Dualisme Arema bukan hanya terjadi di dalam klub kebanggan masyarakat Malang saja, tetapi juga sudah memecah masyarakat Malang menjadi 2 Aremania.
Pada Minggu (29/1) massa aksi Arek Malang menggeruduk kantor Arema FC dengan tuntutan agar klub mereka mundur dari kompetisi teratas Liga Indonesia, selang 2 hari tepatnya hari Selasa (31/1) kemarin Aremania di bawah komando Yuli Sumpil melakukan Aksi juga atas nama Aremania namun dengan tuntutan yang berbeda yakni eksistensi Arema FC tidak boleh hilang.
Hal ini membuat kalangan suporter kebingungan, kenapa dualisme juga terjadi di kubu Aremania.
Bahkan tidak sedikit yang mengkritik mengapa dualisme di kubu Arema berlangsung lama.
![Ribuan Aremania demonstrasi Tragedi Kanjuruhan dengan membawa keranda mayat. (BeritaJatim) [BeritaJatim]](https://media.suara.com/suara-partners/metro/thumbs/1200x675/2023/02/01/1-ribuan-aremania-demonstrasi-tragedi-kanjuruhan-dengan-membawa-keranda-mayat-beritajatim.jpg)
"Pantesan dualisme Arema FC awet seperti di formalin, lha wong sepoternya aja dualisme. Kemarin aksi arek Malang. Saiki aksi Aremania versi Yuli Sumpil," ujar seorang netizen, dikutip Rabu (1/2/2023).
"Udah bisa bilang Aremania yang mana belum?," tanya netizen lain.
"Arema yang mana? Aremania yang mana ?," ungkap netizen.
Pada (1/10/2022) terjadi tragedi yang sangat memilukan di Stadion Kanjuruhan, Malang, saat Arema FC bersua dengan rival mereka Persebaya Surabaya. Pada pertandingan tersebut Arema FC kalah 2-3 dari rival mereka.