Pejabat India Tuding Jeans Robek Sebabkan Kerusakan Moral

Siswanto, BBC

Selasa, 23 Maret 2021 | 10:58 WIB
Pejabat India Tuding Jeans Robek Sebabkan Kerusakan Moral
BBC

Suara.com - Denim - kain katun yang dulu digunakan untuk karung tinju favorit para leluhur India, dan secara rutin selalu disalahkan atas degradasi moral kaum muda - kembali menjadi berita.

Baru-baru ini, yang terganggu oleh jeans (celana berbahan denim) adalah Tirath Singh Rawat, Menteri Utama negara bagian Uttarakhand, India, yang baru dilantik.

Awal pekan ini, dia menyalahkan "jeans robek" sebagai penyebab atas semua penyakit yang diderita kaum muda.

Berbicara dalam lokakarya yang diselenggarakan oleh Komisi Negara untuk Perlindungan Hak Anak, Singh Rawat mengkritik seorang perempuan -tidak disebutkan namanya- yang ditemuinya dalam penerbangan.

Perempuan itu, kata Rawat, bepergian dengan dua anak sambil "mengenakan sepatu bot, celana jeans robek di lutut, dan memiliki beberapa gelang di lengannya".

"Anda menjalankan LSM, bergerak dalam masyarakat, tapi mengenakan jeans yang sobek, anak-anak bersama Anda, nilai-nilai apa yang akan Anda ajarkan?" Rawat bertanya.

Anggota nasionalis Hindu dari Partai Bharatiya Janata itu kemudian menggambarkan jeans robek sebagai pakaian yang menyebabkan dan merupakan gejala dari kerusakan moral.

Rawat juga mengkritik orang tua karena mengizinkan anak-anak mereka, terutama perempuan, untuk memakainya.

Kepala menteri dari Uttarakhand itu mengecam orang India karena "tengah berlari menuju ketelanjangan" dan mengklaim bahwa "ketika orang-orang di India mengenakan jeans robek, orang-orang di luar negeri menutupi tubuh mereka dengan benar dan melakukan yoga".

baca juga

Komentar Rawat menarik kecaman luas di India.

Partai oposisi Kongres mengeluarkan pernyataan yang memintanya untuk "meminta maaf kepada semua perempuan India" - atau mengundurkan diri.

Pada hari Kamis, pemimpin senior partai oposisi Priyanka Gandhi Vadra membagikan foto-foto Perdana Menteri Narendra Modi dan salah satu rekan kabinetnya yang "berlutut":


https://twitter.com/priyankagandhi/status/1372559046625038338


Kepala Komisi Perempuan Delhi, Swati Maliwal, melalui Twitternya, menuduh Rawat telah "menyebarkan kebencian terhadap perempuan":


https://twitter.com/SwatiJaiHind/status/1372430950735380482


Dalam twit Hindi, Maliwal menunjukkan bahwa masalahnya tidak hanya tentang apa yang dikatakan tetapi juga cara Rawat mengatakannya - Maliwal mengatakan Rawat telah mengaku "memandang perempuan itu dari atas ke bawah".

Ucapan Rawat juga memicu badai cekaman di Twitter oleh ribuan perempuan India - dan beberapa pria - yang membagikan foto mereka mengenakan jeans robek. Dari tagar #RippedJeansTwitter hingga #RippedJeans menjadi tren selama berjam-jam.


https://twitter.com/DeekshaNRaut/status/1372231138404630529


https://twitter.com/IamBhumikaC/status/1372240710607331330


Beberapa menyebut Rawat di akun Twitter mereka; dan beberapa menasihatinya untuk mengkhawatirkan hal-hal yang lebih penting seperti "ekonomi yang rusak" dan "keselamatan perempuan":


https://twitter.com/LavanyaBallal/status/1372144429012639746


Pada hari Jumat, Rawat mengucapkan permintaan maaf - dia menyesal jika komentarnya menyakiti siapa pun. Rawat mengatakan niatnya bukan untuk menunjukkan rasa tidak hormat kepada siapa pun dan menegaskan semua orang bebas mengenakan apa yang mereka pilih.

Dia bukan satu-satunya politisi India yang mengeluarkan nasihat tentang pakaian untuk perempuan.

Lima tahun lalu, saya menulis tentang kemarahan masyarakat atas ucapan Menteri Kebudayaan Mahesh Sharma yang menyarankan agar dalam daftar yang diberikan kepada turis di bandara mengatur bahwa mereka tidak boleh mengenakan rok atau gaun selama di India dan tidak boleh keluar sendirian di malam hari di kota-kota kecil.

