Yasser Arafat, Pahlawan Palestina yang Meninggal Karena Diracun?

Ruben Setiawan

Minggu, 24 Agustus 2014 | 09:00 WIB
Yasser Arafat, Pahlawan Palestina yang Meninggal Karena Diracun?
Yasser Arafat. (Shutterstock)

Suara.com - Hari ini, 85 tahun silam, Yasser Arafat lahir di Kairo, Mesir. Arafat merupakan tokoh perjuangan Palestina melawan pendudukan Israel. Lelaki yang gemar memakai keffiyeh (penutup kepala) bermotif hitam putih itu memimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sejak tahun 1969 hingga kematiannya pada tahun 2004.

Saat berumur empat tahun, ibunda Arafat meninggal dunia. Ia pun dipulangkan ke ke Yerusalem untuk tinggal bersama seorang paman. Empat tahun berselang, ia kembali ke Kairo, berkumpul lagi dengan ayahnya. Sayang hubungan mereka tidak berjalan baik, justru kian memburuk karena sang ayah sering memukulinya. Penyebabnya, Arafat kerap menyelinap dan bergabung dengan pusat studi Yahudi di Kairo, hanya karena dia penasaran dan ingin mempelajari mentalitas Yahudi.

Sejak muda, Arafat sudah melakukan perlawanan terhadap Israel, meski belum secara langsung. Ia menyelundupkan senjata dari negara-negara Arab bagi Palestina untuk memerangi Yahudi dan Inggris, yang kemudian mendirikan negara Israel di tanah Palestina.

Pada tahun 1958, Arafat, bersama sejumlah koleganya di Kuwait, membentuk Fatah, gerakan bawah tanah yang menghimpun kekuatan guna melawan Israel. Arafat mencoba independen dengan Fatah-nya. Ia tak meminta sumbangan dari negara-negara Arab seperti Saudi atau Suriah. Fatah menggalang dana dan dukungan dari pengusaha-pengusaha kaya Palestina yang berada di luar negeri. Sejak saat itu, Fatah melakukan serangan-serangan pada Israel. Namun, minimnya pelatihan membuat mereka kerap gagal.

Pergerakan mereka mulai diperhitungkan ketika pada tahun 1969, Arafat akhirnya menjadi pimpinan komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang sudah ada sebelum Fatah. Dalam perjuangannya, basis PLO berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Pertama kali adalah di Yordania. Dengan personel yang semakin bertambah, PLO kerap mengalami gesekan dengan pemerintah Yordania. Puncaknya, mereka diminta keluar oleh penguasa Yordania kala itu, Raja Hussein. Mereka pun menyeberang ke Lebanon dan melakukan perlawanan terhadap Israel dari negeri tersebut.

Pengeboman, penembakan, dan pembunuhan warga Israel adalah yang mereka lakukan kala itu. Yang paling jadi sorotan adalah pembunuhan sebelas atlit Israel dalam ajang Olimpiade Munich tahun 1972. Namun, Arafat membantah terlibat dan menuding aksi tersebut adalah inisiatif Black September, salah satu kelompok bentukan PLO.

Keluar dari Lebanon, lagi-lagi lantaran gesekan dengan pemerintah, Arafat mencetuskan gerakan intifada, gerakan protes melawan okupasi Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Demo, pelemparan batu, bom molotov, hingga pembakaran ban adalah metode yang umum mereka lakukan, bahkan hingga kini.

Tahun 1988 jadi titik bali bagi Arafat dan PLO. Memberikan pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa, Arafat menekankan perwujudan perdamaian di Timur Tengah. Maka disepakatilah proses perdamaian melalui Piagam Oslo pada tahun 1993 yang memperbolehkan dibentuknya pemerintahan Palestina dengan Arafat sebagai presidennya. Atas kesepakatan itu, Arafat, bersama petinggi Israel kala itu, Shimon Peres dan Yitzhak Rabin, sama-sama meraih hadiah Nobel Perdamaian.

Namun, perdamaian yang sesungguhnya tak pernah tercipta di kawasan itu. Berulang kali terjadi bentrokan, termasuk gerakan intifada kedua yang dilancarkan pada tahun 2000. Pada tahun 2004, Arafat yang dikurung Israel dan AS dalam rumahnya menderita sakit. Awalnya hanya gejala seperti flu, namun karena kondisinya yang kian parah, Arafat dibawa ke Paris, Prancis. Namun, garis nasib berkata lain, Arafat meninggal sebulan kemudian, tepatnya pada 11 November 2004.

