alexametrics

Emak-emak Protes Tayangan Voli Pantai karena Pamer Aurat, KPI: Ini Olahraga, Lumrah Saja

Agung Sandy Lesmana | Yaumal Asri Adi Hutasuhut
Emak-emak Protes Tayangan Voli Pantai karena Pamer Aurat, KPI: Ini Olahraga, Lumrah Saja
Ilustrasi tayangan voli pantai. [Antara/INASGOC/Muhammad Adimaja]

Ini adalah sesuatu yang olahraga, tidak ada tendensi apapun..."

Suara.com - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) angkat bicara terkait protes masyarakat terhadap penayangan voli pantai dalam Olimpiade Tokyo 2020 di salah satu stasiun televisi swasta, karena menampilkan para atlet mengenakan bikini, tanpa disensor. 

Merespons hal tersebut, Komisioner KPI Yuliandre Darwis mengungkapkan,  laporan itu sedang diproses oleh tim analisa KPI. Dia memastikan pihaknya akan bersikap objektif. 

“Aduan tersebut sedang diproses oleh analisis isi siaran, dan KPI pasti mengkaji secara baik, tapi kita harus mengedukasi masyarakat terhadap yang mana jadi kategori-kategori  yang menimbulkan hasrat misalnya seperti itu,” kata Yuliandre saat dihubungi Suara.com, Kamsi (5/8/2021). 

Ungkapnya, dalam kasus ini, KPI harus bijak dalam mengambil keputusan. Sebab sebelumnya, KPI sempat mendapatkan kritikan dari masyarakat, karena adanya sensor dalam penayangan lomba renang saat perhelatan ASEAN Games beberapa tahun lalu. 

Baca Juga: Kasus Baru COVID-19 di Kampung Atlet Olimpiade, Kali Ini Pelatih Voli Pantai Ceko Terpapar

Ketua KPI Yuliandre Darwis berbicara usai pengumuman hasil seleksi Komisioner KPI Pusat periode 2019-2022, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (10/07/2019). (Antara/Kuntum Khaira Riswan)
Ketua KPI Yuliandre Darwis berbicara usai pengumuman hasil seleksi Komisioner KPI Pusat periode 2019-2022, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (10/07/2019). (Antara/Kuntum Khaira Riswan)

“Apalagi dulu kan KPI pernah dibully (mendapatkan bullying), saat ASEAN Games, atlet renang diblur (sensor). Itu kenapa di-blur, ada lagi yang bilang kalau sekarang kenapa enggak di blur? Ini kan harus dipahami juga secara edukasinya kepada masyarakat,” jelas Yuliandre. 

Kendati demikian, Yuliandre mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakan oleh para atlet voli pantai dalam perhelatan Olimpiade Tokyo 2020 merupakan standar olahraga internasional.

“Ini adalah sesuatu yang olahraga, tidak ada tendensi apapun. Tapi bagaimanapun kami akan melihat ini secara objektif. Tapi secara lumrah, olahraga itulah olahraga. Itu saja,” tegasnya. 

Oleh karenanya Yuliandre meminta masyarakat untuk bijak menyikapinya, sambil menunggu proses analisis yang dilakukan KPI. 

“Tunggu saja dulu, sambil kami melihatnya secara objektif, yang namanya pengaduan  apa saja bisa dilihat,” tutupnya.

Baca Juga: KPI, Radar Sensormu Masih Salah Sasaran!

Wanita protes soal tayangan olimpiade tokyo 2020 gegara pakaiannya pakai bikini. (Instagram/lambe_turah)
Wanita protes soal tayangan olimpiade tokyo 2020 gegara pakaiannya pakai bikini. (Instagram/lambe_turah)

Viral

Sebelumnya, beredar aduan dari seorang warganet yang memprotes tayangan Olimpiade Tokyo 2020. Siaran Olimpiade Tokyo 2020 di salah satu televisi swasta mendapatkan kritik dari seorang warganet.

Dalam unggahan yang dibagikan oleh akun Instagram @lambe_turah, salah seorang warganet memberikan aduan kepada KPI terkait tayangan Olimpiade Tokyo 2020.

Menurutnya, tayangan tersebut dinilai tidak sopan karena atlet wanita cabang bola voli menggunakan bikini.

Dia mengatakan, hal tersebut cukup vulgar sehingga KPI harus memberikan sensor saat tayangan tersebut disiarkan.

Dinilai Tak Baik

Dalam foto yang beredar, protes tersebut dikirimkan melalui pojok aduan yang ada di situs Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Ditulikan dalam aduan tersebut, ia meminta agar KPI bisa menegur televisi swasta yang menayangkan pertandingan Olimpiade Tokyo 2020 kategori bola voli wanita.

Menurutnya, tayangan itu tidak baik disiarkan karena atlet wanita cabang bola voli menggunakan bikini saat bertanding.

"Penayangan Olympic di TV memang baik, namun untuk kategori olahraga volley ball wanita, para pemainnya menggunakan bikini dan hal ini tidak baik untuk disiarkan," tulisnya, dikutip Suara.com.

Dia pun meminta agar pihak KPI bisa memberikan sensor apabila tayangan tersebut disiarkan. Sebab menurutnya tayangan yang cukup vulgar biasanya disensor atau diblur.

"Mengingat, hal vulgar lainnya saja disensor atau diblur. Tapi kenapa yang ini tidak? Apalagi biasanya slot waktu itu dipakai pengajian mama dedeh, agak ironi sebenarnya," ujarnya.

Ia mengomentari soal pakaian atlet yang digunakan saat bertanding. Menurutnya masih banyak yang lebih terlihat santun.

"Banyak cabang olimpiade lain (yang lebih santun pakaiannya) yang bisa disiarkan," tuturnya.

Kemudian dia berharap agar KPI bisa menegur stasiun TV swasta untuk memberikan tayangan yang lebih layak. Unggahan protes tersebut langsung mencuri perhatian warganet. Mereka ikut memberikan komentarnya.

"Ya enggak usah ditonton lah, giliran sinetron yang bikin akhlak bobrok ngadain nobar," komentar warganet.

"Ganti channel aja mbak, biar nggak repot, pilih channel yang sesuai dengan dirimu," kata warganet.

"Voli disuruh pakai gamis pengennya dia," balas warganet lain.

Komentar