Bancakan Korupsi e-KTP, Haris: Presiden Harus Segera Bersikap

Rizki Nurmansyah, Bagus Santosa

Minggu, 12 Maret 2017 | 16:16 WIB
Bancakan Korupsi e-KTP, Haris: Presiden Harus Segera Bersikap
Koalisi Masyarakat Sipil Prihatin Mega Korupsi E-KTP menyampaikan pendapat di depan kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Minggu (12/3/2017). [Suara.com/Bagus Santosa]

Suara.com - Sejumlah perwakilan dari lembaga swadaya masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Prihatin Mega Korupsi e-KTP menyampaikan pendapat di depan kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Minggu (12/3/2017).

Dalam aksi ini, mereka menuntut supaya kasus korupsi yang merugikan negara Rp2,3 triliun ini diungkap secara tuntas. Apalagi, kasus ini melibatkan puluhan pejabat negara, baik dari kalangan pemerintah ataupun legislator.

"Presiden harus menonaktifkan nama-nama pejabat, termasuk meminta lembaga yaitu DPR ‎untuk menonaktifkan sejumlah nama anggota DPR supaya pemeriksaan di KPK lancar. Kemudian, meminta KPK untuk menyegerakan pemeriksaan terhadap nama-nama yang disebut ini," kata perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil Prihatin ‎Mega Korupsi e-KTP, Haris Azhar, di lokasi.

"Jangan dikasih angin orang-orang ini, presiden harus segera bersikap," tambah Koordinator ‎Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) ini.

Haris menambahkan, korupsi e-KTP dianggapnya sebagai aksi kriminal yang terkonsolidasi oleh seluruh partai politik. Sebab, sambungnya, sejumlah nama beken yang merupakan politisi dari sejumlah partai politik, namanya disebut dalam kasus ini.

Apalagi, kerugian negara yang ditimbulkan dari korupsi ini negara sangat besar. Karenanya, dia takut, kasus ini menumbuhkan kebencian publik terhadap agenda pembangunan nasional.

"Karena ini memalukan bangsa. Kalau kita diam, kita bisa dikucilkan dalam pergaulan internasional," katanya.

Selain itu, Haris mengatakan, Ombudsman juga seharusnya bertindak dalam kasus ini. Sebab, buntut dari bancakan korupsi proyek e-KTP membuat pelayanan pengurusan data kependudukan menjadi kurang optimal.

"Mereka harus mengaudit ini. Karena duitnya dicolong, (pelayanan) e-KTP lambat. Karena dia kan bagian pemantuan pelayanan publik," ujar dia.

baca juga

Dalam kasus e-KTP ini, puluhan anggota Komisi II DPR periode 2009-2014 disebut menerima bancakan dari uang yang dianggarkan dalam proyek e-KTP.‎

Hal itu terungkap dari dakwaan mantan pejabat Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, Sugiharto, dan Irman, yang dibacakan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (9/3/2017).

Berikut daftar nama-nama yang disebut menerima bancakan tersebut, diantaranya:

Demokrat:
-Anas Urbaningrum sejumlah 5,5 juta dolar AS
-Marzuki Alie sejumlah Rp 20 miliar (saat itu menjabat sebagai Ketua DPR)
‎-Ignatius Mulyono sejumlah 258.000 dolar AS
-Taufiq Effendi sejumlah 103.000 dolar AS
‎-Khatibul Umam Wiranu sejumlah 400.000 dolar AS
-M Jafar Hafsah sejumlah 100.000 doar AS
-Mirwan Amir sejumlah 1,2 juta dolar AS

PDIP:
-Olly Dondokambey sejumlah 1,2 juta dolar AS
-Arif Wibowo sejumlah 108.000 dolar AS
-‎Ganjar Pranowo sejumlah 520.000 dolar AS
-Yasonna Laoly sejumlah 84.000 dolar AS (kini Menteri Hukum dan HAM di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo)

Golkar:
-‎Ade Komarudin sejumlah 100.000 doar AS‎
-Melcias Marchus Mekeng (saat itu Ketua Banggar DPR) sejumlah 1,4 juta dolar AS
‎-Chaeruman Harahap sejumlah 584.000 dolar AS dan Rp 26 miliar
‎-Markus Nari sejumlah Rp 4 miliar dan 13.000 dolar AS
-‎Agun Gunandjar Sudarsa sejumlah 1,047 juta dolar AS
-Mustokoweni sejumlah 408.000 dolar AS‎

PKS:
-Tamsil Linrung sejumlah 700.000 dolar AS
‎-Jazuli Juwaini selaku Kapoksi pada Komisi II DPR RI sejumlah 37.000 dolar AS

PAN:
-Teguh Juwarno sejumlah 167.000 dolar AS

Gerindra:
-Rindoko selaku Kapoksi pada Komisi II DPR sejumlah 37.000 dolar AS

Hanura:
-Miryam S Haryani sejumlah 23.000 dolar AS
-Djamal Aziz selaku Kapoksi pada Komisi II DPR sejumlah 37.000 dolar AS

