Hampir semua orang tua mungkin sudah tahu kalau anak-anak butuh durasi tidur yang cukup untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan otaknya. Masalahnya, tidak semua anak mendapatkan waktu tidur yang cukup.
Sebagaimana ditulis Suara.com, sebuah studi terbaru menemukan bahwa anak yang kurang tidur bisa mengalami masalah kognitif lebih lanjut. Studi ini sekaligus menekankan pentingnya tidur terhadap perkembangan otak anak-anak.
Penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Maryland itu menemukan bahwa anak-anak yang tidur kurang dari 9 jam lebih mungkin mengalami masalah kognitif.
Para peneliti mengatakan bahwa anak-anak tersebut lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan, begitu juga perilaku impulsif.
Temuan penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Lancet Child & Adolescent Health, yang didanai oleh National Institutes of Health (NIH).
Data penelitian ini dikumpulkan dari lebih dari 8.300 anak-anak antara usia 9 sampai 10 tahun. Anak-anak ini telah terdaftar dalam studi Perkembangan Kognitif Otak Remaja (ABCD).
Kesimpulan diperoleh setelah dilakukan analisis rekam medis, pemindaian MRI, serta survei, hingga anak-anak mencapai usia 11 dan 12 tahun.
Kurang dari 9 jam berdampak
![Anak sedang tidur, waktu tidur anak. [Pixabay]](https://media.suara.com/suara-partners/mamagini/thumbs/1200x675/2022/05/24/1-child-g43a163f37-1920.jpg)
"Kami menemukan bahwa anak-anak yang kurang tidur, kurang dari 9 jam per malam, memiliki materi abu-abu yang lebih sedikit atau volume yang lebih kecil di area otak tertentu yang bertanggung jawab untuk perhatian, memori, dan kontrol penghambatan, dibandingkan dengan mereka yang memiliki kebiasaan tidur sehat," ungkap Profesor Ze Wang seperti ditulis Express.
Ze Wang juga menyampaikan kekhawatirannya akan dampak jangka panjang dari kurang tidur. Studi ini dianggap penting, karena merupakan salah satu yang pertama menunjukkan dampak jangka panjang dari kurang tidur pada perkembangan neurologis.
Baca Juga: Tuai Komen Netizen, Viral Beras Merek 'Poligami' Lengkap dengan Gambarnya
"Studi tambahan diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan kami, dan melihat ada atau tidaknya intervensi yang bisa meningkatkan kebiasaan tidur dan membalikkan defisit neurologis," jelasnya.
Menurut Profesor Wang, Profesor Bowers dari University of Maryland, temuan studi ini penting untuk menunjukkan pentingnya melakukan studi jangka panjang pada otak anak yang sedang berkembang.
Hal itu juga terutama karena pentingnya tidur selama masa kanak-kanak sering diabaikan, lantaran banyaknya pekerjaan rumah dan kegiatan ekstrakurikuler yang harus dijalani anak sehari-harinya.