Rumah Asisten Wedana dan Sejarah Kota Metro

Metro Suara.Com
Minggu, 22 Mei 2022 | 10:45 WIB
Rumah Asisten Wedana dan Sejarah Kota Metro
KITLV

Membicarakan sejarah Kota Metro tentu  tidak bisa terlepas dari kebijakan Politik Etis yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Politik Etis merupakan kebijakan baru dalam perpolitikan kolonial Hindia Belanda (Indonesia) sejak tahun 1900. 

Hal ini dilatarbelakani oleh kritik dari Conrad Theodore van Deventer yang menulis artikel berjudul ‘Een Eeresculd’ (hutang kehormatan) yang diterbitkan dalam De Gids pada 1899, ia berusaha mengkritik pemerintahan Hindia Belanda dan mengubah pandangan mengenai kebijakan di wilayah jajahan (Taufik Abdullah dkk, 2011:243). 

Kritik Van Deventer rupanya memperoleh perhatian serius dari Pemerintah Belanda. Pada tahun 1901, dalam suatu pidato kenegaraan, Ratu Wilhelmina mengumumkan akan dibuat kebijakan baru di Hindia Belanda. Kebijakan baru itu ialah Politik Etis yang tercantum dalam slogan ‘edukasi, irigasi, dan emigrasi,’ atau yang kemudian terkenal dengan sebutan Trilogi van Deventer atau Trias Etika (Taufik Abdullah dkk, 2011:212).

Salah satu program politik etis  ini sendiri adalah migrasi yang dilakukan dengan cara memindahkan penduduk dari pedesaan Jawa yang padat ke luar wilayah Jawa yang kurang padat pendudukya misalnya Lampung. Penduduk yang berhasil dipindahkan mulai tahun 1901 sampai 1941 berjumlah 250.000 orang dengan separuh jumlah itu ditempatkan di Lampung (Taufik Abdullah dkk, 2011:215). 

Pelaksanaan migrasi atau disebut juga dengan kolonisasi ini dilaksanakan pertama kali pada bulan November 1905 dengan membawa rombongan kolonisasi angkatan pertama yang berasal dari Bagelen, Karesidenan Kedu Jawa Tengah yang kemudian ditempatkan di Gedong Tataan. Dengan hasil positif yang nampak dari uji coba kolonisasi pertama ini, sehingga pemerintah Belanda meneruskan program kolonisasi ke daerah lain di Lampung. Maka, dari sinilah sejarah Metro dimulai.

Diawali dari dibukanya daerah kolonisasi baru yaitu Kolonisasi Sukadana yang ditempatkan di Desa Gedong Dalem. Kolonisasi ini kemudian membuka desa induk baru bernama Trimurjo pada awal 1935 (Kuswono dkk, 2020). Makin lama daerah kolonisasi ini semakin berkembang dengan jumlah penduduk yang semakin banyak. Daerah kolonisasi Sukadana ini kemudian diperluas dengan membuka daerah baru seperti Way Seputih, Pengubuan, Punggur, Rumbia, Way Jepara dan Raman (Amral Sjamsu, 1956). 

Pemerintah juga melihat bahwa masyarakat yang dipindahkan sudah mampu memenuhi kebutuhannya sendiri seperti sandang dan pangan. Sehingga pemerintah merasa perlu untuk membuat pusat pemerintaham bagi kolonisasi Sukadana. Maka kemudian pemerintah menetapkan Metro se- bagai ibu kota atau pusat dari kolonisasi Sukadana ini.

Seperti dijelaskan dalam surat kabar Soerabaijasch handelsblad yang terbit pada bulan November 1936 bahwa di tengah hutan yang luas, sebuah pusat telah terbentuk yaitu Metro. Pada be berapa bulan kedepan pusat ini akan dikelilingi oleh rumah-rumah sehingga dalam waktu sekitar satu setengah tahun pusat Jawa yang sebenarnya akan muncul di bagian Sumatera. Hal ini membuktikan keseriusan pemerintah dalam membangun ibu kota. 

Tidak hanya sampai disitu, pada  tanggal  9  Juni 1937  diberitakan  telah  diresmikan sebuah  tugu untuk memper ingati keberhasilan kolonisasi Sukadana   di bawah pimpinan  Residen   R o o k m a a k e r. Pada hari yang sama juga diberitakan bahwa telah dilaksanakan peresmian Metro sebagai  pusat    p e m e r i nt a h an Kolonisasi Sukadana, dimana  tanggal ini dijadikan   sebagai  hari jadi Kota Metro (Kian Amboro, 2021:197).

