Pemerintah Kota Metro beberapa waktu terakhir baru saja mencanangkan Metro sebagai kota literasi. Suatu langkah yang baik dalam mengelorakan giat literasi di kota berjuluk Bumi Sai Wawai ini. Literasi memang menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kualitas literasi yang tinggi akan membawa perubahan besar bagi kemajuan masyarakat.
Literasi sendiri memiliki cakupan yang sangat luas, mulai dari literasi membaca, literasi menulis, literasi digital dan sebagainya. Salah satu ruang penting dalam mengelorakan literasi adalah lingkungan sekolah. Maka mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) menjadi motor dalam menanamkan nilai-nilai literasi bagi guru dan peserta didik.
Literasi dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali murid peserta didik). Kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah sebagi upaya memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Gerakan Pembudayaan Karakter di Sekolah dan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen.
Hal yang paling mendasar dalam praktik literasi adalah kegiatan membaca. Keterampilan membaca merupakan fondasi untuk mempelajari berbagai hal lainnya. Kemampuan ini penting bagi pertumbuhan intelektual peserta didik. Melalui membaca peserta didik dapat menyerap pengetahuan dan mengeksplorasi dunia yang bermanfaat bagi kehidupannya. Membaca memberikan pengaruh budaya yang amat kuat terhadap perkembangan diri peserta didik.
Orientasi dari kegiatan literasi dimana peserta didik dapat mengenali lingkungan terdekatnya dapat diupayakan dengan menggiatkan literasi tentang sejarah lokal. Literasi sejarah lokal adalah suatu langkah menumbuhkan pengetahuan dan mengambil nilai keterampilan dan pembelajaran dari peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau. Kota Metro yang memasuki usia 85 tahun memiliki nilai sejarah yang besar. Banyak peristiwa penting yang terjadi di Kota Metro, dari awal mula adanya program kolonisasi hingga perkembangan Metro menjadi sebuah kota. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan kekayaan intelektual dari perjalanan sebuah kota, di dalamnya terkandung pengetahuan yang dapat digunakan untuk membentuk karakter sebuah kota. Maka literasi sejarah lokal perlu terus digiatkan agar masyarakat, khususnya generasi muda di Metro dapat mengenali perjalanan kotanya. Ditetapkannya bangunan ataupun objek sejarah menjadi cagar budaya di Kota Metro adalah suatu langkah yang baik dalam mendukung literasi sejarah lokal di Metro.
Giat literasi sejarah lokal yang berjalan di Metro nampak pada lahirnya ruang-ruang baru bagi masyarakat untuk belajar sejarah Kota Metro. Seperti Rumah Informasi Sejarah (RIS) Dokterswoning Metro yang di dalamnya menyajikan narasi sejarah dari awal mulai Metro dibuka pada zaman kolonisasi hingga terbentuknya Metro sebagai sebuah kota. Kemudian berdirinya Museum Santa Maria, yang dapat dikatakan museum pertama di Metro juga mendukung giat literasi sejarah lokal terutama yang bertema sejarah kesehatan dan perkembangan agama Katolik di Metro. Bukan hanya sekedar menyajikan narasi sejarah, pada museum ini juga dilengkapi dengan berbagai benda-benda bernilai sejarah terkait dunia persalinan. Literasi sejarah lokal di Metro semakin menarik dengan keberadaan narasi-narasi sejarah yang dilengkapi dengan arsip yang berada di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Metro. Usaha untuk menggiatakan literasi sejarah lokal di Metro juga mendapat dukungan antusias dari berbagai kalangan dan komunitas yang terus mengedukasi melalui berbagai media.
