Ribuan Foto Palsu Perempuan Tak Kenakan Pakaian Beredar di Media Sosial

Siswanto | BBC | Suara.com

Rabu, 21 Oktober 2020 | 11:16 WIB
Ribuan Foto Palsu Perempuan Tak Kenakan Pakaian Beredar di Media Sosial
BBC

Suara.com - Lebih dari 100.000 perempuan diedit fotonya menjadi foto yang menampilkan mereka dalam keadaan bugil. Gambar-gambar itu kemudian beredar di media sosial dan dibagikan secara online, menurut sebuah laporan baru.

Pakaian para perempuan itu dihapus secara digital oleh Kecerdasan Buatan (AI) dan disebarkan melalui aplikasi Telegram.

Beberapa dari mereka yang menjadi target "tampaknya di bawah umur," kata laporan perusahaan intelijen Sensity.

Tetapi mereka yang menjalankan layanan itu mengatakan aktivitas itu dilakukan hanya untuk "hiburan."

BBC telah menguji perangkat lunak tersebut dan menerima hasil yang buruk.

Sensity mengatakan teknologi yang digunakan adalah "deepfake bot."

Deepfake adalah gambar dan video yang dihasilkan komputer, yang seringkali realistis, berdasarkan template nyata.

Salah satu kegunaannya adalah untuk membuat video porno yang menggunakan wajah selebritas.

Namun, kepala eksekutif Sensity, Giorgio Patrini, mengatakan penggunaan foto pribadi relatif baru.

"Memiliki akun media sosial dengan foto yang terbuka untuk publik saja sudah cukup bagi siapa saja untuk dijadikan incaran," tandasnya.

Bot Telegram

Bot dengan kecerdasan buatan itu ada di dalam kanal pesan pribadi Telegram. Pengguna dapat mengirim bot foto seorang perempuan, dan secara digital pakaiannya bisa dihapus dalam hitungan menit, tanpa biaya.

BBC menguji beberapa gambar, semua dengan persetujuan subjek, dan tidak ada hasil yang benar-benar realistis - termasuk foto seorang perempuan dengan pusar di diafragma.

Aplikasi serupa ditutup tahun lalu, tetapi diyakini ada versi perangkat lunak lain yang beredar.

Administrator yang menjalankan layanan itu, yang diidentifikasikan dengan "P" berkata: "Saya tidak terlalu peduli. Ini adalah hiburan yang tidak membawa kekerasan.

"Tidak ada yang akan memeras siapa pun dengan ini karena kualitasnya tidak realistis."

Dia juga mengatakan timnya melihat foto apa saja yang dibagikan, dan "ketika kami melihat anak di bawah umur, kami memblokir pengguna tersebut untuk selamanya."

Tetapi keputusan untuk membagikan foto itu dengan orang lain tergantung pada siapa pun yang menggunakan bot, katanya.

Saat melakukan pembelaan, dia mengatakan: "Ada perang, penyakit, banyak hal buruk yang berbahaya di dunia." Dia juga mengklaim akan segera menghapus semua gambar tersebut.

Telegram belum menanggapi permintaan komentar.

'Konten pedofil'

Sensity melaporkan bahwa antara Juli 2019 dan 2020, sekitar 104.852 perempuan telah menjadi sasaran dan gambar telanjang palsu mereka dibagikan secara publik.

Investigasi yang dilakukan menemukan bahwa beberapa gambar perempuan tampak di bawah umur, "menunjukkan bahwa beberapa pengguna menggunakan bot untuk membuat dan berbagi konten pedofil."

Sensity mengatakan bot tersebut beriklan secara signifikan di situs media sosial Rusia, VK, dan survei di platform tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna berasal dari Rusia dan negara-negara bekas Uni Soviet.

Namun VK berkata: "Mereka tidak mentolerir konten atau tautan semacam itu di platform mereka dan akan memblokir komunitas yang mendistribusikannya."

