Perjuangan Ribuan Perempuan Disterilisasi Paksa hingga Tak Bisa Punya Anak

Siswanto, BBC

Rabu, 03 Maret 2021 | 21:33 WIB
Perjuangan Ribuan Perempuan Disterilisasi Paksa hingga Tak Bisa Punya Anak
BBC

Suara.com - Serafina Ylla Quispe suatu ketika terbangun di kamar mayat rumah sakit di Cusco, di dataran tinggi selatan Peru, setelah ia dinyatakan meninggal dalam operasi untuk mengikat saluran tuba falopi rahimnya.

Serafina saat itu berusia 34 tahun dan mengaku tidak pernah menyetujui operasi yang dijalaninya pada tahun 1997 itu.

Pada tahun yang sama dan di rumah sakit yang sama pula, Victoria Huamán diduga diberi anestesi dan terbangun beberapa jam kemudian tanpa menyadari bahwa ia telah menjalani prosedur sterilisasi pada usia 29 tahun.

Rudecinda Quilla berusia 24 tahun ketika dokter mengatakan kepadanya bahwa ia tidak akan diizinkan untuk mendapatkan akta kelahiran untuk putra keempatnya, kecuali ia setuju untuk menjalani operasi sterilisasi.

Perempuan itu menolak, tapi ia lalu dipaksa kembali ke ranjang rumah sakit, tangan dan kakinya diikat saat ia disuntik dengan anestesi.

Demikian penuturannya dalam akun pribadinya yang sekarang digunakan sebagai bukti hukum.

Quilla bangun beberapa jam kemudian, diberitahu oleh staf bahwa ia tidak akan pernah "melahirkan seperti hewan" lagi. Kejadian itu dialaminya pada tahun 1996.

Mereka hanyalah sebagian kecil dari ribuan perempuan yang mengaku dipaksa untuk menjalani sterilisasi pada tahun 1990-an dalam rangka program pengendalian kelahiran di masa pemerintahan presiden Peru berkuasa saat itu, Alberto Fujimori.

Kini, pengadilan di Peru akan mendengarkan cerita mereka untuk pertama kalinya, untuk mempertimbangkan apakah mereka bisa mendapatkan keadilan dan kompensasi setelah perjuangan hukum selama 25 tahun.

baca juga

Apa kasus yang diperjuangkan?

Lebih dari 270.000 perempuan dan 22.000 laki-laki, kebanyakan dari mereka adalah komunitas masyarakat adat Quechua dan berasal dari keluarga berpenghasilan rendah, disterilisasi antara tahun 1996-2001, menurut data resmi Kementerian Kesehatan Peru.

Program pengendalian kelahiran, yang dikenal sebagai Operasi Kontrasepsi Sukarela, disosialisasikan sebagai bagian dari kebijakan anti-kemiskinan yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran di kalangan keluarga miskin.

Pemerintah menyatakan prosedur tersebut dilakukan seizin para pasien.

Namun lebih dari 2.000 perempuan menyatakan mereka dipaksa, dilecehkan, diperas atau ditipu untuk menjalani prosedur tersebut.

Jaksa Peru menuduh Fujimori dan anggota kabinetnya bertanggung jawab dalam pelaksanaan program keluarga berencana massal.

Tim hukum mereka mengatakan sterilisasi ditawarkan kepada perempuan dan laki-laki sebagai pilihan metode pengendalian kelahiran.

Tetapi penyelidikan kongres pada tahun 2002 mengatakan ada bukti kuat bahwa staf medis ditekan untuk mencapai target sterilisasi dan prosedur tersebut dilakukan secara rutin tanpa persetujuan perempuan-perempuan terkait.

Laporan itu mengatakan perempuan adat, banyak dari mereka hanya berbicara bahasa Quechua, menjadi sasaran program secara tidak proporsional, yang mendiskriminasi mereka. Sebagian besar tidak menerima perawatan pasca operasi yang memadai, dan beberapa meninggal akibat masalah kesehatan dan komplikasi yang terkait.

Beberapa kelompok yang mewakili para korban percaya bahwa kebijakan negara itu dilakukan "berdasarkan diskriminasi dan rasisme" dan menyebabkan kematian sedikitnya 40 perempuan karena operasi sterilisasi pengikatan saluran tuba falopi.