Kurikulum Sejarah Lokal
Keberadaan bangunan bersejarah baik yang belum ditetapkan atau yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya menjadi modal untuk mengajarkan sejarah lokal bagi peserta didik di Metro. Harapannya Kota Metro memiliki formula yang dapat semakin menggiatkan sejarah lokal yakni dalam bentuk kurikulum di sekolah. Masuknya sejarah lokal dalam kurikulum di sekolah berorientasi agar peserta didik memiliki rasa memiliki dan mencintai sejarah kota ini. Hal ini disebabkan dengan adanya pembelajaran yang disampaikan di dalam maupun di luar kelas tentang sejarah lokal Metro membuat peserta didik tahu dan mengerti. Sehingga dari hal itu rasa bangga akan muncul dalam diri peserta didik.
Kurikulum sejarah lokal adalah suatu cara agar peserta didik mengenali daerahnya. Jika pada kurikulum IPS atau sejarah yang telah diajarkan peserta didik mempelajari peristiwa ataupun tokoh-tokoh nasional. Maka dalam kurikulum sejarah lokal ini peserta didik di Metro dapat mempelajarai berbagai peristiwa penting yang pernah terjadi di Kota Metro. Begitupun peserta didik dapat belajar tokoh-tokoh serta objek-objek bersejarah di Kota Metro.
Kerjasama yang baik dari semua pihak agar Metro dapat memiliki kurikulum sejarah lokal perlu dilakukan. Sudah saatnya pemerintah Kota Metro memasukan sejarah lokal dalam kurikulum di sekolah. Karena keberadaan kurikulum sejarah lokal merupakan salah satu cara mendukung Kota Metro sebagai kota pendidikan yang berbudaya.
Buku Bacaan Bertema Sejarah Lokal
Buku-buku bacaan yang bertema kelokalan masih sepi di sekolah-sekolah di Lampung. Begitupun buku bacaan peserta didik yang bertema sejarah lokal. Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi penulis, penerbit dan pemerintah darah untuk bekerjasama membanjiri peserta didik kita dengan buku-buku bertema kelokalan. Alam, budaya dan manusia yang ada adalah tema besar yang dapat diangkat menjadi sebuah buku bacaan dan tentunya dapat diselaraskan dengan kurikulum yang diajarkan di sekolah. Buku bacaan bertema kelokalan menjadi pelengkap buku-buku bacaan yang telah ada di sekolah.
Kota Metro adalah kota yang memiliki berbagai latar alam, budaya, dan manusia. Sejarah kota ini juga sangat beragam. Pemaparan sebelumnya telah dibahas menganai literasi sejarah dan kurikulum sejarah lokal yang perlu digiatkan di Kota Metro. Menggiatkan sejarah lokal di Metro juga perlu dilakukan dengan banyak terbitan berupa buku bacaan bertema sejarah lokal. Sehingga selain peserta didik dapat belajar langsung di objek sejarah, belajar dengan guru di sekolah, mereka juga dapat menambah wawasan sejarah Kota Metro dari buku-buku bacaan.
Buku-buku sejarah tentang Kota Metro hari ini mulai tumbuh. Keberadaanya menjadi modal untuk membuat buku bacaan yang sesuai dengan usia peserta didik. Jika buku sejarah tentang Metro saat ini lebih khusus menjadi bacaan bagi kalangan dewasa, maka buku sejarah Metro juga harus dapat dinikmati oleh semua kalangan. Baik dari usia pendidikan anak usia dini, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah dan sekolah atas. Buku bacaan sejarah lokal Metro dapat dimulai dengan mengangkat tema Mengenal Cagar Budaya Di Metro, asal-usul Terbentuknya Metro ataupun tema-tema lain yang penyampaiannya sesuai dengan usia peserta didik.
Kedepan diperlukan kerjasama yang baik dari mulai penulis naskah, penerbit, pemerintah, sekoah dan masyarakat agar buku-buku bacaan bertema sejarah lokal dapat hadir di tengah peserta didik di Metro. Harapannya sejarah Kota Metro semakin dikenal dan menjadi modal untuk membentuk masyarakat Metro yang berkarakter dan berbudaya.
Adi Setyawan (Pengelola Penerbitan Pensil Bersejarah)
.