India Perang Lawan Kebiasaan Meludah di Tempat Umum Demi Hindari Penyakit

Siswanto, BBC

Selasa, 28 Desember 2021 | 12:10 WIB
India Perang Lawan Kebiasaan Meludah di Tempat Umum Demi Hindari Penyakit
BBC

Suara.com - Raja dan Priti Narasimhan memulai perjalanan keliling India dengan membawa satu pesan: berhenti meludah di tempat umum. Pasangan itu membawa pengeras suara dan menyuarakan pesan mereka dari dalam mobil yang dipenuhi slogan-slogan anti-meludah.

Jika Anda pernah mengunjungi India, Anda pasti mengerti apa yang dihadapi Raja dan Priti Narasimhan. Di India, air liur menghiasi jalanan.

Kadang-kadang polos dan berlendir, kadang-kadang berwarna merah seperti darah karena mengunyah sirih atau paan, campuran sirih dengan pinang atau tembakau. Air liur itu 'menghiasi' dinding-dinding, mulai dari yang sederhana sampai bangunan besar. Bahkan jembatan howrah yang bersejarah di kota Kolkata.

Pasangan itu berkeliling India untuk melindungi jalan-jalan, gedung-gedung, dan jembatan dari air liur masyarakat. Raja dan Priti tinggal di kota Pune, dan telah ditunjuk sebagai pejuang melawan momok meludah sejak 2010.

Lokakarya, kampanye daring dan luring, upaya pembersihan bersama kotamadya setempat, semuanya sudah mereka lakukan. Raja bercerita, suatu hari mereka mengecat dinding di stasiun kereta api Pune yang dipenuhi noda paan, tapi dalam tiga hari, orang-orang sudah meludahinya lagi.

"Tidak ada alasan untuk meludahi dinding!" kata Raja.

Baca juga:

Namun, selama ini, orang-orang tidak peduli dengan teguran Raja dan Priti, beberapa bahkan marah. Raja ingat ada seorang pria yang bertanya kepadanya: "Apa masalahmu? Apakah bangunan ini milik ayahmu?"

Namun, gelombang Covid-19 yang melanda India telah mengubah beberapa hal, kata Raja. Beberapa orang yang terbiasa meludah bahkan telah meminta maaf.

baca juga

"Ketakutan terhadap pandemi membuat mereka berpikir," katanya.

'Negara yang suka meludah'

Perjuangan India melawan kebiasaan orang-orang yang meludah di jalanan selalu setengah hati. Kota Mumbai pernah menerapkan tindakan keras.

Seorang pengawas memarahi orang agar tidak meludah, membuang sampah sembarangan, atau buang air kecil di tempat umum. Namun, pelanggaran meludah telah lama diabaikan.

Kemudian datanglah Covid, yang bisa menyebar lewat udara, ditambah lagi kebiasaan para laki-laki India yang suka meludah di mana saja sesuka mereka.

Pihak berwenang segera bertindak, menghukum orang yang suka meludah dengan denda yang lebih berat dan bahkan hukuman penjara, semuanya di bawah Undang-Undang Penanggulangan Bencana. Bahkan Perdana Menteri Narendra Modi menyarankan warganya untuk tidak meludah di tempat umum - sesuatu yang "kami selalu tahu itu salah".

Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan situasi 2016 lalu, ketika menteri kesehatan, menjawab pertanyaan tentang ancaman meludah.

Waktu itu, dia mengatakan kepada parlemen: "Tuan, India adalah negara yang penduduknya suka meludah. Kita meludah saat bosan; kita meludah saat lelah; kita meludah saat marah atau kita meludah begitu saja. Kita meludah di mana saja dan kita meludah setiap saat, bahkan pada jam-jam yang tidak lazim."

