Lima Catatan ICW Soal Dampak Revisi UU KPK

Ardi Mandiri, Agung Sandy Lesmana

Minggu, 21 Juni 2015 | 15:37 WIB
Lima Catatan ICW Soal Dampak Revisi UU KPK
ICW. (Suara.com/ Agung Sandy

Suara.com - Indonesia Corruption Watch (ICW) curiga wacana soal revisi Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hanya sebagai upaya melemahkan KPK. Untuk itu, ICW telah memberikan lima catatan penting terkait adanya usulan pembahasan UU tersebut.

Pertama, mengenai pencabutan kewenangan tersebut. Divisi Hukum dan Peradilan Monitoring ICW, Lalola Easter, mengatakan, penyadapan merupakan salah satu kewenangan KPK yang dimandatkan dalam undang-undang.

Bahkan dia menilai penyadapan merupakan senjata ampuh KPK dalam membongkar kasus-kasus besar terutama suap.

"Banyak kasus besar terungkap melalui penyadapan seperti kasus LHI dan Angelina Sondakh," kata Lalola Easter, di kantor ICW di Jakarta Selatan, Minggu (21/6/2015).

Kedua, mengenai penghapusan kewenangan penuntut KPK. Menurutnya, disatukannya kewenangan penyelidikan dan penyidikan serta penuntutan dalam KPK untuk mempercepat proses penanganan kasus korupsi.

"Sejauh ini sering terjadi bolak-balik antara kepolisian dan kejaksaan dalam penuntutan perkara sehingga penuntasannya memakan waktu lama,"katanya.

Selanjutnya, kata dia mengenai adanya wacana untuk membentuk dewan pengawas untuk memonitor kerja KPK.

"Pembentukan dewan pengawasan juga tidak relevan, karena saat ini KPK sudah diawasi banyak pihak seperti pegawasan internal maupun eksternal," kata dia.

Kemudian, terkait adanya rumusan kolektif kolegial di pimpinan KPK. ICW menilai pengaturan tentang kolektif  kolegial  hanya akan mempersulit kerja-kerja KPK dalam memberantas korupsi.

"Bahwa makna kolektif kolegial tak dapat diartikan secara keseluruhan komisioner KPK," katanya.

Terakhir, dalam rencana revisi UU ini, KPK, kata dia diberikan kewenangan untuk menghentikan perkara. Menurutnya, sejauh ini  KPK tidak diberikan kewenangan untuk menghentikan penyidikan dan penuntutan kasus korupsi. Hal ini, menurutnya memaksa KPK untuk sangat hati-hati dalam memeriksa perkara korupsi.

"Upaya ini terbukti dengan prestasi 100% conviction rate KPK yang berhasikl membukikan perkara korupsi di persidangan," katanya.

Dengan ini, kata dia, dikhawatirkan akan berdampak terhadap matinya perlawanan pegiat antikorupsi di Indonesia.

"Dari kelima isu krusial tersebut apabila diakomodir dapat menimbulkan banyak dampak seperti mandulnya kasus korupsi yang semakin canggih dan terselubung," kata Lola.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

ICW Kecam Pemerintah Terkait Revisi UU KPK

ICW Kecam Pemerintah Terkait Revisi UU KPK

News | Minggu, 21 Juni 2015 | 14:57 WIB

Jokowi Tolak Revisi UU KPK, JK: Tujuannya Sama, Perbaikan

Jokowi Tolak Revisi UU KPK, JK: Tujuannya Sama, Perbaikan

News | Minggu, 21 Juni 2015 | 06:58 WIB

Surya Paloh Setuju Saja Jika UU KPK Direvisi

Surya Paloh Setuju Saja Jika UU KPK Direvisi

News | Sabtu, 20 Juni 2015 | 21:04 WIB

KPK: Jokowi Tolak Revisi UU KPK

KPK: Jokowi Tolak Revisi UU KPK

News | Jum'at, 19 Juni 2015 | 20:16 WIB

Terkini

Kemnaker Buka Pelatihan Vokasi untuk Korban PHK 20242026, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

Kemnaker Buka Pelatihan Vokasi untuk Korban PHK 20242026, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

Bisnis | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:45 WIB

Jenazah Perempuan Tanpa Identitas Ditemukan di Pantai Nyang-Nyang Bali, Diduga WNA

Jenazah Perempuan Tanpa Identitas Ditemukan di Pantai Nyang-Nyang Bali, Diduga WNA

Bali | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:58 WIB

Persis Solo Tertahan di Manahan, Bermain Imbang Kontra RANS Nusantara FC

Persis Solo Tertahan di Manahan, Bermain Imbang Kontra RANS Nusantara FC

Surakarta | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44 WIB

Bus Colt Diesel Mundur Tak Terkendali, Tabrak Tembok dan Atap Bengkel di Babakan Madang

Bus Colt Diesel Mundur Tak Terkendali, Tabrak Tembok dan Atap Bengkel di Babakan Madang

Bogor | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:37 WIB

Ajang Olahraga Buka Peluang Ekonomi bagi UMKM, Gubernur Dorong Pasar Malam

Ajang Olahraga Buka Peluang Ekonomi bagi UMKM, Gubernur Dorong Pasar Malam

Bisnis | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:30 WIB

Kader PSI Kabupaten Bogor Desak Jokowi Masuk Jajaran Pengurus DPP

Kader PSI Kabupaten Bogor Desak Jokowi Masuk Jajaran Pengurus DPP

Jabar | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:29 WIB

Tak Cuma Manis dan Creamy, Ini yang Bikin Kopi Susu Gula Aren Kian Digemari

Tak Cuma Manis dan Creamy, Ini yang Bikin Kopi Susu Gula Aren Kian Digemari

Lifestyle | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:55 WIB

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

News | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:51 WIB

Sarkemfest 2026 Tak Sekadar Pesta, UMKM Lokal Didorong Ketiban Berkah Wisata Malioboro

Sarkemfest 2026 Tak Sekadar Pesta, UMKM Lokal Didorong Ketiban Berkah Wisata Malioboro

Jogja | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:37 WIB

Celah Keamanan Server Email Terbuka, Organisasi Diminta Bergerak dalam 2472 Jam

Celah Keamanan Server Email Terbuka, Organisasi Diminta Bergerak dalam 2472 Jam

Tekno | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:35 WIB

×