Presiden ketiga B.J Habibie sempat sewot karena tak dianggap sebagai orang Jawa seperti Megawati Soekarnoputri.
Hal ini diceritakan oleh Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra yang kala itu pernah bekerja di Sekretariat Negara sebagai penulis pidato Presiden Soeharto dan B.J Habibie.
"Pak Habibie pernah panggil saya ke Bina Graha pada waktu itu, sebagai presiden saya kan Deputi Mensesneg saya bertanya-tanya, kenapa ya," ujar Yusril dalam perbincangannya di sebuah stasiun televisi nasional.
Menurut Yusril, Habibie memanggilnya untuk mempertanyakan kenapa dia tidak disebut orang Jawa padahal dia lebih Jawa ketimbang Megawati.
"[Habibie bilang] Yusril kenapa saya ini tidak disebut Jawa megawati kok Jawa, coba kalian pikir Bung Karno itu bapaknya itu orang Jawa ibunya orang Bali, berarti Bung Karno cuma setengah Jawa," ujar Yusril menirukan pernyataan Habibie.
"Megawati itu bapaknya Bung Karno yang setengah Jawa, ibunya orang Bengkulu, berarti Megawati cuman seperempat Jawanya, saya B.J Habibie bapak saya orang Gorontalo ibu saya 100 persen Jawa, berarti saya 50 persen lebih Jawa daripada Megawati," imbuhnya.
Menjawab pertanyaan Habibie, Yusril menjawab santai bahwa dalam politik tidak bisa segalanya dihitung secara matematis.
"Jadi saya bilang Pak Habibie, ini politis tidak bisa hitung-hitungan secara matematis," ujar Yusril.
"Jadi memang politik mtak bisa seperti itu, politik itu kan seni mengelola ekuasaan dan menimbang kebijakan," imbuhnya.
Baca Juga: All Quiet on the Western Front: Film Perang Dunia I dari Sudut Tentara Jerman
Lebih lanjut Yusril menyebutkan bahwa dalam politik setiap keputusan akan menimbulkan pro dan kontra.