- Sekolah perlu memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat, kreativitas, dan kepercayaan diri, bukan hanya berfokus pada akademik.
- SIS Games 2026 mempertemukan lebih dari 1.000 siswa dari Indonesia, India, dan Myanmar melalui kompetisi olahraga, seni, dan intelektual.
- Pemerintah mendorong pengembangan talenta murid secara terencana dan berkelanjutan dengan melibatkan keluarga serta sekolah.
Suara.com - Pendidikan tidak cukup hanya mengukur keberhasilan siswa dari nilai akademik. Setiap anak memiliki minat dan kemampuan berbeda yang perlu mendapat kesempatan untuk berkembang.
Untuk itu, sekolah perlu menyediakan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi potensi, baik melalui kegiatan olahraga, seni, maupun aktivitas yang mengasah kemampuan berpikir dan berkomunikasi.
Ruang pengembangan tersebut juga menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar bekerja sama, menghadapi tantangan, serta mengenal teman dengan latar belakang berbeda.
Dengan demikian, proses pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui berbagai pengalaman yang membentuk karakter siswa.
Salah satu contohnya terlihat dalam penyelenggaraan SIS Games 2026 oleh SIS Group of Schools pada 4-7 November 2026 di Jakarta. Mengusung tema "Diverse. Brave. United.", kegiatan ini mempertemukan lebih dari 1.000 siswa dari Indonesia, India, dan Myanmar.
SIS Games menghadirkan kompetisi dalam berbagai bidang. Pada cabang olahraga, siswa mengikuti pertandingan bola basket, sepak bola, bola voli, bulu tangkis, renang, tenis, tenis meja, dan atletik. Sementara bidang seni diisi dengan penampilan paduan suara, band, serta tari budaya.
Ada pula kompetisi catur dan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasah strategi, berpikir kritis, serta keberanian menyampaikan gagasan.
Pendiri dan Chairman SIS Group of Schools, Jaspal Sidhu, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar siswa dari berbagai kampus dapat bertemu, saling mengenal, dan membangun pertemanan. Menurutnya, pendidikan tidak seharusnya hanya berorientasi pada pencapaian akademik.
"Objektifnya dua. Pertama, supaya semua SIS School bisa kumpul di satu lokasi. Karena kalau mereka kumpul, bisa jadi teman, network-nya mereka ini. Kedua, menjelaskan atau memamerkan bahwa bukan hanya akademik yang menjadi akar sekolah kita," ujar Jaspal.
Ia menilai olahraga dan kegiatan nonakademik lainnya memiliki kontribusi dalam membangun keterampilan yang dibutuhkan anak. Tidak hanya kemampuan fisik, siswa juga perlu mengembangkan komunikasi dan kepercayaan diri.
Jaspal juga menekankan bahwa pertemuan secara langsung melalui kegiatan bersama dapat menumbuhkan rasa persatuan di antara siswa yang berasal dari latar belakang berbeda.
"Kita harus menyatukan orang dengan mempertemukan mereka secara langsung. Persatuan tidak bisa dibangun hanya melalui pidato," tuturnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah mengenai pengembangan talenta murid. Pelaksana Tugas Direktur Pendidikan Nonformal dan Informal, Ditjen PAUD, Dikdas, dan PNFI, Any Sayekti, S.H., M.A., mengapresiasi kegiatan yang memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan di luar bidang akademik.
Menurut Any, penyelenggaraan SIS Games sejalan dengan Permendikdas Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid. Kebijakan tersebut mengatur bahwa bakat, minat, dan kemampuan terbaik siswa perlu dikelola secara terencana, terstruktur, dan berkelanjutan.
"Selain membangun budaya positif, kompetisi juga mengajarkan kebersamaan, fairness, serta menghargai keberagaman latar belakang maupun budaya," jelas Any.