alexametrics

Anak Muda Sering Jadi Korban atau Dikorbankan, Lalu Dipuji Sebagai Pahlawan

Siswanto
Anak Muda Sering Jadi Korban atau Dikorbankan, Lalu Dipuji Sebagai Pahlawan
Massa aksi dari aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia atau BEM SI berunjuk rasa menolak Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Jumat (16/10/2020). [Suara.com/Arga]

Anak-anak muda, pelajar, mahasiswa, buruh dengan penuh semangat dan idealisme melakukan demo di tengah pandemi.

Suara.com - Untuk menggambarkan sebuah keadaan politik, analis politik dan ekonomi Rustam Ibrahim mengungkapkan sebuah adagium:  "jika anda berumur dibawah 30 tahun dan anda tidak revolusioner, anda tidak punya hati. Tapi jika anda berumur di atas 30 tahun dan masih tetap revolusioner, anda tidak punya kepala.

Rustam mengatakan banyak kaum intelektual berapi-api membela demonstrasi yang dilakukan anak-anak muda, mahasiswa, dan kaum buruh di tengah pandemi Covid-19. Bahkan ada yang mendukung revolusi. "Sayangnya mereka tidak ikut berada di lapangan," kata Rustam.

Anak-anak muda, pelajar, mahasiswa, buruh dengan penuh semangat dan idealisme melakukan demo di tengah pandemi. "Orang-orang tua banyak mendukung demo ini. Tapi mereka tidak ikut berada di jalanan," katanya.

Tetapi biasanya setelah demonstrasi sukses mengubah keadaan, kata Rustam, orang-orang tua yang akan tampil ke depan, membagi-bagikan kekuasaan dan jabatan.

Baca Juga: Usai Debat dengan Ulil Soal Revolusi, Rustam Kembali Didebat Partai Socmed

Sementara para pelajar diminta kembali ke sekolah, mahasiwa back to campus, dan  kaum buruh dipersilakan kembali bekerja di pabrik. "Biar kami yang urus dan bereskan semuanya, kata mereka," kata Rustam.

"Anak-anak muda, pelajar, mahasiswa, buruh demolah, masa sama pandemi saja takut; kami akan selalu di belakang anda kata orang-orang tua. Mereka, orang-orang tua itu memang berada di belakang, tidak di lapangan. Kalau sukses barulah orang-orang tua tampil ke depan dan anak-anak muda diminta mundur ke belakang."

Rustam menekankan anak-anak muda sering jadi korban atau dikorbankan kemudian dipuji-puji sebagai pahlawan. Sementara orang-orang tua tampil sebagai juragan kekuasaan.

Komentar