Bisakah Sea Farming Berbasis Adat Menyelamatkan Ekonomi Nelayan Pesisir?

Bimo Aria Fundrika

Minggu, 15 Februari 2026 | 21:00 WIB
Bisakah Sea Farming Berbasis Adat Menyelamatkan Ekonomi Nelayan Pesisir?
Ilustrasi pesisir (pexels.com/Tom Fisk)
baca 10 detik
  • IPB University mengembangkan sea farming berbasis adat di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, untuk mengatasi tekanan ekologis dan ekonomi nelayan.
  • Program ini mengintegrasikan sains modern dengan kearifan lokal MHA Kadie Kapota, seperti praktik konservasi Parimparim.
  • Implementasi awal mencakup pembangunan KJA budidaya ikan kerapu, menekankan tata kelola berbasis sosial dan budaya setempat.

Suara.com - Wilayah pesisir Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tekanan penangkapan ikan berlebihan, perubahan iklim, serta terbatasnya pilihan mata pencaharian membuat banyak komunitas nelayan berada dalam posisi rentan—baik secara ekonomi maupun ekologis. Di sejumlah daerah, sumber daya laut yang menjadi tumpuan hidup masyarakat mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Institut Pertanian Bogor (IPB) University mencoba menjawab tantangan tersebut melalui pengembangan konsep sea farming berbasis adat. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi perikanan, tetapi juga pada penguatan tata kelola berbasis kearifan lokal.

Kepala Science Techno Park PKSPL IPB University, Muhammad Qustam Sahibuddin, menekankan bahwa pelibatan masyarakat hukum adat menjadi kunci keberhasilan. Menurutnya, keberlanjutan tidak cukup hanya dengan pendekatan teknis, tetapi perlu ditopang legitimasi sosial dan budaya.

Program ini dijalankan bersama PT PELNI (Persero) dan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Kadie Kapota di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Implementasi awalnya ditandai dengan pembangunan satu unit karamba jaring apung (KJA) berisi enam kotak untuk budidaya ikan kerapu. Model ini menjadi inti dari sistem sea farming berbasis marikultur yang dirancang untuk meningkatkan stok ikan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut dangkal.

Namun, pendekatan ini tidak berdiri di ruang kosong. MHA Kadie Kapota selama ini telah memiliki praktik Parimparim—mekanisme buka-tutup kawasan perairan secara berkala untuk mencegah eksploitasi berlebihan, khususnya gurita. Praktik tersebut menunjukkan bahwa konservasi sebenarnya telah lama hidup dalam tradisi lokal.

IPB melihat titik temu antara sains modern dan sistem adat sebagai peluang. Pendampingan teknis dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) bersama PKSPL IPB, dengan tujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam budidaya, manajemen usaha, hingga tata kelola kelembagaan.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Pengembangan budidaya laut membutuhkan konsistensi pendampingan, akses pasar, serta manajemen risiko agar tidak menimbulkan tekanan ekologis baru. Karena itu, program ini tidak hanya menekankan produksi, tetapi juga pemetaan sosial-ekonomi, penguatan kelembagaan adat, dan diversifikasi mata pencaharian.

Dengan pendekatan tersebut, sea farming diharapkan menjadi alternatif ekonomi yang mengurangi ketergantungan pada penangkapan liar sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Jika berhasil, model ini berpotensi direplikasi di wilayah pesisir lain dengan karakter serupa.

Upaya di Wakatobi menunjukkan bahwa pembangunan pesisir tidak harus memilih antara ekonomi dan konservasi. Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, BUMN, dan masyarakat adat, solusi dapat dirancang tanpa menghilangkan identitas budaya setempat. Tantangan pengelolaan laut memang kompleks, tetapi integrasi ilmu pengetahuan dan kearifan lokal membuka ruang bagi masa depan pesisir yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kampung Nelayan Merah Putih Diubah Jadi 'Mesin Ekonomi' Baru, Ini Rencananya

Kampung Nelayan Merah Putih Diubah Jadi 'Mesin Ekonomi' Baru, Ini Rencananya

News | Kamis, 12 Februari 2026 | 20:40 WIB

Raja Ampat Buktikan Konservasi Laut Bisa Sejahterakan Masyarakat Pesisir: Bagaimana Caranya?

Raja Ampat Buktikan Konservasi Laut Bisa Sejahterakan Masyarakat Pesisir: Bagaimana Caranya?

Lifestyle | Kamis, 12 Februari 2026 | 13:23 WIB

Fenomena Bulan Baru Bisa Picu Banjir Rob, 12 Wilayah Jakut Masuk Status Waspada hingga 16 Februari

Fenomena Bulan Baru Bisa Picu Banjir Rob, 12 Wilayah Jakut Masuk Status Waspada hingga 16 Februari

News | Rabu, 11 Februari 2026 | 09:31 WIB

Terkini

Tak Sanggup Bayar Kontrakan, Janda di Tangsel Terpaksa Tinggal di Tenda Kebun Bersama Anak-Cucu

Tak Sanggup Bayar Kontrakan, Janda di Tangsel Terpaksa Tinggal di Tenda Kebun Bersama Anak-Cucu

Banten | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:52 WIB

Gugatan Karhutla Kalbar Masuk Pengadilan, Warga Soroti Data dan Penanganan Asap

Gugatan Karhutla Kalbar Masuk Pengadilan, Warga Soroti Data dan Penanganan Asap

Kalbar | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:38 WIB

Jualan Pakai QRIS Makin Untung, Biaya Admin Dipangkas Habis oleh BRI!

Jualan Pakai QRIS Makin Untung, Biaya Admin Dipangkas Habis oleh BRI!

Bri | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:33 WIB

Pembangunan PSEL di Kota Tangsel Mandek, DLH Ungkap Masih Ada Warga Tolak Pembebasan Lahan

Pembangunan PSEL di Kota Tangsel Mandek, DLH Ungkap Masih Ada Warga Tolak Pembebasan Lahan

Banten | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:19 WIB

Promo Tiket Bioskop The Premiere Buy 1 Get 2 Khusus Nasabah BRI, Begini Caranya!

Promo Tiket Bioskop The Premiere Buy 1 Get 2 Khusus Nasabah BRI, Begini Caranya!

Bri | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:11 WIB

33 Tahun Kayuh Becak, Kini Acep Beralih ke Becak Listrik Bantuan Prabowo

33 Tahun Kayuh Becak, Kini Acep Beralih ke Becak Listrik Bantuan Prabowo

Bogor | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:10 WIB

Dari Subuh hingga Sore, Begini Perubahan Udara Palembang yang Masih Dikepung Asap

Dari Subuh hingga Sore, Begini Perubahan Udara Palembang yang Masih Dikepung Asap

Sumsel | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:05 WIB

BRI Beri Karpet Merah dan Cashback Fantastis di Event Burberry

BRI Beri Karpet Merah dan Cashback Fantastis di Event Burberry

Bri | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Meski Tak Temukan Bukti Gibran Lulus Setara SMA, MK Tak Berwenang Copot Wapres

Meski Tak Temukan Bukti Gibran Lulus Setara SMA, MK Tak Berwenang Copot Wapres

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 21:51 WIB

Kapolda Jateng Tegaskan Tiga Fokus: Berantas Kejahatan, Layani Warga, Respons Cepat

Kapolda Jateng Tegaskan Tiga Fokus: Berantas Kejahatan, Layani Warga, Respons Cepat

Jawa Tengah | Selasa, 06 Oktober 2026 | 21:32 WIB

×