Menteri kesehatan itu ada benarnya juga. Meludah adalah yang yang biasa terjadi di jalan-jalan India. Para laki-laki yang bersantai di sisi jalan, dengan santai menggerakkan kepala mereka beberapa inci, dan membuang air liurnya. Laki-laki yang mengendarai mobil, sepeda, dan becak tidak ragu-ragu untuk meludahi lampu lalu lintas.

Kebiasaan itu seringkali didahului dengan peringatan berupa suara serak yang unik saat mereka hendak mengeluarkan air liur yang bercampur dahak.

Dan kebiasaan itu sangat banyak dilakukan oleh laki-laki. Mereka merasa nyaman dengan tubuh mereka, kata kolumnis Santosh Desai, "dan segala sesuatu yang keluar dari tubuh."

"Mereka merasa tidak mementingkan diri sendiri dengan melepaskan diri di depan umum," katanya. "Jika saya tidak nyaman, saya akan segera bertindak, gagasan menahan diri sebenarnya tidak ada."

Meludah juga dianggap sebagai sesuatu yang 'keren' yang berkaitan dengan maskulinitas, kata Uddalak Mukherjee, editor asosiasi di surat kabar India Telegraph.

Tapi mengapa meludah di ruang publik?

Raja Narasimhan menemukan alasannya. Kebanyakan orang melakukannya karena marah atau hanya mengisi waktu luang karena mereka tidak punya hal yang lebih baik untuk dilakukan. Sebagian lagi merasa meludah merupakan hak, katanya.

Menurut sejarawan Mukul Kesavan, meludah juga berasal dari "obsesi orang India terhadap kotoran dan cara menghilangkannya".

Beberapa sejarawan percaya bahwa obsesi ini berhubungan dengan kasta atas dalam Agama Hindu, yaitu kemurnian tubuh bisa dijaga dengan membuang sesuatu yang kotor di luar rumah.

"Kebiasaan meludah tidak hanya terkait dengan kebersihan," kata Mukherjee. "Seorang sopir taksi pernah mengatakan kepada saya, 'Saya mengalami hari yang buruk dan saya ingin mengeluarkan keburukan itu.'"

Perang melawan orang-orang yang meludah

Ternyata, ada masa orang-orang di seluruh dunia meludah di mana-mana. Di India, meludah dirayakan di istana kerajaan, dan tempat ludah besar menjadi pusat perhatian di banyak rumah.

Di Eropa pada abad pertengahan, Anda bisa meludah saat makan, asalkan di bawah meja. Erasmus menulis bahwa "menghisap kembali air liur" adalah perilaku yang "tidak sopan".

Pada 1903, British Medical Journal menyebut Amerika sebagai salah satu "pusat meludah dunia".

Seorang pengawas kesehatan di Massachusetts, pada 1908, bertanya, "Mengapa penjahit meludahi lantai di setiap pabrik yang dikunjungi?" dan jawabannya, "Tentu saja mereka meludah di lantai. Anda berharap mereka meludah di mana? Di saku mereka?"

Keadaan di Inggris tidak lebih baik. Meludahi trem adalah hal yang biasa, sehingga akhirnya orang-orang didenda karena meludah dan komunitas medis menuntut undang-undang mengatur soal hal itu.

Penyebaran tuberkulosis lah yang akhirnya menghapus kebiasaan meludah di negara-negara Barat.

Tumbuhnya kesadaran akan teori kuman di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 memainkan peran penting, kata jurnalis Vidya Krishnan, penulis buku mendatang Phantom Plague: How Tuberculosis Shaped History.

"Kesadaran tentang bagaimana kuman menyebar memunculkan kebiasaan sosial baru. Orang-orang belajar untuk menutup mulut dan hidung ketika bersin dan batuk, menolak berjabat tangan, bahkan kebiasaan mencium bayi tidak lagi dilakukan. Kesadaran akan kebersihan juga menyebar ke luar."

Krishnan mengatakan peningkatan kesadaran menyebabkan "perubahan perilaku" pada laki-laki, karena "kebiasaan mereka meludah di tempat umum bisa menyebabkan penyakit menular seperti TB menyebar."