Telegram secara resmi dilarang di Rusia hingga awal tahun ini.

"Banyak dari situs web atau aplikasi ini tidak beroperasi di bawah tanah karena tidak dilarang secara tegas," kata Giorgio Patrini dari Sensity.

"Sampai [pelarangan] itu terjadi, saya khawatir keadaannya akan bertambah buruk."

Penulis laporan tersebut mengatakan bahwa mereka telah membagikan semua temuan mereka dengan Telegram, VK, dan lembaga penegak hukum terkait, tetapi belum mendapatkan tanggapan.

Nina Schick, penulis buku Deep Fakes and the Infocalypse, mengatakan pengguna deepfake ada di seluruh dunia, dan badan-badan hukum masih "mengejar ketinggalan" dengan teknologi.

"Hanya masalah waktu saja sampai konten itu menjadi lebih canggih. Jumlah video porno deepfake sepertinya berlipat ganda setiap enam bulan," katanya.

"Sistem hukum belum bisa secara tepat menangani masalah ini. Masyarakat berubah lebih cepat dari yang dapat kita bayangkan karena kemajuan teknologi yang eksponensial ini, dan kita sebagai masyarakat belum memutuskan bagaimana cara mengaturnya.

"Bagi korban porno palsu, ini menghancurkan. Tindakan itu benar-benar dapat mengubah hidup mereka karena mereka merasa dilecehkan dan dihina."

Tahun lalu, negara bagian Virginia di AS menjadi salah satu tempat pertama yang melarang deepfake.

Sementara, undang-undang Inggris terkait gambar telanjang palsu baru-baru ini dikritik karena "tidak konsisten, ketinggalan zaman, dan membingungkan" dalam sebuah laporan universitas.

Meskipun ada kemajuan dalam isu-isu seperti revenge porn [penyebaran konten porno untuk tujuan balas dendam] dan upskirting [tindakan memotret dari bawah rok], masih banyak celah dalam hukum", kata Lucy Hadley dari badan amal Women's Aid.

Meskipun statistik ini menunjukkan seberapa luas penyebaran gambar porno palsu, saat ini hal itu bukanlah pelanggaran khusus.

Pemerintah Inggris telah menginstruksikan Komisi Hukum untuk meninjau undang-undang seputar masalah tersebut di Inggris dan Wales. Proses itu diharapkan selesai pada 2021.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gawai, AI, dan Jerat Adiksi Digital yang Mengancam Generasi Indonesia

Gawai, AI, dan Jerat Adiksi Digital yang Mengancam Generasi Indonesia

Your Say | Minggu, 26 Oktober 2025 | 20:05 WIB

6 Bahaya Mengedit Foto Menggunakan AI: Ancaman Tersembunyi di Balik Tren Viral

6 Bahaya Mengedit Foto Menggunakan AI: Ancaman Tersembunyi di Balik Tren Viral

Tekno | Minggu, 14 September 2025 | 16:07 WIB

Era Dominasi Google Terancam? Pencipta ChatGPT Siapkan Mesin Pencari AI Pesaing Berat

Era Dominasi Google Terancam? Pencipta ChatGPT Siapkan Mesin Pencari AI Pesaing Berat

Tekno | Kamis, 17 Juli 2025 | 20:40 WIB

Gibran Gencar Promosikan AI, Pakar NTU Justru Khawatirkan Ancaman 'Pembodohan' Massal

Gibran Gencar Promosikan AI, Pakar NTU Justru Khawatirkan Ancaman 'Pembodohan' Massal

News | Sabtu, 12 Juli 2025 | 09:33 WIB

Daftar Pekerjaan yang Tak Bisa Digantikan AI, Termasuk Penulis dan Jurnalis?

Daftar Pekerjaan yang Tak Bisa Digantikan AI, Termasuk Penulis dan Jurnalis?

