Bos narkoba kelas kakap Fredy Pratama terus diburu polisi setelah buron sejak 2014. Fredy Pratama dijuluki sebagai Pablo Escobar Indonesia lantaran keterlibatannya dalam jaringan bisnis narkoba terbesar di Indonesia.
Dia memiliki cara licik menggendalikan sindikat narkoba hingga berhasil menggaet ratusan orang. Tak hanya di Indonesia, afiliasi narkotika Fredy Pratama juga ada di Malaysia.
Sindikat Fredy Pratama tiap bulannya mampu menyelundupkan ekstasi 100-150 ribu kilo. Ratusan orang pun telah diamankan setelah terbukti menjadi kaki tangan Pablo Escobar Indonesia.
Fredy Pratama yang saat ini masih buron diduga mengubah wajah untuk menyamarkan identitas diri. Sang gembong narkoba menjai buronan di empat negara yakni Indonesia, Malaysia, Thailand dan Amerika Serikat.
Mencuatnya nama Fredy Pratama tentu kembali mengingatkan publik pada gembong narkoba Freddy Budiman yang telah dieksekusi mati pada 29 Juli 2016.
Freddy Budiman lahir di Surabaya kemudian merantau ke Jakarta dan terlibat dalam kasus narkoba pertamanya pada 1997. Pada 2009, Freddy kembali ditangkap karena menyimpan 500 gram sabu-sabu dan divonis hukuman penjara.
Meski sempat bebas, Freddy kembali terlibat dalam peredaran narkoba. Pada 2011, ia ditangkap kembali karena memiliki ratusan gram sabu-sabu dan bahan pembuat ekstasi.
Pada 2012, setelah melalui proses persidangan yang panjang dan bukti yang cukup kuat, Pengadilan Negeri Jakarta Barat memvonis hukuman mati Freddy karena terlibat dalam kasus impor 1,4 juta butir pil ekstasi dari Tiongkok.
Aksi nekat ini dilakukan ketika Freddy masih berada dalam penjara. Pil ekstasi ini dibungkus dalam kemasan teh dan diperkirakan bernilai miliaran rupiah.
Baca Juga: SILO Komitmen Tingkatkan LayananDigital Melalui Aplikasi MySiloam
Salah satu hal yang mengejutkan dalam kasus Freddy Budiman adalah kemampuannya untuk terus mengendalikan operasi narkoba bahkan ketika berada di dalam penjara.
Pada 2013, Freddy Budiman bahkan membuat pabrik sabu di dalam Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Cipinang. Bisnis ini mampu menghasilkan dua kilogram sabu siap edar setiap kali produksi.
Akhirnya pada 29 Juli 2016, Freddy Budiman dieksekusi di Nusakambangan, Jawa Tengah.
Adapun Escobar merupakan panggilan dari gembong narkoba asal Kolombia Pablo Emilio Escobar Gaviria. Dia adalah raja narkoba yang mendirikan Kartel Medellin yang beroperasi pada era 1980 hingga 1990-an di Amerika Selatan. Escobar disebut sebagai otak dari penyelundupan dan perdagangan kokain terbesar di Amerika Serikat.