Namanya menjadi benchmark pencapaian aktris Indonesia di dunia perfilman. Blak-blakan, ia tidak jatuh cinta instan pada film.
Berbincang bersama Denny Sumargo dalam podcast Woy Curhat Bang! aktris legendaris Tanah Air Christine Hakim menyatakan bahwa film bukanlah cita-cita utamanya.
Ia ingin menjadi arsitek dan psikolog, itu pun keinginan setelah berusia cukup dewasa. Sedang keinginan di masa kecil adalah, "Menjadi orang yang baik, that's all."
Itu sebabnya, saat menggeluti dunia modelling dan pemotretan di usia sekira 14 hingga 16 tahun Christine Hakim hampir melewatkan kesempatan untuk bermain film. Termasuk saat sutradara kenamaan Teguh Karya serta aktor nomor satu Indonesia saat itu, Slamet Rahardjo Djarot bertandang dua kali ke rumahnya, yang menemui adalah ibunya karena ia tengah bepergian.
"Baru kemudian, saya diantar abangnya Mama, saya menemui Pak Teguh untuk menyampaikan sendiri mau atau menolak main film. Karena ibu saya tidak enak, mereka sudah datang bertamu lebih dari sekali," lanjut Christine Hakim.
Namun saat disambut Teguh Karya dan kru film di kawasan Kebon Kacang, Jakarta Pusat, lengkap dengan suasana kehangatan sebuah keluarga, Christine muda yang belum berusia 17 tahun serasa "ditembak" dan "terhipnotis" akhirnya setuju main film.
Judulnya Cinta Pertama dan langsung berhasil meraih Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) 1974 sebagai Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Pemeran Utama Wanita dengan Pujian (The Best Actress).
Film kedua bersama sutradara Sjuman Djaya, bertajuk Atheis. Kembali datang ke rumah, sehingga tidak bisa menolak. Akan tetapi kru serabutan, sehingga kurang rasa mengayomi, membuat Ibu yang saat itu baru berusia 17 menangis dan minta didampingi ibunya saat shooting agar lebih secure.
Film ketiga, ketemu Teguh Karya lagi, dan Christine Hakim tidak bisa menolak. Demikian juga lawan main tetap Slamet Rahardjo Djarot, berjudul Kawin Lari.
![Christine Hakim [(imdb)]](https://media.suara.com/suara-partners/metro/thumbs/1200x675/2023/09/27/1-film-populer-christine-hakim-imdb.jpg)
"Nah, di situ Ibu baru jatuh cinta sama film," papar Christine Hakim.
"Karena di situ Ibu baru tahun dan enyadari, ternyata untuk jadi seorang aktris harus smart, ada pengalaman hidupnya. Ternyata tidak mudah, film sendiri sarat dengan ilmu pengetahuan, teknologi, psikologi, politik, sosial, bahkan struktur berpikir. Makanya bila di luar negeri sana seorang aktor sampai dianggap seperti dewa, bisa paham," tukas juri festival film Cannes 2002 serta film yang dibintanginya, bertajuk Tjoet Nja' Dhien memenangkan penghargaan Festival Film Cannes 1989 sebagai Best International Film.
Menurut perempuan yang beradu akting dengan bintang Hollywood, Julia Robert di Eat, Pray, Love ini, menjadi aktor atau aktris tidak mudah.
"Jangan disangka kalau sudah bisa menangis kemudian tertawa terbahak-bahak maka bisa disebut good actor," tandasnya.
Menurutnya, kemampuan akting ada dalam rasa. Tidak hanya menampilkan gesture, air mata, atau sebatas bermain film. Tuntutan dari peran, jauh berbeda dari kehidupan pribadi kita serta perlu riset.