Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memang belakangan memiliki elektabilitas tinggi di berbagai survei calon presiden (capres) 2024 mendatang.
Kendati memiliki elektabilitas tinggi dalam survei, partai yang menaungi Ganjar yakni PDI Perjuangan belum juga mengusungnya sebagai bakal capres.
Dalam hal ini politikus PDIP Adian Napitulu menyebutkan bahwa partainya memang tak akan memilih capres hanya berdasarkan hasil survei.
"Kita ini kan tidak sedang jualan susu kaleng, kita berbicara tentang calon presiden, survei itu sebagai salah satu alat yang perlu dipertimbangkan, tapi itu jadi satu-satunya pertimbagan kalau jualannya susu kaleng," ungkap Adian dalam perbincangan di Zulfan Lindan Unpacking Indonesia.
"Ketika kita mau bicara soal presiden enggak bisa dong varibelnya banyak harus dihitung, kesetiaannya pada ideologi, kesetiaannya terhadap negara kesatuan, sikapnya cara berpolitiknya dan sebagainya semuanya harus utuh, baru kita putuskan," imbuhnya.
Menurut Adian, perosalan Presiden tak bisa sesederahana membandingkan satu tokoh dengan tokoh yang lain dalam survei.
"Ini bukan keputusan sembarangan yang bisa kita ambil tergesa-gesa," ungkap Adian.
Megawati Menunggu Waktu
PDIP menjadi salah satu partai yang ditunggu-tunggu dalam mengumumkan capres. Dalam deklarasi capres, PDIP sendiri menyerahkan pemilihan capres pada ketua umum mereka, Megawati Soekaroputri.
Baca Juga: 5 Manfaat Buah Naga untuk Perawatan Kulit, Salah Satunya Bikin Awet Muda!
Soal pemilihan capres, Ketua DPP PDIP Puan Maharani menyebutkan bahwa Ketua Umum (Ketum) mereka, Megawati Soekarnoputri kemungkinan sudah mengantongi siapa nama capres yang bakal diusung partai Banteng tersebut.
"Pastilah ketua umum sudah mengantongi nama, PDIP partai yang siap kadernya. Ini masalahnya adalah saya melihatnya timing ketua umum," ungkap Puan Maharani usai makan bersama Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka di Rumah Dinas Wali Kota, Loji Gandrung, Senin (21/11/2022) seperti yang dikutip dari Wartaekonomi--jaringan Suara.com.
"Boleh saja, kapan akan memutuskannya itu dilihat dari dinamika yang ada di lapangan. Apakah konsolidasi siap dilakukan, bagaimana dinamika tahun 2023 ekonomi yang katanya akan resesi dan lain-lain, kan pilpers masih 2024," imbuhnya.