Saya mengutip contoh dari beberapa politisi terkemuka yang menghubungkan pemerkosaan dan kekerasan seksual dengan pakaian perempuan.

Pada tahun 2014, penyanyi legendaris KJ Yesudas dikritik karena mengatakan perempuan tidak boleh mengenakan jeans karena "bertentangan dengan budaya India" dan memprovokasi perilaku yang "tidak diinginkan".

Pembatasan pakaian, terutama untuk perempuan dewasa dan anak, secara rutin dilaporkan terjadi di pedesaan India, dengan budaya patriarki.

Minggu lalu, dewan kasta desa di negara bagian Uttar Pradesh mengatakan perempuan dengan jeans dan rok - dan anak laki-laki dengan celana pendek - akan diboikot secara sosial.

Satu dekade lalu, dewan kasta di desa Battisa di Uttar Pradesh telah melarang anak perempuan mengenakan jeans atau menggunakan ponsel.

Pada 2014, pertemuan sesepuh desa dari 46 desa mengumumkan larangan serupa. Tiga tahun kemudian, desa-desa di Haryana dan Rajasthan juga melarang perempuan membawa ponsel atau mengenakan jeans.

Jadi, mengapa beberapa pemimpin India begitu gusar dengan sepotong pakaian?



Denim pertama kali mendapatkan popularitas di India pada 1980-an dan selama bertahun-tahun telah menjadi pakaian pilihan, terutama bagi kaum muda, di seluruh negeri.

Pasar denim India bernilai lebih dari Rp57,6 triliun atau $US4 miliar dan diperkirakan akan tumbuh menjadi Rp172,9 triliun pada tahun 2028.

Dalam beberapa tahun terakhir, jeans robek menjadi sangat populer dan semua orang mulai dari bintang Bollywood, selebriti hingga orang biasa terlihat memakainya.

Tapi orang India, kata perancang busana Anand Bhushan, memiliki "hubungan cinta-benci" dengan jeans robek.

"Untuk kaum muda, mereka terlihat gaul, keren dan cocok dengan kerumunan yang modis. Sedangkan bagi orang tua dan kakek-nenek mereka, mereka tidak dapat memahami mengapa anak-anak mengenakan pakaian robek."

Tapi, ketidaksukaan orang tua pada gaya busana anak mereka adalah masalah yang sama sekali berbeda ketika otoritas publik mulai menyalahkan pakaian untuk penyakit masyarakat.

"Ini upaya untuk mengontrol perempuan. Melelahkan bagaimana patriarki laki-laki ini bersembunyi di balik tabir tradisi yang merendahkan perempuan dengan mencoba mengontrol apa yang mereka kenakan," kata Bhushan.

"Mereka tidak memiliki argumen baru sehingga menawarkan argumen yang sama bahwa jeans bukanlah bagian dari budaya kita, bahwa jeans berasal dari Barat."

Kritik Menteri Rawat terhadap jeans robek memiliki konsekuensi yang tidak disengaja - ini mendorong beberapa orang mencobanya untuk pertama kali.

Viji Venkatesh, seorang konselor kanker yang berbasis di Mumbai, termasuk di antara mereka yang memposting foto mereka di Twitter.

Venkatesh mengatakan kepada saya bahwa dia "sangat marah" oleh komentar "konyol dan menyinggung" yang diucapkan Rawat sehingga dia "memotong celana jeans yang bagus" untuk mengubahnya menjadi robek.

"Saya berusia 69 tahun dan umumnya memakai sari. Saya juga selalu bertanya-tanya mengapa anak-anak memakai jeans robek," katanya.

"Tapi saya sangat marah dengan ucapan anti-perempuan Rawat sehingga pada saat kesal itu saya membuat lubang di dalamnya dan mengunggah foto memakainya di Twitter."


https://twitter.com/vijivenkatesh/status/1372403763164684293


Saya bertanya padanya, apakah dia berubah pikiran sekarang?

"Tidak, celana ini benar-benar nyaman di lutut saya dan masih terlihat cukup bagus," katanya sambil tertawa.

Tapi, dengan catatan serius, dia menambahkan, bahwa apa yang dikenakan perempuan bukanlah urusan siapa pun kecuali mereka sendiri.

