Polusi Udara di Asia Mencemaskan

Ardi Mandiri

Kamis, 18 Mei 2017 | 03:18 WIB
Polusi Udara di Asia Mencemaskan
Ilustrasi polusi udara. (Shutterstock)

Suara.com - Anggota DPR Satya Widya Yudha menilai polusi udara di kota-kota besar negara Asia termasuk Indonesia sudah mencapai tingkat mencemaskan dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

"Harus ada langkah-langkah strategis mengantisipasi semakin meluasnya dampak polusi udara," kata Wakil Ketua Komisi VII DPR tersebut saat berbicara dalam Forum Air Quality Asia-World Bank High Level Strategy Session di United Nation Environment Programme (UNEP), New York, Selasa (16/5) seperti disampaikannya dalam rilis di Jakarta, Rabu.



Hadir pula dalam sesi tersebut antara lain Wakil Kepala Perwakilan Tetap Pemerintah Indonesia di PBB Ina Krisnamuthi, Deputi Direktur UNEP Jamil Achmad, President and Convenor Air Quality Asia Shazia Rafi, Perwakilan Inter Parliament Union (IPU), Chairman US-Indonesia Chamber of Commerce Wayne Forest serta perwakilan negara Asia antara lain Tiongkok, Korea, dan Pakistan.

"WHO menyebutkan polusi udara telah menjadi penyebab utama kematian yang dikarenakan penyakit kanker. Setidaknya tujuh juta kematian dini secara global akibat buruknya kualitas udara setiap tahunnya. Di Asia Tenggara, setiap hari ada kasus lebih dari 700 orang meninggal akibat polusi udara. Bahkan di India, angka tersebut lebih dari 3.000 orang per hari. Bayangkan itu terjadi setiap tahun, sangat tragis," kata Satya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, harus ada upaya-upaya konkret yang dilakukan secara bersama-sama mencegah dampak pencemaran udara semakin meluas.

Peningkatan kualitas udara yang lebih bersih, menurut dia, harus menjadi kebijakan global, sehingga bisa menekan angka kematian akibat polusi.

Satya yang juga menjadi salah satu "board member" di Air Quality Asia (AQA) menggambarkan, kualitas udara negara-negara Asia mesti menjadi aspek penting di tengah pertumbuhan ekonominya yang cukup pesat.

Pada 2030, kawasan Asia diprediksi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global dengan lahirnya sejumlah negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi tinggi termasuk Indonesia.

India telah disebut-sebut akan menjadi "new Tiongkok" dengan pertumbuhan ekonomi tinggi.

"Di tengah laju pertumbuhan ekonomi kawasan Asia yang meningkat, maka aspek kualitas udara menjadi penting. Negara-negara kawasan tidak bisa mengabaikan begitu saja terhadap isu ini, karena ini bukan saja menjadi isu global, tetapi menunjukkan manajemen negara yang bersih dan berkualitas dalam pengelolaannya. Pencemaran udara sudah sangat mengkhawatirkan bagi masa depan negara-negara yang sedang tumbuh ekonominya," ungkap politisi Partai Golkar itu.

Satya mengatakan, harus ada langkah-langkah konkret mencegah dampak polusi semakian meluas.

Tiongkok, misalnya, telah menganggarkan dana pada 2012 untuk menangani polusi udara di sejumlah kota besarnya.

Begitupun India yang mulai membangun pembangkit surya berkapasitas 130 MW, sehingga harga pembangkit suryanya bisa lebih murah dibandingkan batubara.

"Khusus di Asia Selatan, ada potensi 2,5 triliun dolar AS untuk bisa dikembangkan di sektor transportasi dan properti berbasis energi bersih. Ini bisa menjadi contoh bagi negara-negara Asia lainnya, terutama Asia Tenggara," katanya.

Dalam konteks Indonesia, lanjut Satya, tren pencemaran udara berbeda dengan India dan Tiongkok yang lebih banyak dari polusi industri.

Sementara, di Indonesia, 90 persen polusi udara berasal dari gas buang transportasi darat.

