alexametrics

Sempat Bantu Joe Biden, Penerjemah Ini Masih Tertinggal di Afghanistan

Dwi Bowo Raharjo | Hikmawan Muhamad Firdaus
Sempat Bantu Joe Biden, Penerjemah Ini Masih Tertinggal di Afghanistan
Joe Biden bersama penerjemahnya yang masih tertinggal di Afghanistan.[John Silson/ US Department of State via Al Arabiya]

Ia sempat ditolak oleh pasukan AS untuk masuk ke pesawat evakuasi di bandara Kabul.

Suara.com - Seorang penerjemah yang membantu menyelamatkan Presiden Amerika Serikat Joe Biden saat mendarat darurat di Afghanistan masih tertinggal di Kabul dan meminta bantuan.

Menyadur Al Arabiya Rabu (1/10/2021), Wall Street Journal melaporkan bahwa seorang penerjermah yang hanya ingin disebutkan sebagai Mohemmed meminta bantuan kepada Joe Biden.

"Halo Pak Presiden: Selamatkan saya dan keluarga saya. Jangan lupakan saya di sini," katanya seperti dikutip Wall Street Journal.

Mohammed merupakan salah satu dari sekian banyak warga Afghanistan yang belum terangkut oleh pesawat Amerika Serikat.

Baca Juga: Jenderal Militer Amerika : Perang Afghanistan Berakhir

Pasukan dan pejabat AS terakhir meninggalkan Afghanistan pada hari Senin (30/8/2021) dan langsung disambut gembira oleh Taliban.

Banyak orang Afghanistan yang dulu bekerja untuk negara asing di Afghanistan takut akan pembalasan oleh Taliban.

Meskipun Taliban sudah mengumbar janji akan memberikan amnesti kepada pegawai pemerintah, namun kenyataan di lapangan berbeda.

Aktivis dan jurnalis lokal mengatakan banyak laporan tentang penggeledahan rumah dan penangkapan orang-orang oleh Taliban.

Mohammed adalah seorang penerjemah berusia 36 tahun yang bekerja untuk militer AS pada 2008. Ia juga berjasa ikut menyelematakan Joe Biden, yang saat itu masih menjadi senator.

Baca Juga: Viral Foto Bocah Afghanistan Loncat Riang Saat Tiba di Bandara Belgia

Ketika itu, dua helikopter Black Hawk AS melakukan pendaratan darurat di Afghanistan karena terkendala badai salju.

Helikopter itu membawa Joe Biden, politisi Demokrat John Kerry dan Republikan Chuck Hagel.

"Sebagai tim keamanan swasta dengan mantan perusahaan Blackwater dan tentara AS memantau setiap pejuang Taliban di dekatnya, kru mengirimkan panggilan darurat untuk meminta bantuan," buka WSJ dalam laporannya.

"Mohammed bergabung bersama Pasukan Reaksi Cepat dari Divisi Lintas Udara ke-82 dan berkendara berjam-jam ke pegunungan terdekat untuk menyelamatkan mereka," jelasnya.

Aplikasi visa Mohammed macet setelah kontraktor pertahanan tempat dia bekerja kehilangan catatan yang dia butuhkan.

Mohammed kemudian mencoba keluar dari Afghanistan dengan ribuan orang melalui bandara Kabul. Namun, sayangnya ia ditolak oleh pasukan AS.

Mohammed mengatakan dia bisa masuk tetapi pasukan AS tidak mengizinkan untuk membawa istri dan empat anaknya.

Komentar