‎PPP:
-Nu'man Abdul Hamid selaku Kapoksi pada Komisi II DPR sejumlah 37.000 dolar AS

PKB:
-Abdul Malik Haramain selaku Kapoksi pada Komisi II DPR RI sejumlah 37.000 dolar AS

Kemudian;
-Gamawan Fauzi (saat itu Menteri Dalam Negeri) sejumlah 4,5 juta dolar AS dan Rp 50 juta
-Diah Anggraini (saat itu Sekretaris Jenderal Kemendagri) sejumlah 2,7 juta dolar AS dan Rp 22,5 juta
-Drajat Wisnu Setyawan (Ketua Panitia Pengadaan E-KTP) sejumlah 615.000 dolar AS dan Rp 25 juta
-Enam anggota panitia lelang, masing-masing sejumlah 50.000 dolar AS
-Husni Fahmi sejumlah 150.000 dolar AS dan Rp 30 juta
‎-Abraham Mose, Agus Iswanto, Andra Yastriansyah Agussalam, dan Darman Mappangara selaku direksi PT LEN Industri masing-masing mendapatkan sejumlah Rp 1 miliar
-Wahyuddin Bagenda selaku Direktur Utama PT LEN Industri sejumlah Rp 2 miliar
-Johannes Marliem sejumlah 14.880.000 dolar AS dan Rp 25.242.546.892
-Beberapa anggota tim Fatmawati, yakni Jimmy Iskandar Tedjasusila alias Bobby, Eko Purwoko, Andi Noor, Wahyu Setyo, Benny Akhir, Dudi, dan Kurniawan masing-masing sejumlah Rp 60 juta
-Manajemen bersama konsorsium PNRI sejumlah Rp 137.389.835.260
-Perum PNRI sejumlah Rp 107.710.849.102
-PT Sandipala Artha Putra sejumlah Rp 145.851.156.022
-PT Mega Lestari Unggul yang merupakan holding company PT Sandipala Artha Putra sejumlah Rp148.863.947.122
-PT LEN Industri sejumlah Rp 20.925.163.862
-PT Sucofindo sejumlah Rp 8.231.289.362
-PT Quadra Solution sejumlah Rp 127.320.213.798,36

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

KPK Dinilai Tepat Usut Kasus e-KTP Tahun Ini

KPK Dinilai Tepat Usut Kasus e-KTP Tahun Ini

News | Sabtu, 11 Maret 2017 | 19:36 WIB

JK: Kasus E-KTP Tak Sebabkan Guncangan Politik

JK: Kasus E-KTP Tak Sebabkan Guncangan Politik

News | Sabtu, 11 Maret 2017 | 17:29 WIB

Marzuki Alie Yakin 100 Persen Tak Terlibat Kasus Korupsi e-KTP

Marzuki Alie Yakin 100 Persen Tak Terlibat Kasus Korupsi e-KTP

News | Sabtu, 11 Maret 2017 | 14:50 WIB

Menkumham Terseret e-KTP, Jokowi Serahkan ke KPK

Menkumham Terseret e-KTP, Jokowi Serahkan ke KPK

News | Sabtu, 11 Maret 2017 | 14:42 WIB

Jokowi Akui Korupsi e-KTP Jadi Masalah Besar

Jokowi Akui Korupsi e-KTP Jadi Masalah Besar

News | Sabtu, 11 Maret 2017 | 13:45 WIB

PDIP Persilakan KPK Ungkap Kasus Korupsi e-KTP

PDIP Persilakan KPK Ungkap Kasus Korupsi e-KTP

News | Sabtu, 11 Maret 2017 | 13:36 WIB

Marzukie Alie Tak Menyangka Dirinya Terseret Kasus e-KTP

Marzukie Alie Tak Menyangka Dirinya Terseret Kasus e-KTP

News | Sabtu, 11 Maret 2017 | 12:06 WIB

Terkini

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:57 WIB

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

News | Rabu, 30 September 2026 | 23:12 WIB

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 22:41 WIB

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Sumsel | Rabu, 30 September 2026 | 22:34 WIB

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Sumut | Rabu, 30 September 2026 | 22:20 WIB

JALA PRT Soroti Pengajuan JR UU PPRT, Minta Pemohon Pahami Proses Pembentukan UU

JALA PRT Soroti Pengajuan JR UU PPRT, Minta Pemohon Pahami Proses Pembentukan UU

News | Rabu, 30 September 2026 | 22:15 WIB

Gus Kikin Umumkan Susunan Pengurus PBNU: Gus Ipul Waketum, Gudfan Arif Jadi Sekjen

Gus Kikin Umumkan Susunan Pengurus PBNU: Gus Ipul Waketum, Gudfan Arif Jadi Sekjen

News | Rabu, 30 September 2026 | 21:50 WIB

Sidang Ijazah Gibran di MK, Mantan Komisioner KPU: Verifikasi Dokumen Itu Harus Datang Langsung!

Sidang Ijazah Gibran di MK, Mantan Komisioner KPU: Verifikasi Dokumen Itu Harus Datang Langsung!

News | Rabu, 30 September 2026 | 21:28 WIB

×