"Aku langsung punya pikiran, kok bisa dia nunggu? Kalau aku jadi suaminya, sudah pasti aku samperin. Tapi dia nunggu sampai malam, sampai aku berpendapat, dia (Syahnaz) biasa seperti itu," bebernya.
"Aku langsung punya pikiran, kok bisa dia nunggu? Kalau aku jadi suaminya, sudah pasti aku samperin. Tapi dia nunggu sampai malam, sampai aku berpendapat, dia (Syahnaz) biasa seperti itu," bebernya.