Sejarah Menarik Jalan Raya Pantura yang Tak Banyak Diketahui

Arief Apriadi

Kamis, 10 Desember 2020 | 16:11 WIB
Sejarah Menarik Jalan Raya Pantura yang Tak Banyak Diketahui
Foto udara kendaraan arus balik di Jalur Pantura, Kendal, Jawa Tengah, Senin (10/6).[ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra]

Suara.com - Siapa yang tidak kenal jalur Pantura (Pantai Utara Jawa)? Jalan raya yang menghubungkan Cilegon-Jakarta-Semarang-Surabaya-Banyuwangi ini adalah primadona penduduk Jawa, terutama saat musim musim mudik tiba.

Namun, mungkin tak semua orang tahu bagaimana sejarah di balik pembangunan jalur yang memiliki nama resmi Jalan Nasional Rute 1 yang terbentang sejajar dengan pantai utara Jawa tersebut.

Endah Sri Hartatik dalam disertasi "Dari Jalan Pesisir Menjadi Jalan Raya Pantura" (Universitas Gadjah Mada, 2016) menuliskan bahwa jalur Pantura adalah transformasi dari Jalan Raya Pos.

Jalan Raya Pos merupakan jalur yang dibuat oleh Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang memerintah pada periode 1808-1811.

Inisiasi Daendels untuk membangun Jalan Raya Pos --yang awalnya untuk menghubungkan Buitenzorg (Bogor)-Karangsambung-- tertuang dalam Surat keputusan (SK) tertanggal 5 Mei 1808.

Deandels membuat Jalan Raya Pos karena terinspirasi Prancis yang memiliki infrastruktur jalan begitu rapih dalam menghubungkan 25 kota di Eropa. Dia juga terpesona oleh jalan trans-Nasional Paris-Amsterdam yang dilaluinya saat menghadap Kaisar Napoleon di Istana Tuileries, Paris.

Meskipun menghadirkan banyak manfaat, Jalan Raya Pos nyatanya dibangun dengan keringat dan darah para pekerja, terutama pekerja rodi yang berasal dari kaum pribumi.

Para pekerja tewas karena kelelahan dan diserang penyakit malaria lantaran iklim dan kondisi Jawa saat itu masih dipenuhi rawa dan hutan, sebagaimana diceritakan Pramoedya Ananta Toer dalam "Jalan Raya Pos Jalan Raya Daendels" (2005).

Pada pelaksanaannya, pembangunan jalan raya itu memang dibebankan kepada para bupati yang daerahnya dilewati jalan tersebut dan dilakukan dengan menggunakan tenaga kerja rodi.

baca juga

Pembangunan yang melibatkan kekuasaan pemerintah daerah dilakukan atas dasar keterbatasan dana yang dibawa Daendels dari Kerajaan Belanda.

Dana awal yang ia bawa hanya sebesar 30.000 ringgit, digunakan hanya untuk mencukupi perapihan jalan dari Batavia (Jakarta) menuju Buitenzorg (Bogor).

Transformasi

Lebih dari 200 tahun setelah pembangunan awal, Jalan Raya Pos pun bertransformasi menjadi jalan yang dikenal luas dengan nama jalur atau Jalan Raya Pantura.

Bunyi gerobak kuda yang mengantar surat-menyrat antar daerah kekuasaan Belanda kini tidak lagi terdengar.

Hiruk pikuk jalur Pantura digantikan oleh bising mesin kendaraan bermotor dan asap pekat dari knalpot truk dan bus lintas Jawa.

Tak ada lagi para pribumi yang mendorong-dorong gerobak guna membawa hasil pertanian untuk dijual. Suasana berubah dengan munculnya alunan nada suara para pengamen di setiap lampu merah.

Perubahan fisik dan fungsi Jalan Raya Pos amat signifikan, dua abad setelah jalan itu dibuat. Revitalisasi Pantura terjadi setelah krisis ekonomi dunia tahun 1930, sebagaimana merujuk disertasi Endah Sri Hartatik.

Kendati bertransformasi secara fisik dan fungsi, satu hal yang tetap sama dari Jalan Pantura dan Jalan Raya Pos adalah keduanya tetap menjadi primadona, yakni oleh penjajah semasa dulu dan oleh penduduk Jawa saat ini.

Pada 1930-an, migrasi penduduk di Pulau Jawa tak terelakkan. Dalam kurun 50 tahun, perkembangan Pantura pesat pada 1980.

Saat itu orientasi ekonomi Pulau Jawa berubah dari tanaman perkebunan menjadi tanaman pangan dan industrialisasi di pesisir pantai utara Jawa.

Geliat aktivitas dan perekonomian di Jalur Pantura terus berjalan hingga medio 2000-an kendati sejak dulu memiliki saingan berat di medio 1800-an, yakni kereta api.

