Apa itu WHO dan apa yang mereka lakukan?

Suwarjono

Minggu, 19 April 2020 | 13:57 WIB
Apa itu WHO dan apa yang mereka lakukan?
WHO (BBC)

Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan menghentikan dana untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena lembaga itu dinilainya gagal menjalankan tugas utamanya dalam menangani pandemi virus corona.

Tapi, apa sebenarnya WHO dan apa saja yang dikerjakannya?

Markas besar kesehatan global

Di markas WHO di Jenewa, kita akan disambut oleh warna-warni 194 bendera anggota organisasi ini.

Ini adalah markas koordinasi respons global pandemi yang disebut sebagai ujian terbesar bagi dunia sejak Perang Dunia Kedua.

Trump hentikan aliran dana ke WHO: 'Banyak kematian disebabkan kesalahan mereka' Pedoman WHO untuk melindungi diri dan mencegah penyebaran virus corona Trump tuduh WHO bersikap China-sentris, Dirjen WHO: jangan politisasi virus ini

Lembaga kesehatan PBB ini didirikan tahun 1948 dan digambarkan sebagai penjaga kesehatan masyarakat global.

Tujuannya adalah: kesehatan tertinggi yang mampu dicapai manusia, untuk semuanya.

Ini tugas mahaberat.

Selama 11 tahun terakhir, WHO telah menyelia respons global terhadap enam darurat kesehatan global, termasuk wabah Ebola di Afrika Barat tahun 2014, wabah Zika tahun 2016 dan kini pandemi Covid-19.

Mereka juga:

Memutuskan kapan harus membunyikan "alarm global" semasa wabah Menetapkan rencana riset dan pengembangan skala global untuk mencari cara perawatan dan vaksin Mengirim ahli ke pusat penyakit untuk mendapatkan data agar bisa memahami penyakit lebih jauh

WHO juga punya tanggung jawab luas terkait kesehatan, termasuk:

Menangani epidemi global obesitas dan diabetes Mengurangi kematian di lapangan Menghapuskan penyakit yang bisa diatasi oleh vaksin, seperti polio Berusaha mengurangi jumlah kematian ibu dan anak dalam persalinan

Tetapi ini sangat penting WHO hanyalah lembaga penasihat.

Mereka bisa membuat rekomendasi bagi negara-negara anggota mengenai apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesehatan warga dan mencegah penyebaran wabah penyakit.

Mereka tidak punya kekuatan memaksa rekomendasi itu.

Apakah WHO keliru menangani pandemi ini?

Tergantung Anda bertanya kepada siapa.

Kalau bertanya kepada Donald Trump, jawabannya pasti ya.

Tapi Trump sendiri dihujani kritik tentang cara ia menghadapi wabah Covid-19 di AS, yang kini sudah ada 32.000 kematian.

Ia juga sedang menghadapi pertarungan geopolitik dengan China, yang sudah terjadi sebelum pandemi Covid-19.

Trump bukan satu-satunya yang mengkritik pujian WHO terhadap China dalam menangani wabah ini. Terutama terkait perlakuan China terhadap tenaga medis yang dibungkam di awal penyebaran virus.

Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jendral WHO, berulangkali menyatakan ia bergeming soal pujiannya terhadap China.

Katanya, respons China terhadap wabah itu telah membantu perlambatan penyebaran virus itu secara global, memberi waktu bagi negara-negara lain untuk menyiapkan diri.

Dr. Ghebreyesus dan beberapa ilmuwan lain, juga menekankan bahwa China bersedia secara sukarela memberi kode genetik virus itu dengan cepat, sehingga banyak negara bisa segera melakukan tes diagnosa dan mengembangkan vaksin.

Sekalipun begitu, kritik terhadap China cukup luas.

Devi Sridhar, profesor bidang kesehatan masyarakat global di University of Edinburgh, mengatakan: "China tidak mengabarkan pada dunia saat wabah baru memasuki tahap awal. Jelas ada penundaan.

"Mereka mencoba mengecil-ngecilkan wabah ini di fase-fase awalnya."

Prof. Sridhar yang menyelidiki mengenai tanggapan WHO terhadap wabah Ebola di Afrika Barat, menyebut dirinya sebagai pengkritik terkeras WHO.

Ia menambahkan: "Sulit untuk menimpakan seluruh kesalahan pada upaya yang dilakukan oleh WHO mengingat mereka harus seimbang antara membuat negara-negara anggota serius menangani wabah ini, di sisi lain harus tetap membuat semua mau bekerja sama.

Sebagian besar peran WHO adalah diplomasi. Mereka tak bisa memaksa negara anggota untuk memberi informasi terkait wabah, dan hanya bisa mengandalkan kesukarelaan.

Prof Sridhar mengatakan WHO bisa meraih popularitas seandainya Dr. Ghebreyesus sejak awal mengutuk China atas kelambatan respons di fase awal wabah. Namun, kata Prof. Sridhar, itu bisa menghalangi respons global terhadap Covid-19.

"Apa yang bisa didapat dari sana? Ia tetap perlu meminta China untuk membagikan data."

Prof Sridhar yakin WHO di belakang layar menekan China untuk lebih berterus terang di masa-masa awal wabah.

"Menurut saya, ada perbedaan besar dalam diplomasi, antara mengerjakan sesuatu di depan umum dengan media yang terkadang hanya performa saja dan melakukan sesuatu dengan diam-diam tetapi sungguh-sungguh berhasil mencapai sesuatu."