Namun India memiliki sejumlah kendala, kata Krishnan. Negara-negara bagiannya tidak pernah berusaha keras untuk mengakhiri kebiasaan itu. Meludah masih dapat diterima secara sosial, baik itu mengunyah tembakau, olahragawan meludah di depan kamera, atau penggambaran Bollywood tentang laki-laki yang meludah saat berkelahi satu sama lain.

Raja Narasimhan menyesalkan kurangnya tempat ludah modern. "Bahkan jika saya harus meludah, di mana saya harus meludah?" dia berkata.

"Waktu saya kecil, di Kolkata, saya ingat ada tempat ludah yang diikat ke tiang lampu berisi pasir. Tempat ludah itu hilang dan orang-orang meludah sembarangan."

Ada tantangan yang lebih besar. "Tidak ada perubahan perilaku skala besar atau intervensi kesehatan masyarakat yang dapat mengesampingkan kasta, kelas, dan gender," kata Krishnan.

"Di India, akses ke kamar mandi, air mengalir, dan pipa ledeng yang bagus semuanya merupakan hak istimewa."

Pakar kesehatan memperingatkan bahwa menghukum orang-orang tanpa berusaha memahami mengapa mereka meludah, tidak akan berhasil melawan kebiasaan tersebut.

Selama dua tahun pandemi Covid-19, semangat untuk menyembuhkan kecanduan khusus ini berkurang, tapi Raja dan Priti Narasimhan tidak gentar memerangi kebiasaan itu di jalan-jalan.

Kebanyakan orang tetap tidak menyadari bahwa kebiasaan meludah bisa berkontribusi dalam penyebaran Covid-19, kata mereka, dan setidaknya mereka bisa mengubah perilakunya sedikit, jika tidak bisa memperbaikinya.

"Tidak apa-apa jika kami dianggap membuang-buang waktu, kami akan mencoba," kata Raja Narasimhan. "Jika kami bisa membuat perubahan sikap pada 2% orang saja, itu berarti kita telah membuat perubahan."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ternyata Tak Boleh Sembarangan, Begini Adab Meludah dalam Islam

Ternyata Tak Boleh Sembarangan, Begini Adab Meludah dalam Islam

Religi | Kamis, 25 Juli 2024 | 10:59 WIB

Rekam Jejak Karier Mila Hardiyanti, Perempuan Yang Diludahi Pegawai Pertamina Arie Febriant: Ternyata Tak Sembarangan

Rekam Jejak Karier Mila Hardiyanti, Perempuan Yang Diludahi Pegawai Pertamina Arie Febriant: Ternyata Tak Sembarangan

Lifestyle | Jum'at, 12 April 2024 | 07:49 WIB

Sikap Arogan Arie Febriant: Tak Cuma Ludahi Wanita, Sempat Gelut Sampai Bikin Macet 1 Km

Sikap Arogan Arie Febriant: Tak Cuma Ludahi Wanita, Sempat Gelut Sampai Bikin Macet 1 Km

Lifestyle | Selasa, 09 April 2024 | 20:15 WIB

Lebih Parah dari Arie Febriant, Pegawai Pertamina Ketahuan Merokok di SPBU, Berujung Apes

Lebih Parah dari Arie Febriant, Pegawai Pertamina Ketahuan Merokok di SPBU, Berujung Apes

News | Selasa, 09 April 2024 | 17:42 WIB

Sosok Mila Hardiyanti, Perempuan yang Diludahi Arie Febriant Ternyata Satu Alumni UI

Sosok Mila Hardiyanti, Perempuan yang Diludahi Arie Febriant Ternyata Satu Alumni UI

Lifestyle | Selasa, 09 April 2024 | 12:55 WIB

Jabatan Mentereng Arie Febriant, Harus Rela Dibebastugaskan Pertamina Gegara Ludah Sendiri

Jabatan Mentereng Arie Febriant, Harus Rela Dibebastugaskan Pertamina Gegara Ludah Sendiri

