2 Orang Tewas dan Ibu Hamil Tertembak di Sultra, Polisi Cari Pelaku

Dwi Bowo Raharjo
2 Orang Tewas dan Ibu Hamil Tertembak di Sultra, Polisi Cari Pelaku
Kapolda Sultra Brigjen Polisi Iriyanto (depan) melakukan pengecekan personel Brimob Polda Sultra yang akan diberangkatkan ke Monokwari, Papua Barat di Lapangan Upacara Brimob Polda Sultra, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (20/8/2019). (Antara/Jojon)

"Proyektil yang diangkat dari betis sebelah kanan ibu Putri menjadi barang bukti uji balistik Mabes Polri,

Suara.com - Kapolda Sulawesi Tenggara Brigjen Polisi Iriyanto mengatakan pihaknya tengah mengumpulkan bukti-bukti untuk mengungkap pelaku penembakan yang mengakibatkan dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) tewas saat demonstrasi di depan Gedung DPRD Sulawesi Tenggara, Kamis (26/9/2019) kemarin. Dua mahasiswa bernama
Immawan Randi dan Yusuf Kardawi tewas akibat luka tembak dan pukulan di kepala.

Iriyanto menyebut pelaku penembakan merupakan orang tidak dikenal. Selain mengenai dua mahasiswa yang tengah melakukan aksi menolak revisi undang undang yang diangap bermasalah, terdapat satu korban lagi. Dia adalah seorang ibu rumah tangga yang sedang hamil.

"Korban penembakan (ada) orang tidak dikenal, bukan hanya peserta unjuk rasa tetapi juga seorang ibu hamil yang sedang tertidur lelap di rumahnya Kamis siang (26/9/2019)," kata Iriyanto kepada wartawan di Kendari, Jumat (27/9/2019).

Iriyanto menuturkan, ibu rumah tangga itu bernama Putri (23). Saat itu ia tengah tertidur lelap di rumahnya di Jalan Syeh Yusuf, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari pada Kamis (26/9) sekitar pukul 16.00 Wita.

Identifikasi sementara disebutkan bahwa peluru yang diangkat dari betis ibu hamil berkaliber 9 milimeter.

"Proyektil yang diangkat dari betis sebelah kanan ibu Putri menjadi barang bukti uji balistik Mabes Polri," kata Iriyanto.

Rumah korban yang berkonstruksi permanen berjarak sekitar 2 kilometer dari gedung DPRD Sultra yang menjadi konsentrasi pengamanan aksi unjuk rasa oleh aparat kepolisian

Ia memastikan pihak yang terlibat dalam penembakan itu diproses secara hukum.

"Negara kita negara hukum, maka siapa pun tidak ada yang kebal hukum. (Pelaku) harus mempertanggungjawabkan pelanggaran hukum, menurut hukum yang berlaku," tegas Iriyanto.

Jenazah almarhum Immawan Randi (21) berada di ruang jenazah RS Abunawas Kendari, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (26/9). [ANTARA FOTO/Jojon]
Jenazah almarhum Immawan Randi (21) berada di ruang jenazah RS Abunawas Kendari, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (26/9). [ANTARA FOTO/Jojon]

Tak dibekali peluru tajam

Iriyanto menyebut personel kepolisian yang ditugaskan mengamankan aksi unjuk rasa di gedung DPRD Sultra tidak dibekali peluru tajam dan peluru karet.

"Sebelum bertugas personel diperiksa. Sesuai SOP hanya melengkapi diri dengan tameng, tongkat dan peluru gas air mata," ujarnya.

Sedangkan kendaraan taktis yang digunakan adalah "water cannon" atau meriam air dan mobil sound system pengurai massa (Raisa).

Diberitakan sebelumnya, unjuk rasa menolak RUU bermasalah di gedung DPRD Sulawesi Tenggara pada Kamis (26/9) siang berakhir ricuh.

Massa melakukan pelemparan batu dan kayu ke gedung DPRD yang lantas disambut dengan tembakan gas air mata dari aparat kepolisian.

Dalam unjuk rasa tersebut, dua orang mahasiswa Universitas Halu Oleo bernama Randi dan Yusuf menjadi korban.

Randi dinyatakan meninggal usai dilarikan ke rumah sakit akibat terkena tembakan. Sementara Yusuf yang terkena hantaman sempat kritis hingga akhirnya meninggal dunia pada Jumat (27/9/2019). (Antara)

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS