KPK Ingatkan Muhtar Ependy Itu Terpidana Kasus Bohong

Siswanto, Dian Rosmala

Rabu, 26 Juli 2017 | 21:52 WIB
KPK Ingatkan Muhtar Ependy  Itu Terpidana Kasus Bohong
Muhtar Ependy di pansus angket KPK [suara.com/Bagus Santosa]
Komisi Pemberantasan Korupsi mempersilakan publik menilai sendiri pernyataan terpidana Muhtar Ependy dalam rapat dengar pendapat umum dengan panitia khusus hak angket terhadap KPK di DPR pada Selasa (25/7/2017), malam, yang lalu. Publik mesti ingat bahwa Muchtar merupakan terpidana kasus memberikan keterangan tidak benar.

"Kami mengingatkan kembali bahwa Muhtar Ependy sudah menjadi terpidana dalam kasus pemberian keterangan tidak benar dalam kasus yang terkait dengan kasus suap terhadap Akil Muchtar yang pada saat itu Ketua Mahkamah Konstitusi," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah di KPK, Jakarta Selatan, Rabu (26/7/2017).

Ketika pansus KPK mendengarkan keterangan seorang terpidana kasus pemberian keterangan tidak benar, maka publik bisa menilai dengan akal sehat masing-masing, katanya.

Namun demikian, Febri menilai ada beberapa informasi dari Muhtar yang perlu diklarifikasi, seperti pernyataan soal hartanya yang disita KPK akan dibagi dengan komisi antirasuah. Menurut Febri pernyataan itu samasekali tidak berdasar.

"Secara hukum dipastikan itu tidak memungkinkan dan tidak ada dasar hukumnya, untuk pembagian terhadap, apakah itu penyidik, jaksa ataupun terhadap institusi," ujar Febri.

Hukum hanya mengenal pembagian terhadap pelapor kasus korupsi dan itu sudah diatur mulai dari undang-undang sampai dengan peraturan pemerintah.

"Meskipun dari aspek implementasi kemudian itu perlu kita lihat lebih jauh, sejauh mana efektifitasnya," tutur Febri.

Febri menegaskan semua pernyataan yang disampaikan Muhtar sudah dicek dan tidak pernah ada pembagian harta sitaan seperti yang disampaikan.

"Di negara lain memang ada aturan-aturan ketika berhasil melakukan aset recovery, kemudian ada pembagian untuk institusi yang menanganinya. Untuk biaya penanganan perkara. Namun hukum Indonesia tidak mengatur hal tersebut," kata Febri.

Selain itu, kata Febri, ketika sesuatu barang ataupun uang disita, maka proses penyitaan dibuatkan berita acara dan diketahui oleh pemilik barang atau diketahui oleh orang yang menguasai barang.

Ketika barang tersebut sudah disita, kata dia, maka akan diproses di pengadilan dan diuji sedemikian rupa, sampai diputus di persidangan yang berkekuatan hukum tetap.

"Maka setelah itu prosesnya tidak lagi berada di KPK. Setelah proses eksekusi, karena ada proses lelang yang melibatkan Kementerian Keuangan. Jadi secara logika dan berdasarkan proses hukum yang berlaku, tidak akan mungkin ada pembagian yang disampaikan seperti itu," ujar Febri.

Febri mengatakan perlu kehati-hatian untuk melihat hal tersebut. Apakah yang disampaikan itu merupakan kebenaran, atau justru sebaliknya, yang disampaikan adalah kebohongan.

"Kalau memang ada keberatan terkait dengan proses eksekusi ataupun keberatan-keberatan terkait dengan penyitaan, silakan ikuti proses hukum yang berlaku," kata Febri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Terkini

4 Cara Cek Tilang Elektronik (ETLE) Online, Cepat dan Antiribet

4 Cara Cek Tilang Elektronik (ETLE) Online, Cepat dan Antiribet

Otomotif | Minggu, 08 November 2026 | 19:54 WIB

Emak-emak Surabaya Demo Tolak Pajak Pembalut

Emak-emak Surabaya Demo Tolak Pajak Pembalut

Jatim | Minggu, 08 November 2026 | 19:53 WIB

Penyerangan di Masjid Duren Sawit Saat Salat Subuh, Pelaku Bawa Kapak dan Dua Tabung Gas

Penyerangan di Masjid Duren Sawit Saat Salat Subuh, Pelaku Bawa Kapak dan Dua Tabung Gas

News | Minggu, 08 November 2026 | 19:48 WIB

Pakai Sistem Ranjau dan Dompet Digital, Bisnis Sabu di Surabaya Terbongkar

Pakai Sistem Ranjau dan Dompet Digital, Bisnis Sabu di Surabaya Terbongkar

Jatim | Minggu, 08 November 2026 | 19:41 WIB

DPR Desak Kejagung Bongkar Aktor Besar di Balik Dugaan Korupsi Tambang Nikel Sultra

DPR Desak Kejagung Bongkar Aktor Besar di Balik Dugaan Korupsi Tambang Nikel Sultra

News | Minggu, 08 November 2026 | 19:40 WIB

Fakta Unik Daun Salam: Bumbu Masakan Rumahan yang Jadi Simbol Berbagi di Pedesaan

Fakta Unik Daun Salam: Bumbu Masakan Rumahan yang Jadi Simbol Berbagi di Pedesaan

Your Say | Minggu, 08 November 2026 | 19:34 WIB

489 Hektare Hutan Malang Selatan Hilang, Kini 63 Hektare Kembali Terancam

489 Hektare Hutan Malang Selatan Hilang, Kini 63 Hektare Kembali Terancam

Your Say | Minggu, 08 November 2026 | 19:10 WIB

Gubernur Khofifah Raih Anugerah Adhiwidya PNFI Indonesia 2026: Pelopor Penuntasan Anak Tidak Sekolah

Gubernur Khofifah Raih Anugerah Adhiwidya PNFI Indonesia 2026: Pelopor Penuntasan Anak Tidak Sekolah

Jatim | Minggu, 08 November 2026 | 19:04 WIB

Polisi Gagalkan Dugaan Tawuran di Kramat Jati, 4 Pemuda Diciduk Bersama Sajam

Polisi Gagalkan Dugaan Tawuran di Kramat Jati, 4 Pemuda Diciduk Bersama Sajam

News | Minggu, 08 November 2026 | 18:51 WIB

BNPB Pastikan Pemadaman Karhutla di Kalimantan Tetap Berlanjut Usai Helikopter Super Puma Jatuh

BNPB Pastikan Pemadaman Karhutla di Kalimantan Tetap Berlanjut Usai Helikopter Super Puma Jatuh

News | Minggu, 08 November 2026 | 18:40 WIB

×