alexametrics

508 Pelajar Meninggal karena Covid-19, Kemendikbud: Masih Rendah

Dwi Bowo Raharjo | Stephanus Aranditio
508 Pelajar Meninggal karena Covid-19, Kemendikbud: Masih Rendah
Pelajar SMAN 1 Pontianak, Kalbar, mengikuti proses belajar tatap muka, Senin (31/8/2020). [Suara.com/Eko Susanto]

Harris menegaskan angka rendah ini bukan berarti mengabaikan keselamatan pelajar selama pandemi.

Suara.com - Ketua Sub Bidang Edukasi Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Harris Iskandar, mengungkapkan jumlah pelajar positif corona sudah mencapai 98.867 orang, 508 jiwa diantaranya meninggal dunia selama pandemi Covid-19.

Harris merinci jumlahnya pada usia 0-2 tahun (PAUD) ada 13.120 orang, 3-6 tahun (TK) 14.333 orang, 7-12 tahun (SD) 30.265 orang, 13-15 tahun (SMP) 18.461 orang, dan 16-19 tahun (SMA) 22.688 orang. Totalnya menjadi 98.867 orang.

"Dari populasi anak didik kita usia 0-19 tahun itu sebaran kasusnya sebenarnya sangat rendah, hanya 9,15 persen," kata Harris dalam webinar Tetap Asik Sekolah di Masa Pandemi Covid-19, Jumat (19/2/2021).

Sementara angka kematian anak usia 0-2 tahun (PAUD) ada 179 orang (1,36 persen), 3-6 tahun (TK) 52 orang (0,36 persen), 7-12 tahun (SD) 52 orang (0,35 persen), 13-15 tahun (SMP) 67 orang (0,36 persen), dan 16-19 tahun (SMA) 104 orang (0,46 persen), total 508 jiwa.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Siswa Belajar Online di Banyumas Hanya 70%

"Penyebaran paling banyak di baduta (bayi dua tahun), tentu ini bukan hanya sekadar covid, ada variabel penyakit lain sebelum covid seperti stunting, kurang gizi, sehingga mortality ratenya tinggi," ucapnya.

Meski begitu, menurut Harris hal ini masih terkendali sebab angka kematiannya masih rendah, dan ada 83.707 orang yang sembuh.

"Jadi sangat rendah, jadi di beberapa negara mereka tidak ambil pusing, kegiatan persekolahan tetap jalan, yang harus dijaga itu justru kesehatan para guru dan tenaga pendidikannya," jelasnya.

Harris menegaskan angka rendah ini bukan berarti mengabaikan keselamatan pelajar selama pandemi, sebab aspek keselamatan dan kesehatan adalah hukum tertinggi.

Baca Juga: Tak Sesuai Target, Baru 2.817 Pedagang Tanah Abang Divaksin Covid-19

Komentar