Mempelajari Cara Korea Selatan Melacak Kasus Penderita Covid-19

Suwarjono

Senin, 18 Mei 2020 | 03:59 WIB
Mempelajari Cara Korea Selatan Melacak Kasus Penderita Covid-19
Ilustrasi pelacakan virus corona (BBC)

Suara.com - Pada akhir Februari lalu, Korea Selatan adalah negara yang paling parah terdampak wabah virus corona di luar China. Ribuan kasus positif Covid-19 terkait dengan para anggota sebuah sekte keagamaan di Kota Daegu.

Namun kini, walau terjadi peningkatan kasus akibat klaster di kawasan hiburan Itaewon, Kota Seoul, wabah tersebut tampak masih bisa dikendalikan.

Jumlah kematian akibat Covid-19 di negara berpenduduk 52 juta jiwa itu mencapai 262 orang. Sedangkan di Inggris yang berpenduduk 67 juta jiwa, lebih dari 34.000 orang meninggal dunia.

Lantas apa senjata utama pemerintah Korsel dalam melawan virus corona? Satu kata, datakumpulan informasi luas mengenai pergerakan penduduknya.

Lebih dari 100 kasus baru Covid-19 muncul terkait kelab malam Seoul, setelah Korsel catat 'penularan lokal nihil' Reaksi 'berlebihan' Vietnam terbukti efektif, tak ada kasus positif Covid-19 dalam satu bulan Penanganan virus corona ala Korea Selatan layak jadi panutan? Apakah kita perlu mengorbankan privasi agar tetap aman selama pandemi Covid-19?

Justin Fendos, profesor biologi sel di Universitas Dongseo, Kota Busan, Korsel, mengungkapkan kepada BBC mengenai luasan operasi pelacakan kasus virus corona.

"Mereka mengambil metode [pengumpulan] informasi yang biasanya dipakai aparat penegak hukum untuk menangkap orang-orang yang menghindari pajak atau melacak penjahat. Mereka mengubah cara penggunaannya demi kesehatan masyarakat."

Fendos menjelaskan tiga tipe informasi yang digunakan:

Transaksi kartu kredit dan kartu debit - mereka bisa mempelihatkan di mana saja seseorang berbelanja atau makan, dan bagaimana orang itu bepergian di jaringan transportasi. Riwayat lokasi ponsel dari operator telepon memberikan gambaran lokasi seseorang selagi dia terkoneksi melalui pemancar sinyal ponsel di sekitarnya. Rincian pergerakan yang ditangkap jaringan kamera pemantau Korsel yang luas

"Anda tak hanya menemukan kamera di restoran dan kedai kopi, tapi juga di sudut-sudut jalan dan tempat-tempat seperti itu untuk menangkap pelanggar aturan parkir," papar Fendos.

Kumpulan informasi ini dipakai untuk melacak keberadaan seseorang yang tertular serta menelusuri pergerakannya pada hari-hari sebelum dia teruji positif sehingga orang-orang yang mungkin berkontak langsung dengannya bisa diberi tahu.

baca juga

"Ini sangat kuat karena informasi ini bisa digunakan untuk memberitahu orang-orang yang berada di sekitar pasien tersebut baru-baru ini, 'Tahukah Anda, Anda mungkin berisiko [tertular] sehingga mungkin Anda perlu menjalani tes'."

Sebagian besar informasi berwujud teks ini juga dapat diakses melalui ponsel dan situs-situs publik . Coba lihat contoh pergerakan kasus 10932 sebagaimana terekam di sini.

Anda dapat melihat orang ini bergerak di antara restoran, kafe, toko, dan kantor pada 7-11 Mei sebelum menerima hasil tes dan dirawat di rumah sakit.

Pelacakan ini kurang mendapat tentangan dari khalayak, sesuatu yang disebut Prof Fendos berakar dari budaya.