‘Saya tak mengerti mengapa mereka melakukan ini pada saya’

"Saya tidak mengerti apa yang mereka lakukan terhadap saya [di rumah sakit Cusco]," kata Huamán kepada Asosiasi Perempuan Peru yang Terkena Sterilisasi Paksa (AMPAEF).

Kesaksiannya digunakan oleh jaksa sebagai bukti hukum.

Huamán mengatakan ia baru mengetahui apa yang terjadi setelah merasa mual dan mengunjungi klinik lokalnya di desa Zurite.

"Saat itulah kami, suami saya dan saya, mengetahui bahwa saluran rahim saya telah diikat."

Huamán mengatakan suaminya menyalahkan dia atas operasi tersebut dan akhirnya meninggalkan dia dan ketiga anak mereka.

"Saya kini ayah dan ibu bagi anak-anak saya. Saya merasa sakit terus-menerus, saya merasakan sakit dan sensasi terbakar di bagian tubuh yang dioperasi dan kepala saya sakit," katanya.

"Saya merasa putus asa. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, dan anak-anak saya menderita ketika mereka melihat saya sakit."

‘Saya masih dalam kondisi sadar ketika mereka membedah saya’

Setelah kelahiran anak keempatnya, Rudecinda Quilla mengatakan para dokter di kota Anta memberi tahu ia dan suaminya bahwa mereka "melahirkan seperti babi".

Mereka mencoba memeras Quilla untuk menjalani operasi, katanya kepada AMPAEF. "Mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak akan memberi saya akta kelahiran anak saya jika saya tidak mau disterilisasi."

"Suami saya dibawa dari pertanian tempat dia bekerja oleh petugas polisi. Mereka mencoba memaksanya untuk menandatangani [persetujuan]. Ketika dia menolak, mereka mengancam akan menangkapnya."

Quilla mengatakan dia takut dan mencoba melarikan diri dari klinik, tetapi tangannya digenggam, tangan dan kakinya diikat, lalu ia diberi suntikan dengan obat penenang.

"Saya masih terjaga ketika mereka mengiris perut saya. Saya merasakan sakit yang luar biasa dan menjerit, jadi mereka memberi saya suntikan lagi," kata Quilla dalam kesaksiannya.

"Saya bangun saat hari sudah sore ... Setelah beberapa hari, luka saya terinfeksi dan saya pergi bersama suami ke rumah sakit. Perawat tidak mau memberi saya perawatan.

"Mereka menghina suami saya dan menyebutnya binatang. Butuh waktu lama sampai lukanya sembuh, karena saya takut kembali ke klinik."

Mengapa kasus ini berjalan lama?

Meskipun kisah para perempuan ini telah diketahui selama lebih dari dua dekade, kali ini adalah pertama kalinya cerita mereka sampai di pengadilan Peru.

Sejauh ini Peru telah mengakui tanggung jawab negara atas kematian María Mamérita Mestanza Chavez, setelah Komisi Hak Asasi Manusia Inter-Amerika (IACHR) meminta penyelidikan.

Mestanza yang merupakan perempuan pribumi berusia 33 tahun yang meninggal beberapa hari setelah operasi pada tahun 1998, karena kurangnya perawatan pasca-operasi.

Aktivis mengatakan korban dipaksa menjalani operasi. Kasus ini awalnya ditangguhkan oleh jaksa provinsi, tetapi pada 2010, IACHR meminta Peru untuk menyelidiki dan menghukum mereka yang bertanggung jawab atas kematiannya.

Selama bertahun-tahun, tiga investigasi kriminal terhadap mantan presiden Fujimori dan mantan pejabat kesehatannya telah dibuka dan kemudian disimpan dengan alasan tidak cukup bukti.

Mantan presiden tersebut selalu mengklaim dirinya tidak terlibat langsung dalam menjalankan program pengendalian kelahiran, meski komisi kongres tahun 2002 menemukan bukti bahwa ia telah mendorong pejabat untuk mencapai target sterilisasi.

Baca juga:

Fujimori dipenjara sejak 2007 karena korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia, tetapi dia dibebaskan pada 2014 dari segala pelanggaran yang terkait dengan program sterilisasi.

Pada 2018, jaksa mendakwanya dan mantan menteri kesehatan berdasarkan tuduhan 2.074 korban, termasuk lima orang yang telah meninggal.

