Tangis Midun pecah saat ia tiba di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senin 14 Agustus 2023. Ia sujud syukur di depan SUGBK, meski tak bisa masuk ke dalam stadion.
Laki-laki tua berumur 52 tahun itu jadi sorotan setelah menjalani misi mencari keadilan tragedi Kanjuruhan yang tewaskan 153 orang.
Pak Midun kayuh sepeda miliknya dari kota Batu, Malang menuju Jakarta. Ia mengemban misi menuntut tragedi Kanjuruhan masuk dalam kategori pelanggaran HAM berat.
Di sepeda yang ia kayuh terdapat keranda bertuliskan "Justice for Kanjuruhan" "Footbal Without Violence". Terdapat juga papan kardus berisi pesan untuk presiden Jokowi.
Setelah berhari-hari di jalan dan lalui ratusan kilometer dengan sepeda, Midun akhirnya tiba di Jakarta. Sayang saat tiba di SUGBK, ia tak mendapat akses untuk masuk.
"Saya merasakan haru saat pak Midun sujud di depan GBK. Membayangkan lelahnya, membayangkan perjuangannya, membayangkan harapannya yang masih belum ada titik terang. Membayangkan keluarga korban yang belum mendapatkan keadilan yang diinginkan," tulis caption video akun Twitter @InfosuporterID
Fakta yang lebih miris, Midun ternyata bukan dari keluarga korban tragedi Kanjuruhan. Statusnya pun ASN di Pemkot Batu.
Midun nekat melakukan aksinya ini karena ingin menyuarakan pesan perdamaian sebagai warga Malang dan menuntut tragedi Kanjuruhan yang tewaskan 153 orang ditetapkan pemerintah sebagai pelanggaran HAM berat.
Jika merujuk pada Google Map, Midun praktis akan menempuh 760 KM dari Malang menuju Jakarta. Ia bakal habiskan kurang lebih 156 jam untuk bisa menyuarkan keadilan untuk tragedi Kanjuruhan.
Baca Juga: Lalui 722 KM Bersepeda, Pak Midun Tiba di Kota Bekasi: Tuntut Keadilan Tragedi Kanjuruhan
"Yang jelas (alasan gowes dari Malang ke Jakarta) itu apakah tragedi Kanjuruhan sudah dibuat kesimpulan hukum tetap? 135 nyawa kesimpulannya seperti itu?,” kata Midun seperti dikutip dari SuaraBekaci.id