Pengobatan ala Ida Dayak kini tengah viral dan digandrungi banyak orang. Lantas bagaimana akademisi kedokteran Tanah Air menyikapi fenomena tersebut?
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, membludaknya pengobatan alternatif Ida Dayak disebabkan oleh dua hal.
Pertama karena faktor mudahnya informasi untuk diviralkan. Lalu tingginya kebutuhan warga untuk sembuh dari penyakitnya.
Menurut Prof. Ari, penyebaran informasi saat ini begitu cepat, sehingga segala informasi mudah diviralkan.
Ia pun mengambil contoh kasus pengobatan yang dilakukan Ponari. Saat itu, informasi mengenai hal itu hanya tersebar dari mulu ke mulut semata.
"Dengan batu yang dimasukkan dalam air, orang merasa lebih nyaman dan sehat ketika mengonsumsi air tersebut. Informasi itu tersebar dari mulut ke mulut dan tidak semasif sekarang."
"Sementara, untuk fenomena Ida Dayak, informasinya tersebar dan viral, sehingga masyarakat berbondong-bondong ke sana," ujarnya.
Selain itu, fenomena ini juga menunjukkan tingginya upaya masyarakat untuk sembuh dari penyakit melalui segala cara, termasuk menjalani pengobatan alternatif.
Masyarakat masih percaya bahwa terapi tradisional bisa mengatasi kondisi sakitnya.
Baca Juga: 7 Alasan Pengobatan Alternatif Ida Dayak Diserbu Ribuan Orang
"Saya rasa wajar saja keinginan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan di situ. Tapi tentu akhirnya masyarakat sendiri yang menilai apakah ia benar-benar mendapatkan manfaat yang dibutuhkan atau hanya manfaat plasebo atau semu saja."
"Jadi, itu dikembalikan lagi kepada masyarakat," kata Prof Ari Fahrial.
Dari video-video pengobatan Ida Dayak yang beredar di media sosial, Ari melihat adanya proses pengurutan dengan menggunakan minyak sebagaimana yang biasa dilakukan dalam pengobatan alternatif.
Metode ini sering dilakukan oleh para pengobatan tradisional atau terapi alternatif untuk merelaksasi otot.
Misalnya pada penderita keseleo dan salah urat, pada bayi setelah selesai dimandikan, serta pada ibu hamil untuk melancarkan persalinannya.
Dalam sejarah perkembangan ilmu kedokteran, dahulu pendekatan diagnosis dan terapi dilakukan dengan menggunakan kedokteran intuitif.