Mau kritik, usahakan konstruktif. Ini pandangan Coach Justin soal pengkritik STY.
Seperti mata uang dua sisi, Coach Shin Tae-yong sebagai sosok pelatih Timnas Indonesia dipuji sekaligus dikritik. Pujian dialamatkan karena pelatih asal Korea Selatan itu mampu membawa para pemain kita meraih posisi terhormat dalam persepakbolaan kelas dunia. Sementara kritikan melayang karena dirasakan kepelatihannya belum tuntas. Seperti masih menggapai gelar juara dan seterusnya.
Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir sampai menyampaikan kritikan bagi para pelatih sepak bola jangan sampai dialamatkan kepada keluarga para coach. Mulai Bima Sakti, Indra Sjafri, sampai Shin Tae-yong.
Kritik paling positif tentu saja bernilai konstruktif. Namun yang negatif sebaiknya dienyahkan karena kontra-produktif dan tidak memberikan solusi.
Dikutip dari Yoursay Suara.com, beberapa saat lalu Coach Justin alias Justinus Laksana angkat bicara soal Shin Tae-yong dikritik Bung Towel.
Bung Towel alias Tommy Welly meminta STY atau Shin Tae-yong segera undur diri karena pelatih ini tidak mampu membawa Indonesia menjuarai Piala AFF. Ditambahkannya, tolok ukur sebuah prestasi adalah perolehan piala.
Dan ia tidak melihat ada trofi bertengger di samping Coach Shin. Padahal piala AFF sangat penting bagi masyarakat Indonesia.
Coach Justin mempertanyakan: masyarakat manakah yang merasa trofi AFF itu penting?
![Coach Justin [Screenshot YT HAS Creative]](https://media.suara.com/suara-partners/metro/thumbs/1200x675/2023/09/30/1-coach-justin.jpg)
"Kalau ada orang yang mengatakan bahwa piala AFF itu penting bagi masyarakat, maka tunjukkan pada saya masyarakat yang mana," ujar Coach Justin dikutip dari kanal YouTube atas nama akun @sportnews.
Menurutnya, semua orang mengetahui ketidakberhasilan Timnas Indonesia menjadi juara Piala AFF 2023 karena dicurangi wasit.
Keputusan wasit yang merugikan Timnas Indonesia sudah terlihat sejak di laga awal penyisihan grup. Yaitu saat kita menghadapi Malaysia dalam pertandingan pembuka.
Saat itu Timnas Indonesia harus kalah dengan skor akhir 0-1 karena Malaysia mendapatkan hadiah tendangan penalti, padahal pemainnya, Fergus Tierney terjatuh karena diving. Pembelaan wasit adalah Kadek Arel dari Timnas Indonesia yang melanggar pemain Negeri Jiran itu.
Kemudian wasit sama juga mengganjar Shin Tae-yong dengan kartu kuning karena protes.
Walaupun dicurangi oleh wasit, untungnya Timmas Indonesia masih bisa lolos lewat ke babak selanjutnya melalui jalur runner-up terbaik.
Sayangnya di babak final, wasit sama membuat keputusan yang banyak merugikan Timnas Indonesia. Ia memberikan hadiah penalti kepada Vietnam, karena menganggap Alfeandra Dewangga melanggar Nguyen Minh Quang.
Silakan melihat tayangan ulang, tampak jelas kontak yang terjadi antara keduanya sangat minim. Sehingga tidak layak diganjar hukuman penalti.
Hal berbeda dirasakan Timnas Indonesia saat dilanggar dan sama sekali tidak dihiraukan si wasit. Yaitu Nguyen Hong Phuc menghajar kepala Haykal Al Hafiz sangat keras.
Wasit tidak memberikan hukuman apapun kepada sang pemain, alih-alih kartu merah, kartu kuning saja tidak.
Kemudian kekalahan Timnas Indonesia berikutnya disebabkan formasi tidak lengkap. Termasuk absennya Marselino Ferdinan, Elkan Baggott, Ivar Jenner dan Rafael Struick.
Maka bisa lolos sampai ke final dengan skuad pas-pasan saja sebenarnya sebuah dianggap sebagai sebuah pencapaian yang sangat baik.