Lifestyle | Selasa, 09 April 2024 | 12:50 WIB

5 Fakta Tentang Arie Febriant, Karyawan Pertamina yang Viral Usai Meludah dan Parkir di Tengah Jalan

5 Fakta Tentang Arie Febriant, Karyawan Pertamina yang Viral Usai Meludah dan Parkir di Tengah Jalan

Lifestyle | Selasa, 09 April 2024 | 05:55 WIB

Tersinggung Disebut Alien, Pria di Kendari Nekat Menganiaya hingga Meludah ke Wajah Perempuan di Resto Cepat Saji

Tersinggung Disebut Alien, Pria di Kendari Nekat Menganiaya hingga Meludah ke Wajah Perempuan di Resto Cepat Saji

News | Senin, 08 April 2024 | 15:41 WIB

Heboh Karyawan Pertamina Arie Febriant Ludahi Perempuan, Ingat Lagi Risiko Penyebaran Penyakit dari Air Liur

Heboh Karyawan Pertamina Arie Febriant Ludahi Perempuan, Ingat Lagi Risiko Penyebaran Penyakit dari Air Liur

Health | Senin, 08 April 2024 | 10:01 WIB

Nasib Pengemudi Parkir Mobil Sembarangan hingga Meludah, Berawal Arogan, Dikuliti Netizen, Kini Minta Maaf

Nasib Pengemudi Parkir Mobil Sembarangan hingga Meludah, Berawal Arogan, Dikuliti Netizen, Kini Minta Maaf

News | Minggu, 07 April 2024 | 12:55 WIB

Terkini

Pekanbaru Cerah Berawan Hari Ini, Padang Hujan Intensitas Ringan

Pekanbaru Cerah Berawan Hari Ini, Padang Hujan Intensitas Ringan

Riau | Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:05 WIB

Game Over: Menemukan Titik Temu Antara Seadanya dan Seandainya

Game Over: Menemukan Titik Temu Antara Seadanya dan Seandainya

Your Say | Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:00 WIB

Detik-detik Pencuri Alat Tower Dikejar Warga Terobos Polres Dumai

Detik-detik Pencuri Alat Tower Dikejar Warga Terobos Polres Dumai

Riau | Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:46 WIB

HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut

HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut

Tekno | Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:40 WIB

Review Drama Kill It, Terbongkarnya Rahasia Panti Asuhan Hansol yang Kelam

Review Drama Kill It, Terbongkarnya Rahasia Panti Asuhan Hansol yang Kelam

Your Say | Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:30 WIB

Tersembunyi di Hutan Rengasdengklok, Kisah Rumah Djiauw Kie Siong Jadi Bagian Sejarah Proklamasi

Tersembunyi di Hutan Rengasdengklok, Kisah Rumah Djiauw Kie Siong Jadi Bagian Sejarah Proklamasi

News | Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:30 WIB

Di Balik Sepiring MBG: Mengurai Risiko Keracunan dari Dapur hingga Meja Makan Siswa

Di Balik Sepiring MBG: Mengurai Risiko Keracunan dari Dapur hingga Meja Makan Siswa

News | Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Sandy Walsh Tiba di TC Persib dengan Cedera, Begini Kondisi Terbarunya

Sandy Walsh Tiba di TC Persib dengan Cedera, Begini Kondisi Terbarunya

Bola | Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:10 WIB

Gempa Flores Rusak Sejumlah Perangkat TelkomGroup, Pemulihan Terkendala Listrik

Gempa Flores Rusak Sejumlah Perangkat TelkomGroup, Pemulihan Terkendala Listrik

Tekno | Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:06 WIB

6 Penyebab Rambut Beruban di Usia Muda, Kondisi Kesehatan hingga Gaya Hidup

6 Penyebab Rambut Beruban di Usia Muda, Kondisi Kesehatan hingga Gaya Hidup

Lifestyle | Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:05 WIB

×