"Orang Korea sangat enggan melakukan hal-hal yang dapat melukai orang lain. Pada saat yang sama, mereka begitu enggan bertanggung jawab karena menyebabkan orang lain sakit. Ada pula pemahaman hierarki sehingga rakyat jelata cenderung percaya apa yang diperintahkan pemerintah kepada mereka," paparnya.

Privasi

Sepertinya rangkaian metode itu sulit diterima oleh warga negara-negara Barat, seperti Inggris. Bahkan, di negara-negara tersebut tengah berlangsung perdebatan sengit mengenai apakah aplikasi pelacakan kontak yang menyimpan data terpusat memunculkan ancaman besar terhadap privasi.

Namun, spesialis etika data, Stephanie Hare, menekankan bahwa pertanyaan sebaiknya tidak diarahkan mengenai apakah metode-metode itu layak diterima, tetapi apakah metode-metode itu diperlukan.

"Korea Selatan adalah studi kasus yang sangat menarik dan kami ingin mempelajarinya," kata Hare.

"Kita juga harus bertanya kepada diri kita sendiri apakah ada contoh lain yang menunjukkan bahwa masyarakat tidak perlu melakukan itu. Faktanya, ada banyak sehingga kita juga bisa mencermati mereka."

Hare menyebutkan sejumlah negara Skandinavia dan Negara Bagian Kerala di India sebagai contoh tempat yang berhasil menekan virus corona tanpa menginvasi privasi warganya.

Perlu juga diingat bahwa kita mungkin berada pada tahap awal peperangan melawan Covid-19.

Dalam beberapa bulan ke depan, kita akan melihat banyak negara menerapkan teknologi baru dalam bentuk aplikasi pelacakan kontak melalui bluetooth selagi mereka keluar dari lockdown dengan penuh kewaspadaan.

Namun, ada kans bahwa aplikasi pelacakanentah itu tersentralisasi atau terdesentralisasitidak akan terbukti efektif sehingga bisa saja pemerintah-pemerintah mempertimbangkan untuk menerapkan taktik pengawasan massal secara paksa.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pelatih Korea Selatan Hong Myung-bo Mundur usai Gagal di Piala Dunia 2026

Pelatih Korea Selatan Hong Myung-bo Mundur usai Gagal di Piala Dunia 2026

Bola | Senin, 29 Juni 2026 | 06:42 WIB

Reaksi Geram Publik Korsel Usai Timnas Voli Indonesia Cetak Sejarah di AVC Cup 2026

Reaksi Geram Publik Korsel Usai Timnas Voli Indonesia Cetak Sejarah di AVC Cup 2026

Sport | Senin, 29 Juni 2026 | 00:07 WIB

Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026

Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026

Sport | Minggu, 28 Juni 2026 | 22:18 WIB

Review Viral Hit: Perjalanan Heroik Remaja Melawan Bullying secara Live

Review Viral Hit: Perjalanan Heroik Remaja Melawan Bullying secara Live

Your Say | Minggu, 28 Juni 2026 | 15:25 WIB

Korea Selatan Terancam Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Legenda Manchester United Buka Suara

Korea Selatan Terancam Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Legenda Manchester United Buka Suara

Bola | Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:29 WIB

Prediksi Superkomputer: Ini 8 Tim yang Bakal Lolos Lewat Jalur Peringkat 3 Terbaik Piala Dunia 2026

Prediksi Superkomputer: Ini 8 Tim yang Bakal Lolos Lewat Jalur Peringkat 3 Terbaik Piala Dunia 2026

Bola | Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:35 WIB

Hong Myung-bo Akui Kesalahan Strategi Usai Korea Selatan Takluk dari Afrika Selatan

Hong Myung-bo Akui Kesalahan Strategi Usai Korea Selatan Takluk dari Afrika Selatan

