, hingga kebugaran fisik secara keseluruhan.
Namun, di balik manfaatnya, beredar anggapan bahwa kebiasaan berlari bisa membuat wajah menjadi kendur dan terlihat lebih tua.
Kondisi yang kerap disebut runner's face ini bahkan membuat sebagian orang khawatir olahraga lari justru berdampak buruk pada penampilan kulit.
Istilah runner's face biasanya digunakan untuk menggambarkan wajah pelari yang tampak lebih tirus, cekung, atau berkerut.
Sebagian orang mengaitkannya dengan gerakan berlari yang dilakukan berulang kali, sementara lainnya menilai paparan sinar matahari dan penurunan berat badan turut berperan.
Lantas, apakah benar lari bisa menyebabkan wajah kendur, atau anggapan tersebut hanya mitos? Untuk memahami kaitannya dengan kondisi kulit, simak penjelasan berdasarkan sejumlah sumber kesehatan berikut.
Lari Bikin Wajah Kendur, Mitos atau Fakta?

Anggapan bahwa lari bisa membuat wajah kendur dikenal dengan istilah runner's face. Istilah ini merujuk pada kondisi wajah yang terlihat lebih tirus, cekung, atau tampak lebih tua, terutama pada orang yang rutin melakukan olahraga lari jarak jauh.
Meski begitu, anggapan tersebut tidak sepenuhnya didukung bukti ilmiah. Artikel Healthline menjelaskan bahwa aktivitas lari tidak secara langsung menyebabkan kulit wajah menjadi kendur.
Perubahan penampilan wajah lebih mungkin berkaitan dengan sejumlah faktor lain, seperti berkurangnya lemak tubuh, paparan sinar matahari, dan proses penuaan alami.
Healthline mengutip penjelasan dokter bedah plastik bersertifikat, Dr. Kiya Movassaghi, yang menyebut bahwa kombinasi tubuh yang ramping dan paparan sinar matahari dalam jangka panjang dapat membuat wajah terlihat lebih cekung.
Kondisi serupa juga bisa dialami orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan, seperti pesepeda, peselancar, pemain tenis, hingga pekerja lapangan.
Dengan demikian, perubahan wajah yang dialami sebagian pelari tidak serta-merta disebabkan oleh gerakan tubuh yang memantul saat berlari.
Teori bahwa guncangan berulang ketika kaki menyentuh tanah membuat kulit pipi turun juga belum memiliki bukti yang kuat.
Penjelasan serupa disampaikan Verywell Health. Artikel tersebut menyebut runner's face sebagai mitos karena belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa lari menyebabkan penuaan kulit lebih cepat.
Sebaliknya, perubahan wajah pada pelari bisa berkaitan dengan berkurangnya lemak tubuh. Lari merupakan olahraga kardio yang dapat membantu membakar kalori dan mengelola berat badan.
Jika seseorang kehilangan banyak lemak tubuh, volume lemak di area wajah juga dapat berkurang sehingga pipi terlihat lebih tirus atau cekung.
Faktor lainnya adalah paparan sinar ultraviolet (UV). Pelari yang sering berolahraga di luar ruangan berisiko terpapar sinar matahari dalam waktu lama, terutama jika tidak menggunakan perlindungan kulit yang memadai.
Paparan UV berlebih dapat mempercepat kerusakan kolagen dan elastin, dua komponen yang berperan dalam menjaga kekencangan serta elastisitas kulit.
Verywell Health juga menjelaskan bahwa olahraga kardio secara teratur justru berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan kulit.
Aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan sirkulasi darah, sementara beberapa penelitian yang dibahas dalam artikel tersebut mengaitkan olahraga daya tahan dengan berkurangnya proses glikasi yang berhubungan dengan penuaan.
Penjelasan hampir serupa juga pernah disampaikan oleh Dokter Tirta Mandira Hudhi dalam siaran langsung Instagramnya yang kemudian dibagikan ulang ke akun pribadi.
"Pertanyaan yang sering ditanyakan netizen. 'Apakah kalau berlari muka itu akan longsor?'. Apa yang dikatakan mereka itu tidak salah, tapi ada konteksnya. (Itu terjadi) Jika mileage (total jarak lari) sangat tinggi, misalkan di atas 150 km per minggu," jelas Dokter Tirta, dilansir pada Sabtu, 7 November 2026.
"Itu olahraganya sudah di atas 130 menit. Itu memang fat-nya akan turun sekali. Ketika fat-nya turun, itu kulit cenderung agak kendur. Dan itu bukan hanya di muka, tapi seluruh tubuh. Apalagi mereka larinya akan berjam-jam di bawah sinar matahari," imbuhnya.
Lantas, bagaimana cara menjaga kulit wajah agar tetap sehat meski rutin berlari? Salah satu langkah penting adalah menggunakan tabir surya sebelum beraktivitas di luar ruangan.
Verywell Health menyarankan penggunaan sunscreen dengan SPF minimal 30 dan perlindungan spektrum luas, serta mengulang pemakaian sesuai kebutuhan, terutama ketika banyak berkeringat.
Selain itu, pelari dapat menggunakan topi atau pelindung kepala untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung.
Memilih waktu berlari ketika intensitas sinar matahari tidak terlalu kuat juga bisa menjadi langkah tambahan untuk melindungi kulit.
Healthline turut menyarankan agar pelari menjaga kelembapan kulit setelah berolahraga dan mencukupi kebutuhan cairan tubuh.
Asupan air yang cukup membantu menjaga hidrasi, sedangkan penggunaan pelembap dapat mendukung kondisi lapisan pelindung kulit.
Pada akhirnya, lari bukan penyebab langsung wajah menjadi kendur atau mengalami penuaan dini. Perubahan penampilan wajah pada pelari lebih mungkin dipengaruhi oleh penurunan lemak tubuh, paparan sinar UV, serta faktor usia.
Karena itu, olahraga lari tetap dapat dilakukan untuk menjaga kebugaran, dengan tetap memperhatikan perlindungan kulit dan kebutuhan tubuh.