Sejak Pandemi Covid-19, Jutaan Keluarga di Nepal Terancam Kelaparan

Rendy Adrikni Sadikin, Hikmawan Muhamad Firdaus

Rabu, 01 Juli 2020 | 14:30 WIB
Sejak Pandemi Covid-19, Jutaan Keluarga di Nepal Terancam Kelaparan
Bendera Nepal. [shutterstock]

Suara.com - Semenjak pandemi Covid-19 menyerang Nepal, jutaan keluarga terancam kelaparan, karena banyak kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan dan tidak dapat mengirimkan uang.

Salah satunya adalah Shiba Kala Limbu, seorang ibu rumah tangga yang pernah kelaparan demi anaknya karena sang suami tidak kunjung mengirimkan uang. Ram Kumar, suami Shiba bekerja sebagai tukang batu di Qatar dan kehilangan pekerjaannya semenjak pandemi menyerang.

Wanita berusia 25 tahun tersebut mengatakan dia tidak punya uang setelah kiriman dari suaminya berhenti.

"Ini menyakitkan. Saya melewatkan beberapa makan malam untuk menghemat sedikit makanan yang kumiliki untuk putriku." ujarnya disadur dari South China Morning Post pada Rabu (1/7/2020).

Penyebaran virus yang menyerang pernapasan ini telah mencekik ekonomi di seluruh dunia dan membuat jutaan pekerja migran keluar dari pekerjaan, membuat mereka tidak dapat mengirim uang ke keluarganya.

Menurut data Bank Dunia, lebih dari 56 persen dari estimasi 5,4 juta rumah tangga di Nepal menerima remitansi yang merupakan jalur vital bagi keluarga yang tidak memiliki sumber pendapatan lain.

Remitansi mencapai 8,1 miliar dolar (Rp117,4 triliun) pada tahun 2019, atau lebih dari seperempat produk domestik bruto Nepal, tetapi kemungkinan turun 14 persen pada tahun 2020 karena resesi global yang disebabkan oleh Covid-19, serta penurunan harga minyak. Jutaan migran Nepal bekerja di negara-negara Teluk yang kaya akan minyak dan Malaysia.

Ilustrasi kelaparan di Afrika. [Shutterstock]
Ilustrasi kelaparan di Afrika. [Shutterstock]

Ganesh Gurung, seorang analis Nepal mengatakan bahwa remitansi sangat penting bagi keluarga kelas menengah ke bawah yang telah pindah ke pusat kota dan bergantung pada mereka untuk membayar sewa, bahan makanan, biaya sekolah, dan keperluan lainnya.

"Tanpa pengiriman uang, keluarga-keluarga ini akan menjadi lebih miskin dan kejahatan seperti perdagangan manusia dan pelacuran bisa meningkat," jelas Gurung, seorang pakar tentang masalah migran di Institute of Development Studies Nepal.

baca juga

Limbu mengaku biasanya ia menerima hingga 20.000 rupee Nepal (Rp 2,3 juta) setiap bulan sebelum pandemi. Tetapi dalam enam bulan terakhir dia hanya menerima 40.000 rupee Nepal (Rp 4,6 juta) dari suaminya.

"Hanya itu yang berhasil dia kirim tahun ini. Saya menggunakan sebagian untuk membayar sewa dan sisanya untuk membeli bahan makanan." katanya.

Di kota barat daya Gajedah, Radha Marasini mengatakan suaminya, Indra Mani, kehilangan pekerjaannya sebagai penjaga keamanan di sebuah pabrik tekstil di kota Ludhiana di India utara setelah pandemi menyerang.

Ketika penghasilannya berkurang, lelaki berusia 43 tahun itu tidak punya pilihan selain meminjam ke pinjaman lokal dan membayar suku bunga yang cukup besar, untuk memastikan ia dan putranya yang berusia 15 tahun dapat bertahan hidup.

"Jika situasi tidak membaik, kami harus makan hanya satu kali sehari," kata Marasini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kekurangan Dana Bantuan, Suriah Dihantui Kelaparan Massal

Kekurangan Dana Bantuan, Suriah Dihantui Kelaparan Massal

News | Selasa, 30 Juni 2020 | 12:39 WIB

UNICEF: 2,4 Juta Anak-anak Yaman Terancam Kelaparan

UNICEF: 2,4 Juta Anak-anak Yaman Terancam Kelaparan

News | Minggu, 28 Juni 2020 | 19:16 WIB

Kasihan tapi Kocak, Tubuh Bocah Ini Bergetar saat Menyantap Mi Instan

Kasihan tapi Kocak, Tubuh Bocah Ini Bergetar saat Menyantap Mi Instan

Lifestyle | Senin, 22 Juni 2020 | 15:05 WIB

Terkini

Pemkot Depok Usul Lima Rute Baru Transjabodetabek

Pemkot Depok Usul Lima Rute Baru Transjabodetabek

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 13:20 WIB

DPR MInta Usut Tuntas Dugaan Penyekapan Perempuan oleh Oknum Polisi di Jawa Tengah

DPR MInta Usut Tuntas Dugaan Penyekapan Perempuan oleh Oknum Polisi di Jawa Tengah

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 13:00 WIB

Penyusunan Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal Jateng Perlu Dipercepat

Penyusunan Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal Jateng Perlu Dipercepat

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 12:27 WIB

Pengungsi WNA di Setiabudi, Pramono Anung Akan Tertibkan Fasilitas Publik yang Disalahgunakan

Pengungsi WNA di Setiabudi, Pramono Anung Akan Tertibkan Fasilitas Publik yang Disalahgunakan

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 12:19 WIB

KPK Dalami Keterangan Bupati Kuansing soal Dugaan Amplop untuk Menhut Raja Juli

KPK Dalami Keterangan Bupati Kuansing soal Dugaan Amplop untuk Menhut Raja Juli

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 12:13 WIB

3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN

3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 12:07 WIB

KPK Sita Uang Rp1,22 Miliar Valas hingga 55 Kg Logam Diduga Platinum

KPK Sita Uang Rp1,22 Miliar Valas hingga 55 Kg Logam Diduga Platinum

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:53 WIB

Hadiri Pelantikan Srikandi Jaga Desa, Hashim Djojohadikusumo Tekankan Pentingnya Peran Perempuan

Hadiri Pelantikan Srikandi Jaga Desa, Hashim Djojohadikusumo Tekankan Pentingnya Peran Perempuan

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:43 WIB

Kenakan Rompi Oranye KPK, Bupati Langkat Syah Afandin Bantah Sudah Tahu Ada OTT

Kenakan Rompi Oranye KPK, Bupati Langkat Syah Afandin Bantah Sudah Tahu Ada OTT

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:20 WIB

KPK Ungkap Kronologi Penemuan Uang Rp100 Juta di Bawah Jok Mobil dalam OTT Bupati Langkat

KPK Ungkap Kronologi Penemuan Uang Rp100 Juta di Bawah Jok Mobil dalam OTT Bupati Langkat

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:15 WIB

×