Salah satu tempat yang menyimpan   kenangan bersejarah di Kota Metro ialah Rumah Asisten Wedana. Keberadaan Rumah Asisten Wedana me- rupakan bukti kuat adanya kehidupan Metro masa lampau. Meskipun saat ini kita tidak bisa melihat bentuk aslinya, tetapi bangunan ini masih ada. Seperti yang sudah dipaparkan di atas bahwa ru mah ini dibangun pada waktu yang bersamaan den-gan akan dibukanya ibukota Kolonisasi Sukadana sebagai rumah tinggal bagi Asisten Kewedanaan Metro.

Asisten Wedana sendiri merupakan kepala onderdistrik atau setingkat kecamatan. Kedudukan asisten wedana diakui dalam sistem pemerintahan Belanda saat itu yang disebut Binnenlands Bestuur (pemerintahan dalam negeri). Meskipun sistem pemerintahan dalam negeri di tanah jajahan ini bersifat dualistis dengan adanya dua lapisan birokrasi yaitu Europees Bestuur dan Inlandse Bestuur (Taufik Abdullah dkk, 2011:49). Kedudukan asisten wedana dijabat oleh para priayi bumiputera, sama seperti tingkatan di atasnya yaitu Wedana dan Regent, dimana mereka meliliki jabatan sebagai Inlandse Bestuur atau pemerintahan pribumi. Pemerintahan pribumi inilah yang bertugas memimpin langsung penduduk setempat guna memastikan jalannya kebijakan yang diambil pemerintah Hindia Belanda kala itu. Asisten Wedana Metro yang ditunjuk oleh pemerintah Hindia Belanda pertama kali yakni Raden Mas Sudarto (Kuswono dkk, 2020:100). 

Dikutip dari surat kabar De koerier yang terbit pada tanggal 20 November 1936 mewartakan bahwa di tengah hutan purba yang luas, sebuah pusat telah terbentuk yakni Metro, dengan sebuah pasanggrah- an bergaya Swiss di ‘aloon-aloon’, yang sendiri masih berada di tengah hutan, dan kemudian ada juga ru- mah untuk asisten wedana dalam masa pembangunan.

Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa di kawasan Metro terdapat rumah untuk seorang asisten wedana yang berada tepat di tengah. Di dekat rumah ini terdapat alun-alun, di kanannya terdapat klinik rawat jalan misi para suster Katolik Roma, di sebelah kirinya terdapat gudang, dan tepat di seberang jalan sebelah utara terdapat pesanggrahan (Soerabaijasch handelsblad 09-03-1938). 

Rumah yang menjadi kediaman Asisten Kewedanan Metro ini diresmikan pada tanggal 9 Juni 1937 sebagai simbol ibukota Kolonisasi Sukadana yang juga bersamaan dengan diresmikannya tugu peringatan keberhasilan Residen H.R. Rookmaker. Pada tahun 1938 diberitakan bahwa rumah ini adalah salah satu banguan utama, yang dirancang dengan gaya yang kokoh, dengan pendopo luas dan sejuk serta kamar dengan ukuran yang cukup baik (Soerabaijasch handelsblad 09-03-1938). 

Saat utusan Sultan Yogyakarta datang mengunjungi Metro  pada tahun yang sama, dikatakan pula bahwa para rombongan itu singgah di pendopo rumah asisten wedana. Pendopo itu digambarkan berwarna hijau dan oranye dihias dengan hiasan dan gaya, di mana potret besar Ratu Belanda didirikan di atas stand yang diapit oleh potret Sultan dan administrator Yogyakarta. Kedatangan para utusan ini dikabarkan untuk memberikan gamelan sebagai sebuah hadiah atas keberhasilan migrasi masyarakat Yogyakarta khususnya Bantul di tanah ini. Para rombongan dan tamu undangan yang hadir di rumah asisten wedana disuguhi pesta dengan meminum anggur diiringi alunan musik gamelan (Soerabaijasch handelsblad 09-03-1938). Rumah ini juga di gunakan sebagai tempat berkumpul masyarakat dan kegiatan publik lainnya. Bangunan kantor pos yang belum jadi, untuk sementara ditampung di garasi rumah asisten wedana ini (De locomotief 23-11-1939).

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI