LINIMASA - Pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar masih berpotensi dalam fase konsolidasi atau fluktuasi di kisaran yang sama seperti pekan lalu. Hal itu diungkapkan pengamat pasar uang Ariston Tjendra.
Menurut Ariston, penyebab utama rupiah masih dalam fase konsolidasi karena pasar masih menantikan data dan even penting pekan ini, yakni data inflasi konsumen AS pada Selasa (13/6/2023) malam. Selain itu, ada pula pengumuman kebijakan suku bunga acuan AS pada Kamis, mendatang.
"Pasar biasanya berhati-hati menjelang event penting ini, sehingga rupiah berpotensi berbalik melemah terhadap dolar AS, tapi masih di kisarana perdagangan yang sama dengan pekan lalu," ujar Ariston sebagaimana dilansir dari Antara.
Ariston mengatakan perkembangan ekonomi AS tampak cukup beragam di mana beberapa menunjukkan perbaikan dan sebagian lagi menampilkan penurunan yang membuat pasar bingung.
Adanya penurunan angka akan mendukung penghentian kenaikan suku bunga acuan. Sementara, perbaikan data akan mendorong bank sentral AS menaikkan suku bunganya lagi.
"Data inflasi konsumen AS menjadi data penting yang ditunggu pasar karena data inflasi adalah data yang menjadikan alasan The Fed (bank sentral AS) menaikkan suku bunga acuannya," katanya.
"Perkembangan baru dari data ini akan memengaruhi persepsi pasar terhadap kelanjutan kebijakan moneter AS ke depan," ujar Ariston.
Menurut dia, penurunan data cadangan devisi Indonesia akan menjadi Indikator demand dolar lebih tinggi dari suplai di dalam negeri hingga bisa memicu penguatan dolar AS terhadap rupiah.
"Rupiah berpotensi bergerak melemah ke arah Rp14.900 (per dolar AS) dengan potensi support di kisaran Rp14.820 per dolar AS)," ucap dia.
Baca Juga: CEK FAKTA: Beri PSSI Kejutan, Shayne Pattynama Sudah Tiba di Surabaya Langsung Latihan Bareng Timnas
Pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah melemah o,39 persen atau 58 poin menjadi Rp14.898 per dolar AS dari perdagangan sebelumnya Rp14.840 per dolar AS.