Apa yang terjadi pada wabah sebelumnya?

Ini bukan pertama kalinya WHO mendapat kritik.

Lembaga PBB ini dianggap lambat dalam menanggapi wabah Ebola tahun 2014, dan mengumumkan darurat internasional lima bulan sesudah virus itu pertama kali ditemukan di Guinea.

Namun di tahun 2009 mereka dituduh sebaliknya. Cepat melakukan reaksi terhadap wabah flu babi, H1N1, lalu secara tidak perlu mengumumkan pandemi global.

Minggu lalu, ketika Presiden Trump melontarkan ide untuk menghentikan dana untuk WHO, Dr Ghebreyesus menyerukan agar negara-negara tidak mempolitisasi virus ini."

Ia juga menyatakan menyambut baik tinjauan untuk respons WHO terhadap wabah ini karena kami ingin belajar dari kesalahan, dan kekuatan kami untuk bisa maju terus".

Namun katanya, fokus sekarang seharusnya untuk melawan virus".

Apa dampak yang bisa ditimbulkan oleh langkah Trump?

Amerika Serikat merupakan donor terbesar WHO, organisasi yang dananya mengandalkan kombinasi iuran anggota tergantung kekayaan dan jumlah penduduk dan sumbangan sukarela.

Sumbangan sukarela ini merupakan sumber terbesar dari keseluruhan US$2,2 miliar anggaran tahunan WHO.

Tahun lalu, AS memberi lebih dari US$400 juta.

Dr. Jeremy Farrar, Direktur Wellcome Trust, Inggris, mengatakan WHO membutuhkan "lebih banyak sumber daya" untuk mengatasi pandemi.

"Kita sedang menghadapi tantangan terbesar dalam kehidupan kita bersama. Tak ada organisasi lain yang bisa mengerjakan apa yang dikerjakan WHO sekarang ini.

"Ini adalah saatnya solidaritas, bukan perpecahan."

Prof Sridhar mengatakan langkah AS itu bisa merugikan diri mereka sendiri.

"Jika WHO terdampak oleh langkah ini, maka kemampuan mereka dalam merespons Covid-19, juga penyakit lain seperti malaria dan TB ikut terkena akibatnya. Dan kita akan melihat kebangkitan kembali penyakit-penyakit ini yang kita pikir sudah berhasil kita atasi."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ulasan The Cat Who Saved Books: Kisah Hangat tentang Cinta pada Buku

Ulasan The Cat Who Saved Books: Kisah Hangat tentang Cinta pada Buku

Your Say | Minggu, 16 Agustus 2026 | 11:00 WIB

Industri Farmasi Perlu Berubah agar Lebih Ramah Lingkungan, WHO Desak Peran Regulator

Industri Farmasi Perlu Berubah agar Lebih Ramah Lingkungan, WHO Desak Peran Regulator

Health | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:10 WIB

The Boy Who Harnessed the Wind: Kisah Nyata Remaja yang Menyelamatkan Desa dengan Kincir Angin

The Boy Who Harnessed the Wind: Kisah Nyata Remaja yang Menyelamatkan Desa dengan Kincir Angin

Your Say | Kamis, 06 Agustus 2026 | 08:30 WIB

Benarkah Atap Asbes Bisa Bikin Kanker? Dokter Paru Ungkap Fakta dari WHO

Benarkah Atap Asbes Bisa Bikin Kanker? Dokter Paru Ungkap Fakta dari WHO

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:27 WIB

Ulasan The 100-Year-Old Man: Petualangan Seorang Kakek yang Absurd dan Penuh Makna

Ulasan The 100-Year-Old Man: Petualangan Seorang Kakek yang Absurd dan Penuh Makna

Your Say | Jum'at, 10 Juli 2026 | 12:00 WIB

The Cat Who Saved Books: Sindiran Menohok untuk Tren Literasi Masa Kini

The Cat Who Saved Books: Sindiran Menohok untuk Tren Literasi Masa Kini

Your Say | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:14 WIB

Gelombang Panas Mematikan di Eropa: 1300 Orang Tewas, Suhu Tembus 41,7 C di Jerman

Gelombang Panas Mematikan di Eropa: 1300 Orang Tewas, Suhu Tembus 41,7 C di Jerman

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 01:55 WIB

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Ada Seo In Guk, Drakor The Office Worker Who Sees Destiny Akan Tayang 2027

Ada Seo In Guk, Drakor The Office Worker Who Sees Destiny Akan Tayang 2027

Your Say | Rabu, 10 Juni 2026 | 07:30 WIB

Seo In Guk dan Krystal Dikonfirmasi Bintangi Drama Baru tvN Genre Fantasi

Seo In Guk dan Krystal Dikonfirmasi Bintangi Drama Baru tvN Genre Fantasi

Your Say | Selasa, 02 Juni 2026 | 13:45 WIB

Terkini

Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris

Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris

Lifestyle | Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:03 WIB

Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026

Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026

Bogor | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:57 WIB

Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI

Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI

Jakarta | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:36 WIB

Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI

Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI

Lifestyle | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:30 WIB

Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere

Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere

Bali | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:30 WIB

Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las

Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las

Sumsel | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:09 WIB

Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026

Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026

Bri | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:59 WIB

5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran

5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran

Sumsel | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:52 WIB

Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo

Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo

Bri | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:41 WIB

Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan

Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:40 WIB

×