-
Seoul menetapkan peringatan gelombang panas tertinggi setelah suhu diprediksi menyentuh 38 derajat Celsius.
-
Sebanyak 185 warga Seoul jatuh sakit dan dua orang dilaporkan meninggal akibat cuaca ekstrem.
-
Pemerintah Seoul menyediakan 4.000 tempat pengungsian dan mengimbau warga membatasi aktivitas luar ruang.
Suara.com - Otoritas Seoul resmi mengaktifkan status peringatan gelombang panas level tertinggi untuk pertama kalinya usai suhu udara diperkirakan melonjak hingga 38 derajat Celsius. Langkah darurat ini diambil untuk menekan lonjakan korban jiwa akibat cuaca ekstrem yang terus meluas.
Dinas Meteorologi Korea Selatan memberlakukan status bahaya tersebut sejak Selasa pukul 11.00 waktu setempat di wilayah tenggara dan barat laut ibu kota. Kebijakan ini merespons ancaman cuaca terik yang berpotensi membahayakan keselamatan warga secara luas.
Sebanyak 11 distrik vital termasuk Gangnam, Songpa, Gangseo, dan Gwanak kini resmi masuk dalam radius bahaya cuaca panas ekstrem. Wilayah-wilayah padat penduduk tersebut menjadi fokus utama penanganan dampak buruk gelombang panas.

Pemerintah menetapkan status darurat ini karena suhu yang dirasakan warga telah menyentuh batas kritis 38 derajat Celsius. Selain itu, ambang batas ditetapkan jika suhu harian mencapai 39 derajat Celsius atau bertahan di atas 35 derajat Celsius selama dua hari beruntun.
Dikutip dari Yonhap, ancaman lonjakan kasus penyakit akibat paparan panas kini menjadi perhatian serius pemerintah kota. Laporan resmi mencatat setidaknya 18 warga Seoul terserang penyakit akibat panas hanya dalam kurun waktu satu hari pada Senin.
Secara kumulatif, jumlah korban terdampak cuaca panas ekstrem di ibu kota Korea Selatan telah menembus 185 orang sejak pertengahan Mei. Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa dua di antaranya meninggal dunia akibat kondisi fatal tersebut.
Mengantisipasi memburuknya situasi, pemerintah kota bergerak cepat mengintensifkan berbagai tindakan mitigasi di lapangan. Petugas dikerahkan untuk menyiramkan air ke jalan-jalan protokol guna menurunkan suhu permukaan kota secara mendadak.
Perhatian ekstra juga diarahkan langsung kepada kelompok masyarakat rentan yang bermukim di kawasan pemukiman padat. Perlindungan khusus diberikan agar kelompok marginal ini terhindar dari risiko dehidrasi dan heatstroke.
Sebagai langkah nyata, otoritas Seoul telah menyiagakan sekitar 4.000 titik lokasi sebagai pusat pengungsian gelombang panas. Fasilitas umum seperti pusat komunitas hingga balai lansia dialihfungsikan menjadi tempat perlindungan berpendingin udara.
Kementerian Dalam Negeri Korea Selatan turut memancar pesan peringatan massal secara berkala ke seluruh ponsel warga. Masyarakat diminta mengonsumsi banyak air putih dan memperbanyak waktu istirahat di ruangan ber-AC.
Instruksi tegas juga diberikan agar warga menghentikan seluruh agenda kegiatan di luar ruangan selama puncak suhu panas terjadi. Pihak berwenang mengimbau warga untuk saling memantau kondisi kesehatan anggota keluarga masing-masing secara berkala.
Sebagai informasi, sistem Peringatan Gelombang Panas berbasis suhu yang dirasakan (perceived temperature) ini baru resmi diperkenalkan oleh otoritas Korea Selatan pada 1 Juni lalu. Kebijakan anyar ini dirancang untuk memberikan respons dini yang lebih akurat terhadap ancaman perubahan iklim global.