"Pemerintah Indonesia harus mulai melakukan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi dampak polusi udara," katanya.

Ia mencontohkan perlunya membangun pendeteksi baku mutu PM2.5 di 45 kota besar sesuai standar WHO.

Saat ini, baru Jakarta, Bandung dan Bogor yang menerapkan baku mutu PM2.5.

"Energi bersih sudah menjadi kebutuhan. Ke depan, Indonesia harus benar-benar terbebas dari penggunaan BBM berkadar emisi tinggi. Harus mulai diterapkan konversi dari BBM standar Euro 2 ke Euro 4 yang wajib bagi kendaraan bermotor di Indonesia. Selain itu, realisasi konversi BBM ke BBG juga harus diterapkan secara konsisten," ujar Satya. [Antara]


Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Tega! Anjing Ini Menangis Setelah Diracun Penjahat

Tega! Anjing Ini Menangis Setelah Diracun Penjahat

Tekno | Jum'at, 12 Mei 2017 | 18:30 WIB

Hanya Mobil Listrik yang Boleh Dijual di India pada 2030

Hanya Mobil Listrik yang Boleh Dijual di India pada 2030

Otomotif | Rabu, 03 Mei 2017 | 14:55 WIB

Awas, Polusi Bisa Picu Kanker Jenis Ini

Awas, Polusi Bisa Picu Kanker Jenis Ini

Health | Minggu, 30 April 2017 | 20:52 WIB

Terkini

Nanoplastik ditemukan di Antartika: Bagaimana bisa Sampai ke Sana?

Nanoplastik ditemukan di Antartika: Bagaimana bisa Sampai ke Sana?

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 17:29 WIB

Benarkah Jampidsus Febrie Adriansyah Mengundurkan Diri? Ini Jawaban Komisi III DPR

Benarkah Jampidsus Febrie Adriansyah Mengundurkan Diri? Ini Jawaban Komisi III DPR

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:54 WIB

Tak Hanya Saksi, IPW Sebut 2 Brigjen TNI Satroni Polda Metro Hendak Ambil Paksa Barang Bukti

Tak Hanya Saksi, IPW Sebut 2 Brigjen TNI Satroni Polda Metro Hendak Ambil Paksa Barang Bukti

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:43 WIB

Sudah Jadi Tersangka, Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Resmi Pakai Rompi Oranye Tahanan KPK

Sudah Jadi Tersangka, Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Resmi Pakai Rompi Oranye Tahanan KPK

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:42 WIB

Gus Lilur Minta Prabowo Segera Rukunkan Polri-Kejaksaan: Jangan Biarkan Beradu

Gus Lilur Minta Prabowo Segera Rukunkan Polri-Kejaksaan: Jangan Biarkan Beradu

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:37 WIB

Geger Isu Teror di Kantor BGN, Polisi Ungkap Fakta Mengejutkan

Geger Isu Teror di Kantor BGN, Polisi Ungkap Fakta Mengejutkan

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:29 WIB

Garansi Harga BBM Rakyat Kecil Tak Naik, Prabowo Sentil Pengusaha Pakai Lamborghini

Garansi Harga BBM Rakyat Kecil Tak Naik, Prabowo Sentil Pengusaha Pakai Lamborghini

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:20 WIB

Prabowo Didesak Turun Tangan, Cegah Konflik Polri-Kejaksaan Makin Melebar: TNI Jangan Ikut Campur

Prabowo Didesak Turun Tangan, Cegah Konflik Polri-Kejaksaan Makin Melebar: TNI Jangan Ikut Campur

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:16 WIB

Nama Febrie Terseret Isu Korupsi, Habiburokhman: Jika Bukti Kuat Harus Diproses

Nama Febrie Terseret Isu Korupsi, Habiburokhman: Jika Bukti Kuat Harus Diproses

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:14 WIB

Tragedi di Gorong-gorong Cipayung, 3 Pekerja Proyek Pipa Air Tewas Diduga Keracunan Gas

Tragedi di Gorong-gorong Cipayung, 3 Pekerja Proyek Pipa Air Tewas Diduga Keracunan Gas

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:11 WIB

×