"Ini bukan urusan Rawat. Dia harusnya khawatir tentang mencairnya gletser di Uttarakhand, masalah lingkungan yang dihadapi negara dan bukan tentang apa yang dikenakan perempuan."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

WNA India Produksi Emas Ilegal hingga 30 Kg Sehari, Sahroni Minta Pembeking Diusut

WNA India Produksi Emas Ilegal hingga 30 Kg Sehari, Sahroni Minta Pembeking Diusut

News | Selasa, 18 Agustus 2026 | 18:52 WIB

Bareskrim Ungkap Modus Pengolahan Emas Ilegal di Apartemen Sunter

Bareskrim Ungkap Modus Pengolahan Emas Ilegal di Apartemen Sunter

News | Minggu, 16 Agustus 2026 | 14:05 WIB

Profil Bangladesh Tim Pengganti India di FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Pernah Dipecundangi

Profil Bangladesh Tim Pengganti India di FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Pernah Dipecundangi

Bola | Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:20 WIB

Negara Ranking 181 Ini Diminta Gantikan India Lawan Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Negara Ranking 181 Ini Diminta Gantikan India Lawan Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 17:30 WIB

Hidup Gen Z Makin Susah, Cuma Pakai 5 Persen Gaji Buat Healing Bulanan

Hidup Gen Z Makin Susah, Cuma Pakai 5 Persen Gaji Buat Healing Bulanan

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:25 WIB

India Mundur, Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

India Mundur, Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:18 WIB

Alasan India Lebih Pilih Brasil Dibanding Timnas Indonesia, Rela Batal Ikut FIFA ASEAN Cup 2026

Alasan India Lebih Pilih Brasil Dibanding Timnas Indonesia, Rela Batal Ikut FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Gen Z Putus Asa dan Stres Susah Cari Kerja, 40 Persen Sarjana Jadi Pengangguran di India

Gen Z Putus Asa dan Stres Susah Cari Kerja, 40 Persen Sarjana Jadi Pengangguran di India

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:39 WIB

Ketum PSSI-nya India: Lawan Brasil Lebih Bergengsi Dibanding Hadapi Timnas Indonesia

Ketum PSSI-nya India: Lawan Brasil Lebih Bergengsi Dibanding Hadapi Timnas Indonesia

Bola | Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:36 WIB

Kami Cari Lawan yang Lebih Kuat! India Mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026

Kami Cari Lawan yang Lebih Kuat! India Mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:26 WIB

Terkini

AI hingga Microchip, RI-China Buka Jalan Baru Kerja Sama Teknologi

AI hingga Microchip, RI-China Buka Jalan Baru Kerja Sama Teknologi

Tekno | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:55 WIB

Kalimantan Belum Selesai, Karhutla Kini Kepung Papua Tengah: Api Makin Meluas

Kalimantan Belum Selesai, Karhutla Kini Kepung Papua Tengah: Api Makin Meluas

News | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:35 WIB

Tampang Maulana Paputungan Ayah Keji Pembunuh Disertai Mutilasi Anak Kandung di Merauke

Tampang Maulana Paputungan Ayah Keji Pembunuh Disertai Mutilasi Anak Kandung di Merauke

News | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:00 WIB

Beli Voucher Game di BRImo Dapat Cashback Saldo 50 Persen

Beli Voucher Game di BRImo Dapat Cashback Saldo 50 Persen

Bri | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:28 WIB

Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, HIPMI Dorong Pengusaha Lokal Ikut Menikmati Dampaknya

Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, HIPMI Dorong Pengusaha Lokal Ikut Menikmati Dampaknya

Bisnis | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:25 WIB

Karhutla Kalimantan Mengganas, Presiden Prabowo Optimistis Bisa Segera Dijinakkan

Karhutla Kalimantan Mengganas, Presiden Prabowo Optimistis Bisa Segera Dijinakkan

News | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:00 WIB

22,69 Juta Pengguna Kripto RI, Tantangan Berikutnya Bikin Mereka Tak Lari ke Platform Asing

22,69 Juta Pengguna Kripto RI, Tantangan Berikutnya Bikin Mereka Tak Lari ke Platform Asing

Bisnis | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:45 WIB

Bukan Sekadar Hitung Langkah, Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Atur Beban Latihan

Bukan Sekadar Hitung Langkah, Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Atur Beban Latihan

Tekno | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:20 WIB

Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut

Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut

Your Say | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:14 WIB

Prabowo Tak Main-Main! Bidik 4 Korporasi di Balik Karhutla Kalimantan, Izin Bakal Dicabut

Prabowo Tak Main-Main! Bidik 4 Korporasi di Balik Karhutla Kalimantan, Izin Bakal Dicabut

News | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:05 WIB

×