Veronica Koman Diancam Dibunuh: Karena Mereka Tahu Saya Benar soal Papua

Reza Gunadha, Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana

Jum'at, 04 Oktober 2019 | 15:36 WIB
Veronica Koman Diancam Dibunuh: Karena Mereka Tahu Saya Benar soal Papua
Veronica Koman, pengacara sekaligus aktivis HAM yang kekinian diburu Polri dan pemerintah Indonesia. [SBS News]

Menurut pemerintah, sebagian besar korban tewas karena kebakaran. Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) kemudian menyalahkan "kelompok kriminal bersenjata" tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Keluarga Diintimidasi

Saat ini, meskipun tinggal di luar negeri, Veronica Koman mengatakan, keluarganya di Indonesia masih dalam bahaya.

Bahkan, baru-baru ini, rumah keluarga Veronica Koman di Jakarta digerebek.

"Keluarga saya di Jakarta sudah pindah lebih dari sebulan terakhir untuk menghindari intimidasi itu," katanya, seraya menambahkan, banyaknya ancaman yang ia terima juga ditujukan kepada keluarganya.

"Orang bilang, 'kamu di Australia, tapi keluargamu ada di Indonesia dan kami bisa mencarinya.'"

Poster anti rasisme warga Papua. [dok]
Poster anti rasisme warga Papua. [dok]

DIberitakan SBS News, lebih dari 6.000 tentara Indonesia telah dikerahkan ke Papua dan Papua Barat dalam upaya meredam massa yang melakukan demonstrasi anti-rasisme dan menuntut kemerdekaan. Aksi demokratis tersebut sudah berlangsung sejak enam minggu lalu.

Veronica Koman mengatakan, sekitar 100 orang Papua Barat telah dipenjara karena terlibat dalam demo.

Sejumlah lainnyadituduh melakukan pengkhianatan kepada RI karena membawa bendera Bintang Kejora Papua.

baca juga

Sejak 1960-an, menurut pemberitaan SBS News, situasi antara penduduk asli Papua dan orang Indonesia telah mengalami ketegangan terkait etnis dan agama, yang kemudian memuncak dengan kerusuhan baru-baru ini.

Pada 1969, dalam Act of Free Choice alias Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), lebih dari 1.000 orang Papua yang sudah dipilih, dengan suara bulat, dan sambil ditodong senjata, memilih untuk tetap berada di bawah kekuasaan Indonesia.

Sejak saat itu, kelompok-kelompok yang mendukung kemerdekaan Papua Barat mengatakan, rakyatnya telah mengalami "genosida pelan-pelan", tak jauh berbeda dari situasi Timor-Leste 20 tahun lalu.

"Kami berada pada masa paling gelap dalam 20 tahun," kata Veronica Koman.

"Saya belum pernah melihat angka kematian dan tindak kekerasan sebanyak ini, versi pemerintah 33 orang tewas dalam satu hari, itu yang terburuk."

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne, menurut SBS News, telah mendesak "pengekangan di kedua sisi", dan membuat marah banyak orang Papua yang percaya bahwa Australia harus mengambil sikap yang lebih tegas terhadap kekerasan.

Veronica Koman menerangkan, mengakses angka kematian yang akurat dari Papua dan Papua Barat sulit dilakukan karena ada "penguncian total di rumah sakit."

Orang Papua Barat juga sering menolak ke rumah sakit kalau terluka,karena takut dibunuh di sana.

"Itulah tepatnya tujuan pasukan keamanan, menguncinya, sehingga hanya versi pemerintah yang bisa diumumkan," katanya.

Sejumlah mahasiswa Papua yang tergabung dalam Komite Mahasiswa Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme Dan Militerisme melakukan unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/8). [Suara.com/Arya Manggala]
Sejumlah mahasiswa Papua yang tergabung dalam Komite Mahasiswa Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme Dan Militerisme melakukan unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/8). [Suara.com/Arya Manggala]

Media asing, disebutkan SBS News, juga sangat dilarang memasuki Papua Barat.

Kantor berita yang berpusat di Sydney ini mengungkapkan, belakangan ini, Presiden Jokowi telah mengajak bertemu kelompok-kelompok pro-kemerdekaan ketika demonstrasi di seluruh negeri menyerukan demiliterisasi provinsi Papua.

