Kabut asap tebal kembali melanda ibukota India, New Delhi, selama dua hari berturut-turut. Kualitas udara di beberapa bagian kota yang padat dengan penduduk, yang memiliki populasi sekitar 35 juta jiwa, tetap dalam kategori 'parah', menurut RT.com (3/11/2023). Pada hari yang sama, indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) mencapai tingkat berbahaya untuk pertama kalinya musim dingin ini.
Data yang diterbitkan oleh Badan Pengendalian Pencemaran Udara Pusat menunjukkan bahwa AQI New Delhi mencapai 466 pada Jumat pagi, yang dianggap 'parah' karena melebihi angka 400. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan orang-orang, terutama mereka yang sudah menderita penyakit.
Tingkat partikel udara paling berbahaya, PM2.5, yang dapat masuk ke dalam aliran darah, hampir 35 kali lipat dari batas maksimum harian yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, menurut perusahaan pemantauan IQAir.
Untuk mengatasi situasi ini, Ketua Menteri negara bagian Arvind Kejriwal telah menutup semua sekolah dasar selama dua hari ke depan. Komisi Manajemen Kualitas Udara juga telah melarang kegiatan konstruksi non-esensial dan memberlakukan pembatasan pada kategori kendaraan tertentu di Delhi. Pelanggaran akan dikenai denda besar.
Media India telah mengaitkan peningkatan tingkat polusi New Delhi dengan "kecepatan angin rendah" dan "intrusi asap dari pembakaran jerami." Pemerintah telah melarang petasan selama festival Diwali untuk menjaga tingkat polusi tetap terkendali.
New Delhi merupakan megakota paling tercemar di dunia dengan tingkat polusi 25 kali lipat di atas pedoman WHO. Kualitas udara yang buruk dapat memotong harapan hidup penduduk hingga 12 tahun. India diidentifikasi sebagai negara yang menghadapi "beban kesehatan terbesar" akibat polusi udara.