Lifestyle | Jum'at, 10 Januari 2025 | 16:52 WIB

Gratis! Google Gemini Hadirkan Imagen 3: Ciptakan Gambar Ajaib dengan AI Canggih

Gratis! Google Gemini Hadirkan Imagen 3: Ciptakan Gambar Ajaib dengan AI Canggih

Tekno | Kamis, 10 Oktober 2024 | 19:06 WIB

Daftar 4 Profesi Tak Tergantikan AI di Masa Depan, Tapi 4 Pekerjaan Ini Terancam 2030!

Daftar 4 Profesi Tak Tergantikan AI di Masa Depan, Tapi 4 Pekerjaan Ini Terancam 2030!

Lifestyle | Selasa, 01 Oktober 2024 | 18:00 WIB

Pemerintah Didesak Segera Susun Undang-Undang buat Atur Penggunaan AI

Pemerintah Didesak Segera Susun Undang-Undang buat Atur Penggunaan AI

News | Selasa, 13 Agustus 2024 | 00:05 WIB

Google Pecat Pegawainya yang Sebut AI adalah Makhluk Berakal

Google Pecat Pegawainya yang Sebut AI adalah Makhluk Berakal

Tekno | Minggu, 24 Juli 2022 | 20:10 WIB

Terkini

Warga Jakarta Kini Wajib Pilah Sampah dari Rumah, Bagaimana Aturan dan Caranya?

Warga Jakarta Kini Wajib Pilah Sampah dari Rumah, Bagaimana Aturan dan Caranya?

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 22:59 WIB

Kasus Kekerasan Seksual di Depok Meningkat, Wakil Wali Kota Ungkap Fakta di Baliknya

Kasus Kekerasan Seksual di Depok Meningkat, Wakil Wali Kota Ungkap Fakta di Baliknya

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 22:13 WIB

Waspada Malaria Knowlesi! Penyakit 'Kiriman' Monyet yang Mulai Mengintai Manusia

Waspada Malaria Knowlesi! Penyakit 'Kiriman' Monyet yang Mulai Mengintai Manusia

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 22:05 WIB

Geger Kabar Syekh Ahmad Al Misry Ditangkap, Polri: Tersangka Masih Sembunyi di Mesir

Geger Kabar Syekh Ahmad Al Misry Ditangkap, Polri: Tersangka Masih Sembunyi di Mesir

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 21:30 WIB

Demo Depan KPK, GMNI DKI Desak Usut Dugaan Mega Korupsi Rp 112 Triliun di Proyek KDMP

Demo Depan KPK, GMNI DKI Desak Usut Dugaan Mega Korupsi Rp 112 Triliun di Proyek KDMP

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 21:29 WIB

Kementerian PKP dan KPK Sinkronkan Aturan Baru Program BSPS untuk Rakyat

Kementerian PKP dan KPK Sinkronkan Aturan Baru Program BSPS untuk Rakyat

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 21:27 WIB

4 Anggota BAIS Penyiram Air Keras Ngaku Salah, Siap Minta Maaf Langsung ke Andrie Yunus

4 Anggota BAIS Penyiram Air Keras Ngaku Salah, Siap Minta Maaf Langsung ke Andrie Yunus

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 21:05 WIB

Ahmad Rizal Ramdhani, Dari Korps Zeni Menuju Penguatan Ketahanan Pangan Nasional

Ahmad Rizal Ramdhani, Dari Korps Zeni Menuju Penguatan Ketahanan Pangan Nasional

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 20:46 WIB

Diplomasi Dudung Abdurachman dengan Dubes Saudi: Ada Undangan Resmi untuk Prabowo Haji Tahun 2027

Diplomasi Dudung Abdurachman dengan Dubes Saudi: Ada Undangan Resmi untuk Prabowo Haji Tahun 2027

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 20:46 WIB

Senyum-senyum Donald Trump Tiba di Beijing Disambut Nyanyian 300 Remaja China

Senyum-senyum Donald Trump Tiba di Beijing Disambut Nyanyian 300 Remaja China

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 20:38 WIB