Di lain sisi, Veronica Koman—yang memiliki tato Indonesia di lengan kirinya—tidak dapat kembali ke negara asalnya karena takut akan penganiayaan, tetapi memilih untuk melihat sisi positif dari situasi tersebut.

"Ini adalah awal yang baru, ini adalah babak baru," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dinilai Kondusif Pasca Kerusuhan Wamena, Pengungsi Diimbau Kembali ke Rumah

Dinilai Kondusif Pasca Kerusuhan Wamena, Pengungsi Diimbau Kembali ke Rumah

News | Kamis, 03 Oktober 2019 | 23:46 WIB

Pengamat Politik Asing: Ancaman Pembunuhan ke Veronica Koman Masalah Serius

Pengamat Politik Asing: Ancaman Pembunuhan ke Veronica Koman Masalah Serius

News | Jum'at, 04 Oktober 2019 | 05:04 WIB

Anggota DPR Menangis Ingat Konflik Papua, Sebut Sidang MPR Sandiwara

Anggota DPR Menangis Ingat Konflik Papua, Sebut Sidang MPR Sandiwara

News | Kamis, 03 Oktober 2019 | 19:17 WIB

Mahasiswa Mau Demo Istana: Tolak Selesaikan Papua Pakai Cara Militer

Mahasiswa Mau Demo Istana: Tolak Selesaikan Papua Pakai Cara Militer

News | Rabu, 02 Oktober 2019 | 15:29 WIB

Sebut Kerusuhan Wamena Genosida, HNW Dikecam

Sebut Kerusuhan Wamena Genosida, HNW Dikecam

News | Senin, 30 September 2019 | 14:52 WIB

Terkini

Pengamen Terobos Mikrotrans Kampung Melayu, Transjakarta Ingatkan Larangan Keras di Seluruh Armada

Pengamen Terobos Mikrotrans Kampung Melayu, Transjakarta Ingatkan Larangan Keras di Seluruh Armada

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:57 WIB

Kementerian ESDM Evaluasi Harga Pertamax Cs, Ada Peluang Naik di Oktober 2026

Kementerian ESDM Evaluasi Harga Pertamax Cs, Ada Peluang Naik di Oktober 2026

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:56 WIB

Secangkir Kopi Muhammadiyah dan Cerita Kehangatan Bersama Rudy Susmanto di Leuwiliang

Secangkir Kopi Muhammadiyah dan Cerita Kehangatan Bersama Rudy Susmanto di Leuwiliang

Jabar | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:53 WIB

Sasis Bawah Innova Reborn Dilas Plat Besi demi Sabu 27 Kg, Dua Kurir Terancam Hukuman Mati

Sasis Bawah Innova Reborn Dilas Plat Besi demi Sabu 27 Kg, Dua Kurir Terancam Hukuman Mati

Lampung | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:51 WIB

IHSG Tembus Lagi Level 6.000, Saham GOTO Kembali Melonjak

IHSG Tembus Lagi Level 6.000, Saham GOTO Kembali Melonjak

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:50 WIB

2.820 Personel Gabungan Dikerahkan dalam Pertandingan Vietnam Vs Pakistan di SUGBK

2.820 Personel Gabungan Dikerahkan dalam Pertandingan Vietnam Vs Pakistan di SUGBK

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:48 WIB

Singgung Argentina, Justin Hubner Kirim Pesan untuk Suporter Timnas Indonesia Jelang Final

Singgung Argentina, Justin Hubner Kirim Pesan untuk Suporter Timnas Indonesia Jelang Final

Bola | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:46 WIB

Asap Karhutla Tutup Jalur Sungai Banyuasin, Kapal Sembako Kandas dan Tenggelam

Asap Karhutla Tutup Jalur Sungai Banyuasin, Kapal Sembako Kandas dan Tenggelam

Sumsel | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:45 WIB

Ada Helikopter dan Pesawat, Ini Daftar Aset Mewah yang Disita Kejagung di Kasus Korupsi Motor BGN

Ada Helikopter dan Pesawat, Ini Daftar Aset Mewah yang Disita Kejagung di Kasus Korupsi Motor BGN

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:45 WIB

Kenapa Jangan Menggosok Parfum di Kulit? Ini Cara Pakai yang Benar agar Wanginya Awet

Kenapa Jangan Menggosok Parfum di Kulit? Ini Cara Pakai yang Benar agar Wanginya Awet

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 16:40 WIB

×