alexametrics

Kronologi Pria Tewas Dikubur Hidup-hidup Karena Diduga Mencuri Sayur di Garut

Rifan Aditya | Ruth Meliana Dwi Indriani
Kronologi Pria Tewas Dikubur Hidup-hidup Karena Diduga Mencuri Sayur di Garut
Ilustrasi Penganiayaan [Antara]

Korban dikeroyok, disayat lehernya, sampai dikubur hidup-hidup setelah diduga mencuri sayur di Kecamatan Cigedung, Garut.

Namun, mereka semua justru sepakat memasukkan tubuh Maman yang tak berdaya ke liang lahat. Korban kemudian dililit karung sebelum dimasukkan lubang tersebut.

Sebelum mengubur, seorang warga memutuskan untuk mengakhiri nyawa Maman. Pelaku menyayat leher korban, lalu bersama warga lainnya mengubur Maman hidup-hidup.

"Saat itu, ada salah satu pelaku yang melihat korban masih bernyawa. Pelaku kemudian turun ke lubang dan menghabisi nyawa korban dengan luka sayatan di leher," ujar Wirdhanto.

Kasus kematian Maman baru terungkap 5 hari setelah kejadian. Hal ini setelah Polres Garut menerima laporan kehilangan Maman dari pihak keluarga.

Baca Juga: Miris! Dianiaya Guru, Pelajar SMP Tewas Mengenaskan

Polres Garut langsung melakukan penyelidikan dan menerima informasi pengeroyokan di kawasan Cigedug. Dari situlah, kepolisan berhasil menemukan jasad Maman yang terkubur hidup-hidup.

"Dari sana, tim kami langsung melakukan penyelidikan dan menemukan adanya informasi di kawasan Cigedug," beber Wirdhanto.

Jenazah Maman kemudian dibawa ke RSUD dr. Slamet Garut. Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi menyimpulkan ada 14 orang tersangka dalam kasus tersebut.

Mereka semua memiliki peran masing-masing dalam mengakhiri nyawa Maman. Mulai dari mengeroyok sampai menggali lubang untuk mengubur Maman hidup-hidup.

Wirdhanto mengatakan, para pelaku kini telah ditangkap dan mendekam di sel tahanan Mako Polres Garut. Mereka dijerat dengan pasal berlapis, yakni terkait pengeroyokan, penganiayaan, pembunuhan dan pembunuhan berencana.

Baca Juga: Mahasiswa UNS Asal Karanganyar Tewas Saat Diklat Menwa, Ini Kata Bupati

"Kami jerat Pasal 170, 351, 338 dan 340 KUHP," pungkas Wirdhanto.

Komentar