Suara.com - Calon Wakil Presiden Maruf Amin mendoakan agar Pande Saleh, salah satu korban tenggelamnya KM Multi Prima I cepat ditemukan. Pande Saleh merupakan ayah dari Ummi Hadya Saleh, seorang Jurnalis Khusus Suara.com yang setiap harinya ditugaskan untuk meliput kegiatan kubu Jokowi - Maruf Amin selama Pilpres 2018.
Maruf Amin pun berdoa agar keenam orang WNI yang masih berstatus hilang dalam insiden tenggelamnya KM Multi Prima I di perairan Selat Bali itu bisa ditemukan dalam keadaan selamat.
Maruf Amin mendengarkan cerita Ummi Hadya Saleh, yang ayahnya merupakan juru mesin di kapal naas itu. Maruf Amin pun setelahnya memanjatkan doa.
"Yang tenggelam di Selat Bali menggunakan KM Multi Prima, sampai hari ini belum diketemukan. Mudah-mudahan, keinginan, cita-citanya, hajatnya, dikabulkan Allah SWT dan diselamatkan," ujar Maruf Amin sembari membaca surat Al Fatihah.
"Mudah-mudahan Allah memudahkan pencariannya."
Maruf Amin menyampaikan permintaan kepada Basarnas supaya tetap berusaha secara maksimum. Upaya diberikan demi menemukan korban yang masih hilang. Tentu harapannya para korban, ketika ditemukan, masih hidup.
"Mari kita aminkan. Ini harapan kita semua. Doa kita semua, semoga Ananda Umay, keluarganya, dan kita semua juga, memperoleh pertolongan Allah SWT," kata Maruf Amin.
Puluhan wartawan yang menyaksikan hal itu ikut larut dalam doa. Ummi bersalaman dengan Maruf Amin. Tampak matanya sembab dan basah.
Seperti diketahui, kapal kargo KM Multi Prima rute Surabaya menuju Waingapu tenggelam di sekitar Selat Bali atau tepatnya di perairan utara Sumbawa, NTB, pada Kamis 22 November kemarin. Dari 14 anak buah kapal (ABK) yang berada di kapal, 8 orang dilaporkan selamat, sedangkan 6 lainnya belum ditemukan.
Yang terakhir ditemukan adalah Riski Naibahas alias Naun (20), setelah enam hari terapung di laut tanpa makan dan minum.
Pemuda asal Desa Baumata Kecamatan Taebenu Kabupaten Kupang ini sempat dicakar seekor burung dan digigit ikan-ikan. Riski ditemukan kapal berbendera Spanyol JPO Virgo di perairan laut Sumbawa, Rabu (28/11) pukul 14.00. Setelah itu, dia dievakuasi KM Senja Persada ke Pelabuhan Kali Mas, Surabaya.
Kepada sejumlah media massa, Riski menuturkan, sewaktu sendirian di lautan, dirinya tidak begitu yakin laut akan merenggut nyawanya. Sambil berusaha menyelamatkan diri, Riski tetap berdoa kepada Tuhan agar menolongnya.