Namun persidangan tidak dapat berjalan sesuai rencana, pada bulan Januari tahun ini, karena tidak ada penerjemah yang dapat membantu para perempuan Quechua, banyak dari mereka tidak fasih berbahasa Spanyol.

‘Penundaan yang memalukan’

María Esther Mogollón, juru bicara AMPAEF, mengatakan kepada BBC bahwa penundaan penyelesaian kasus ini "tidak bisa dijelaskan dan memalukan".

"Sudah 25 tahun sejak sterilisasi dimulai. Kasus tersebut menghabiskan 16 tahun di kantor kejaksaan dan diarsipkan serta dibuka kembali. Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan," kata juru kampanye.

Sterilisasi paksa dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan menurut hukum internasional.

Tahun lalu, AMPAEF mengajukan pengaduan terhadap Peru di hadapan Komite PBB untuk Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW), menuntut agar negara tersebut menyelidiki dan menawarkan reparasi kepada korban sterilisasi paksa.

"Pada dasarnya yang terjadi adalah kurangnya kemauan politik, kurangnya pemahaman tentang apa itu hak asasi manusia, kurangnya kepekaan terhadap para korban dan pengabaian total dari negara," kata Mogollón.

Sebuah daftar resmi bagi para perempuan yang mengatakan bahwa mereka telah disteril secara paksa akhirnya dibuka pada tahun 2015 - dan sejak itu lebih dari 7.200 laporan telah muncul.

Apakah para perempuan ini akan mendapat kompensasi?

Kini kisah para perempuan itu akan didengarkan di sidang pengadilan sehingga hakim bisa memutuskan apakah kasusnya dapat dilanjutkan.

Lambatnya sistem peradilan Peru bermakna juga bagi kecilnya kemungkinan mereka mendapatkan putusan dalam waktu dekat, apalagi kompensasi finansial.

Pada tahun 2004, komisi kebenaran dan rekonsiliasi Peru menerbitkan laporan akhir tentang kejahatan yang dilakukan selama konflik internal negara yang melibatkan gerilyawan Maois pada 1980-an dan 1990-an.

Banyak korban berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah, dari komunitas Quechua di dataran tinggi Andes - tetapi perempuan yang disteril tidak sepenuhnya diakui di antara mereka, dan karenanya tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan kompensasi.

Awal tahun ini, Kongres Peru mengubah undang-undang tentang reparasi untuk memasukkan korban kejahatan seksual. Hal ini meningkatkan harapan di antara mereka yang disteril secara paksa selama periode itu.

Tetapi Mogollón mengatakan kemungkinan ini sekarang ditentang oleh Kementerian Kehakiman, yang berpendapat bahwa program sterilisasi tidak terjadi dalam konteks konflik internal.

"Setelah undang-undang berubah, kami belum melihat kemauan politik terhadap kompensasi integral bagi para korban. Dulu mereka bilang tidak punya dasar hukum untuk membayar ganti rugi, sekarang mereka punya dan mereka tidak mau mengamati. itu, "kata Mogollon kepada BBC.

"Para perempuan ini sangat marah. Ini 25 tahun perjuangan mencari keadilan dan kompensasi. Ada perempuan yang telah meninggal selama proses ini. Sebagian besar masih hidup dalam kemiskinan. Ada pengabaian total dari negara. Dan seperti yang mereka katakan dengan benar, mereka tidak meminta sedekah, mereka menuntut hak-hak mereka."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Viral! Hitler Mussolini Terpilih sebagai Wali Kota dengan Dulang 229 Suara, Kok Bisa?

Viral! Hitler Mussolini Terpilih sebagai Wali Kota dengan Dulang 229 Suara, Kok Bisa?

News | Senin, 12 Oktober 2026 | 10:36 WIB

Viral Video Jurnalis Sekaligus Calon Gubernur Peru Susy Isabel Tewas Ditembak Saat Kampanye

Viral Video Jurnalis Sekaligus Calon Gubernur Peru Susy Isabel Tewas Ditembak Saat Kampanye

News | Selasa, 22 September 2026 | 19:25 WIB

Gempa Bumi Besar M 7,2 Guncang Peru

Gempa Bumi Besar M 7,2 Guncang Peru

News | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 11:56 WIB

Setelah Bulgaria, Peru Disebut Bakal Jadi Lawan Timnas Indonesia di FIFA Series 2026

Setelah Bulgaria, Peru Disebut Bakal Jadi Lawan Timnas Indonesia di FIFA Series 2026