Bola | Kamis, 25 Juni 2026 | 20:17 WIB

Tumbang Lagi, Pelatih Korea Selatan Buka Suara soal Rumor Keracunan Makanan

Tumbang Lagi, Pelatih Korea Selatan Buka Suara soal Rumor Keracunan Makanan

Your Say | Kamis, 25 Juni 2026 | 17:16 WIB

Strategi Keliru Hong Myung-Bo, Korea Selatan Terancam Angkat Koper Lebih Cepat dari Piala Dunia 2026

Strategi Keliru Hong Myung-Bo, Korea Selatan Terancam Angkat Koper Lebih Cepat dari Piala Dunia 2026

Bola | Kamis, 25 Juni 2026 | 22:05 WIB

AFC Harusnya Malu, Negara yang Mereka Anak Tirikan Justru Jadi Penjaga Marwah Sepak Bola Asia

AFC Harusnya Malu, Negara yang Mereka Anak Tirikan Justru Jadi Penjaga Marwah Sepak Bola Asia

Your Say | Kamis, 25 Juni 2026 | 11:38 WIB

Terkini

Gagal Sembunyi! Penyelundup 325 Kg Sabu Thailand Gunakan Chat Enkripsi Militer Ditangkap Bareskrim

Gagal Sembunyi! Penyelundup 325 Kg Sabu Thailand Gunakan Chat Enkripsi Militer Ditangkap Bareskrim

News | Senin, 29 Juni 2026 | 09:58 WIB

Ada Bukti CCTV! Korban Pencurian di Jakpus Protes Kasus Malah Dihentikan Polisi

Ada Bukti CCTV! Korban Pencurian di Jakpus Protes Kasus Malah Dihentikan Polisi

News | Senin, 29 Juni 2026 | 09:21 WIB

Gugat Polisi dan Jaksa di Kasus Ijazah Jokowi! Roy Suryo Jalani Sidang Praperadilan Hari Ini

Gugat Polisi dan Jaksa di Kasus Ijazah Jokowi! Roy Suryo Jalani Sidang Praperadilan Hari Ini

News | Senin, 29 Juni 2026 | 09:02 WIB

Media Iran Terang-terangan Sebut Teheran Tak Punya Pilihan Perlu Bangun Senjata Nuklir

Media Iran Terang-terangan Sebut Teheran Tak Punya Pilihan Perlu Bangun Senjata Nuklir

News | Senin, 29 Juni 2026 | 08:38 WIB

Gambir Siaga! 1.045 Polisi Kawal Demo Mahasiswa Paniai dan Front Anti Militerisme

Gambir Siaga! 1.045 Polisi Kawal Demo Mahasiswa Paniai dan Front Anti Militerisme

News | Senin, 29 Juni 2026 | 08:36 WIB

Iran Serukan Negara Tetangga Blokir Pesawat Tempur Asing Demi Kedamaian di Timur Tengah

Iran Serukan Negara Tetangga Blokir Pesawat Tempur Asing Demi Kedamaian di Timur Tengah

News | Senin, 29 Juni 2026 | 08:21 WIB

Evakuasi Berjam-jam Pakai Alat Berat, Balita di Tebet Tewas Terperosok Lubang Proyek 4 Meter

Evakuasi Berjam-jam Pakai Alat Berat, Balita di Tebet Tewas Terperosok Lubang Proyek 4 Meter

News | Senin, 29 Juni 2026 | 08:09 WIB

Amerika: Perdamaian AS - Iran Tidak Batal, Meski Ada Baku Tembak

Amerika: Perdamaian AS - Iran Tidak Batal, Meski Ada Baku Tembak

News | Senin, 29 Juni 2026 | 07:45 WIB

Hari Ini! MK Putuskan Nasib UU Polri hingga Gugatan Peradilan Militer

Hari Ini! MK Putuskan Nasib UU Polri hingga Gugatan Peradilan Militer

News | Senin, 29 Juni 2026 | 07:39 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Perdamaian Iran - AS Terancam Batal Total

Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Perdamaian Iran - AS Terancam Batal Total

News | Senin, 29 Juni 2026 | 07:30 WIB

×