Sejak 1860-an, jalur kereta api mulai dibangun di wilayah Jawa Tengah (Endah Sri Hartatik dalam Dua Abad Jalan Pantura, 2014).

Meski terkesan jadi jalur yang begitu penting bagi masyarakat Jawa, tak satu pun yang mengetahui sejak kapan asal usul kata “Pantura” muncul sebagai nama popular Jalan Nasional Rute 1 tersebut.

Namun demikian, Endah mencatat istilah “Pantura” dalam wacana di media massa muncul pada penghujung 1980.

'Pantura' kerap ditampilkan dalam pemberitaan koran Kedaulatan Rakyat, Kompas, dan Suara Pembaruan yang menyebut Pantura merujuk pada kawasan Pantai Utara Jawa dengan segala aktivitas perekonomian di pesisirnya.

Terlepas dari kapan asal usul itu muncul, Jalur Pantura kini menghadapi tantangan yang sulit untuk tetap menjadi primadona masyarakat Jawa. Namun di sisi lain, ini adalah juga dampak dari perkembangan zaman yang memang terus bergerak maju.

Khususnya sejak tol Cikopo-Palimanan (Cipali) beroperasi pada Juni 2015 silam, Jalur Pantura mulai sepi. Volume kendaraan berkurang lantaran banyak yang beralih menggunakan tol Cipali yang berbayar untuk lebih cepat sampai ke tempat tujuan.

(Sumber tulisan disadur dari buku "Jalan di Indonesia dari Sabang sampai Merauke" yang disusun oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Isi Perjanjian Renville dan Dampaknya bagi Indonesia

Isi Perjanjian Renville dan Dampaknya bagi Indonesia

News | Kamis, 10 Desember 2020 | 13:30 WIB

Sejarah Supersemar: Tujuan dan Isinya

Sejarah Supersemar: Tujuan dan Isinya

News | Kamis, 10 Desember 2020 | 13:00 WIB

Sejarah Bendera Merah Putih di Masa Kerajaan Nusantara hingga Kemerdekaan

Sejarah Bendera Merah Putih di Masa Kerajaan Nusantara hingga Kemerdekaan

News | Kamis, 10 Desember 2020 | 07:34 WIB

Terkini

Buntut Temuan Sel Mewah, Kalapas Cibinong dan 4 Pejabat Resmi Dicopot

Buntut Temuan Sel Mewah, Kalapas Cibinong dan 4 Pejabat Resmi Dicopot

Bogor | Sabtu, 26 September 2026 | 20:18 WIB

Doomscrolling: Antara Kepedulian Sosial dan Rasa Putus Asa yang Mengintai

Doomscrolling: Antara Kepedulian Sosial dan Rasa Putus Asa yang Mengintai

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 20:15 WIB

Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi

Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 20:10 WIB

Resmi di Indonesia! Redmi Note 17 Pro Max Bawa Baterai Jumbo 10.000 mAh

Resmi di Indonesia! Redmi Note 17 Pro Max Bawa Baterai Jumbo 10.000 mAh

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 20:00 WIB

4 Pore Tightening Toner Atasi Tekstur Kasar dan Bruntusan Kulit Berminyak

4 Pore Tightening Toner Atasi Tekstur Kasar dan Bruntusan Kulit Berminyak

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 19:35 WIB

Demi Penuhi Standar, Kendal Tornado FC Bantu Lampu Stadion Sriwedari Rp 1 Miliar

Demi Penuhi Standar, Kendal Tornado FC Bantu Lampu Stadion Sriwedari Rp 1 Miliar

Surakarta | Sabtu, 26 September 2026 | 19:34 WIB

Dari Kuliner hingga Hiburan, Travel Agent Bandung Mulai Lirik Kawasan Wisata Ini di Ibu Kota

Dari Kuliner hingga Hiburan, Travel Agent Bandung Mulai Lirik Kawasan Wisata Ini di Ibu Kota

Lifestyle | Sabtu, 26 September 2026 | 19:13 WIB

Akademisi Diajak Kontribusikan Gagasan untuk Jakarta Vision

Akademisi Diajak Kontribusikan Gagasan untuk Jakarta Vision

Bisnis | Sabtu, 26 September 2026 | 19:06 WIB

Ada Perbaikan Jalan, Akses Jalan Kunir Kota Tua Ditutup Mulai Minggu Malam! Ini Rute Alternatifnya

Ada Perbaikan Jalan, Akses Jalan Kunir Kota Tua Ditutup Mulai Minggu Malam! Ini Rute Alternatifnya

News | Sabtu, 26 September 2026 | 19:05 WIB

Buku All The Bright Places, Meruntuhkan Stigma Negatif Isu Mental Health

Buku All The Bright Places, Meruntuhkan Stigma Negatif Isu Mental Health

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 19:00 WIB

×