Menyusul penemuan zat radioaktif di sejumlah benda pribadi Arafat, penyebab kematiannya pun memunculkan tanda tanya. Pada tahun 2013, tim ahli forensik dari Prancis, Swiss, dan Rusia membongkar makam Arafat. Tim Swiss, seperti dikutip Al Jazeera, menemukan zat beracun polonium dalam tulang rusuk Arafat dalam kadar yang cukup mematikan. Laporan serupa juga ditemukan oleh tim ahli dari Prancis. Namun, baik tim dari Swiss maupun Prancis tak berani menyimpulkan bahwa Arafat meninggal akibat racun. Yang berbeda sama sekali adalah laporan dari tim forensik Rusia. Menurut mereka, Arafat meninggal secara alami, namun tidak menyebutkan secara rinci apa penyebabnya.

Sampai saat ini, setiap rakyat Palestina, apapun ideologi atau faksinya, menganggap Arafat sebagai pahlawan pejuang perdamaian sekaligus martir yang menjadi simbol perjuangan melawan negara Zionis Israel.

Anda pasti juga tertarik dengan kisah mereka:

Fidel Castro, 638 Kali Hampir Mati di Tangan CIA
Nelson Mandela, "Bapak Bangsa" Pecinta Batik Indonesia
Ayatollah Khamenei, Sebut Israel Sebagai "Kanker"
Benito Mussolini, Luar Biasa Benci Pada Yahudi
Barack Obama, Presiden yang Suka "Selfie"
Deng Xiaoping, Tangannya Berlumuran Darah Manusia tak Berdosa?

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Terkini

Bukan Sekadar Teror, Polisi Didesak Sikat Otak Penyerangan Andrie Yunus!

Bukan Sekadar Teror, Polisi Didesak Sikat Otak Penyerangan Andrie Yunus!

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:32 WIB

YLKI Minta Kepala BGN Baru Siapkan Trauma Healing bagi Korban Keracunan MBG

YLKI Minta Kepala BGN Baru Siapkan Trauma Healing bagi Korban Keracunan MBG

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:23 WIB

Tak Bisa Asal Masuk! Polisi Jabat di Kementerian Wajib Ikuti Open Bidding dan Seleksi Ketat

Tak Bisa Asal Masuk! Polisi Jabat di Kementerian Wajib Ikuti Open Bidding dan Seleksi Ketat

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:17 WIB

Bantuan Beras 10 Kg Diperpanjang, Siapa Sapa Penerimanya

Bantuan Beras 10 Kg Diperpanjang, Siapa Sapa Penerimanya

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:11 WIB

Tak Ada Lagi 'Beda Nasib', Jalan Bopeng di Bawah Flyover UI Kini Mulai Mulus usai Depok Turun Tangan

Tak Ada Lagi 'Beda Nasib', Jalan Bopeng di Bawah Flyover UI Kini Mulai Mulus usai Depok Turun Tangan

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:01 WIB

Dokumen Negara Tercecer di Jalanan BSD, Imigrasi: Itu Paspor Haji Milik Kemenhaj Tangsel

Dokumen Negara Tercecer di Jalanan BSD, Imigrasi: Itu Paspor Haji Milik Kemenhaj Tangsel

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:00 WIB

3,5 Jam Rekonstruksi Kasus Little Aresha: Terungkap Siksaan ke Anak Atas Instruksi Ketua Yayasan

3,5 Jam Rekonstruksi Kasus Little Aresha: Terungkap Siksaan ke Anak Atas Instruksi Ketua Yayasan

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 15:46 WIB

Kapolri Listyo soal UU Baru Polri: Presiden Ingin Polri Terlibat di Hal-hal Kepentingan Nasional

Kapolri Listyo soal UU Baru Polri: Presiden Ingin Polri Terlibat di Hal-hal Kepentingan Nasional

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 15:42 WIB

Sudah 37 Ribu Anak Keracunan MBG, YLKI Tantang Nanik S Deyang: 100 Hari Pertama Harus Nol Kasus!

Sudah 37 Ribu Anak Keracunan MBG, YLKI Tantang Nanik S Deyang: 100 Hari Pertama Harus Nol Kasus!

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 15:27 WIB

Jaksa Tuding Nadiem Makarim Sembunyikan Kendali di Gojek Lewat Surat Kuasa

Jaksa Tuding Nadiem Makarim Sembunyikan Kendali di Gojek Lewat Surat Kuasa

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 15:15 WIB