Bola | Kamis, 15 Januari 2026 | 16:36 WIB

Misteri Abad ke-20 Terpecahkan: Lubang Aneh di Peru Diduga sebagai Pasar Kuno

Misteri Abad ke-20 Terpecahkan: Lubang Aneh di Peru Diduga sebagai Pasar Kuno

Tekno | Selasa, 11 November 2025 | 18:45 WIB

Identitas 5 Pembunuh Zetro Leonardo Purba, Anggota Geng Kriminal Los Maleantes del Cono

Identitas 5 Pembunuh Zetro Leonardo Purba, Anggota Geng Kriminal Los Maleantes del Cono

Lifestyle | Sabtu, 13 September 2025 | 16:20 WIB

Dedikasi 16 Tahun Berujung Duka: Kemenlu RI Lepas Kepergian Zetro Leonardo Purba

Dedikasi 16 Tahun Berujung Duka: Kemenlu RI Lepas Kepergian Zetro Leonardo Purba

Video | Kamis, 11 September 2025 | 16:30 WIB

Jenazah Staf KBRI Zetro Leonardo Purba Tiba di Indonesia

Jenazah Staf KBRI Zetro Leonardo Purba Tiba di Indonesia

Foto | Rabu, 10 September 2025 | 07:00 WIB

Bukan Perampokan Biasa! Otoritas Peru Duga Staf KBRI Dieksekusi Pembunuh Bayaran

Bukan Perampokan Biasa! Otoritas Peru Duga Staf KBRI Dieksekusi Pembunuh Bayaran

Your Say | Sabtu, 06 September 2025 | 10:24 WIB

Zetro Staf KBRI Diduga Tewas di Tangan Pembunuh Bayaran, Presiden Peru Surati Prabowo

Zetro Staf KBRI Diduga Tewas di Tangan Pembunuh Bayaran, Presiden Peru Surati Prabowo

News | Jum'at, 05 September 2025 | 21:56 WIB

Terkini

Ulasan Novel Good Wives: Perjalanan Empat Saudari March Menuju Kedewasaan

Ulasan Novel Good Wives: Perjalanan Empat Saudari March Menuju Kedewasaan

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Industri F&B RI Terus Naik, Tapi UMKM Masih Minim Adopsi ke Digital

Industri F&B RI Terus Naik, Tapi UMKM Masih Minim Adopsi ke Digital

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:58 WIB

6 Trik Meningkatkan Kecerdasan Emosional agar Lebih Tenang Menghadapi Tekanan Hidup

6 Trik Meningkatkan Kecerdasan Emosional agar Lebih Tenang Menghadapi Tekanan Hidup

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:57 WIB

Kembangkan Kasus Pembakaran Warung Mi Babi, Polisi Gerebek Ponpes di Karanganyar

Kembangkan Kasus Pembakaran Warung Mi Babi, Polisi Gerebek Ponpes di Karanganyar

Jawa Tengah | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:56 WIB

5 Sabun Cuci Muka dengan Ekstrak Semangka, Ampuh Cerahkan Wajah Kusam

5 Sabun Cuci Muka dengan Ekstrak Semangka, Ampuh Cerahkan Wajah Kusam

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:55 WIB

Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam

Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam

Kaltim | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:52 WIB

Bawa Enam Tuntutan, FPR dan ILPS Akan Gelar Aksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Bawa Enam Tuntutan, FPR dan ILPS Akan Gelar Aksi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:45 WIB

Bantai Landak Jawa Pakai Senapan Modifikasi, Dua Pemburu Liar Diciduk di Hutan Malang

Bantai Landak Jawa Pakai Senapan Modifikasi, Dua Pemburu Liar Diciduk di Hutan Malang

Malang | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:35 WIB

Kucurkan Rp10 Miliar untuk Solusi Banjir Rob, Pemprov Jateng Bangun Tanggul Hybrid di Demak

Kucurkan Rp10 Miliar untuk Solusi Banjir Rob, Pemprov Jateng Bangun Tanggul Hybrid di Demak

Jawa Tengah | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:35 WIB

Wajah Baru Bandar Lampung: Proyek Jalan Beton dan Trotoar Megah Dikebut!

Wajah Baru Bandar Lampung: Proyek Jalan Beton dan Trotoar Megah Dikebut!

Lampung | Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:30 WIB

×