Perang Saudara di Etiopia: RS di Tigray Kehabisan Makanan untuk Anak

Siswanto, BBC

Senin, 10 Januari 2022 | 12:33 WIB
Perang Saudara di Etiopia: RS di Tigray Kehabisan Makanan untuk Anak
BBC

Suara.com - Surafeal Mearig yang baru berusia tiga bulan terbaring tak berdaya di rumah sakit terbesar di Tigray, wilayah di Etiopia yang sedang dilanda perang.

Matanya terbuka lebar, dan tulang-tulang rusuknya menonjol dari kulitnya yang berkerut tipis.

Dia adalah satu dari banyak anak yang menderita malnutrisi karena perang saudara yang telah berlangsung selama 14 bulan dan telah menyebar ke daerah-daerah tetangga.

Dokter anak yang merawat Surafeal di Rumah Sakit Ayder Referral di ibu kota Tigray, Mekelle, berkata kepada kantor berita Reuters bahwa berat badan bayi itu 2,3 kilogram, berkurang satu kilogram dari beratnya saat lahir.

Peringatan: Gambar-gambar di bawah ini dapat mengganggu kenyamanan Anda

Menurut catatan medis yang diterbitkan oleh staf rumah sakit, ASI ibunya sudah mengering dan orang tuanya, keduanya sekarang menganggur, tidak mampu membeli susu formula.

Yang terpenting, staf rumah sakit mengatakan mereka kehabisan makanan terapeutik untuk merawat anak-anak seperti Surafeal.

"Sudah enam bulan sejak pasokan datang dari Addis Ababa [ibu kota federal]," kata seorang dokter di rumah sakit kepada BBC dengan namanya dirahasiakan karena khawatir keluarganya dapat menjadi sasaran.

"Kami hampir menghabiskan persediaan kami sejak suplai terakhir tiba pada bulan Juni. Semuanya hampir habis," imbuhnya.

baca juga

Pekan ini tenaga kesehatan di Rumah Sakit Ayder mempresentasikan laporan mereka kepada lembaga-lembaga bantuan internasional.

Surafeal menjadi salah satu studi kasus yang mereka gunakan.

Para nakes mengatakan lebih dari 40% anak berusia di bawah lima tahun yang datang ke rumah sakit kekurangan gizi - dua kali lipat dari angka pada tahun 2019.

Medhaniye yang berusia empat tahun juga tergeletak di tempat tidur rumah sakit. Tubuhnya sangat kurus, tabung makanan terhubung ke lubang hidungnya.

Laporan medisnya menyatakan dia mulai menderita kekurangan gizi setelah tentara menyerang rumah keluarganya dan membantai sapi mereka, menghancurkan dan menjarah properti.

BBC tidak dapat secara independen memverifikasi detail peristiwa dalam laporan dokter karena sebagian besar wilayah Tigray mengalami pemadaman telekomunikasi sejak November 2020 ketika pecah konflik antara Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), yang menguasai sebagian besar wilayah, dan pemerintah federal. Wartawan juga belum bisa mengunjungi Tigray sejak Juli lalu.

Menghentikan pendarahan dengan tangan kosong

Dalam laporan mereka, para nakes menyalahkan enam bulan "blokade" oleh pasukan federal dan sekutu mereka atas kekurangan obat-obatan dan peralatan yang, menurut mereka, mengakibatkan banyak kematian yang seharusnya dapat dicegah.

"Sejak wilayah ini dalam kepungan, 35 pasien lainnya telah kehilangan nyawa karena tidak ada layanan dialisis," kata laporan itu.

Dokter-dokter mengatakan mereka terpaksa menghentikan pendarahan dengan tangan kosong, mencuci dan menggunakan kembali sarung tangan, atau membuat cairan disinfektan sendiri.

Dalam tanggapannya, juru bicara pemerintah Legesse Tulu mengatakan kepada BBC bahwa laporan tersebut tampaknya "berusaha membangun narasi" untuk TPLF dan "meniru" klaimnya tentang blokade terhadap Tigray.

"Dari sisi pemerintah, tidak ada embargo yang disengaja di Tigray yang merugikan rakyat kita," katanya.

Tetapi sejak perang dimulai, lembaga-lembaga bantuan telah banyak mengeluh karena tidak bisa menyalurkan bantuan ke Tigray.

Menurut laporan terbaru oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Ocha) pada 30 Desember, konvoi bantuan belum mencapai Tigray sejak pertengahan Desember karena keterlambatan birokrasi dan situasi yang tidak aman.

Program Pangan Dunia memperkirakan 100 truk yang membawa bantuan harus mencapai Tigray setiap minggu untuk memenuhi kebutuhan lebih dari lima juta orang.

Namun menurut Ocha, hanya 12% dari pasokan yang dibutuhkan berhasil masuk ke wilayah tersebut.

Menanggapi pertanyaan tentang pengiriman bantuan, Legesse mengatakan, "Lebih dari 840 dari 1.100 kendaraan yang menyediakan makanan dan obat-obatan untuk Tigray belum dikembalikan. Mereka diduga digunakan oleh TPLF untuk membawa rekrutan, tentara, dan peralatan militer ilegal."

TPLF membantah klaim bahwa pihaknya menghambat bantuan, tetapi pasukan mereka juga telah dituduh menjarah toko bantuan dan fasilitas kesehatan di daerah-daerah yang mereka kuasai di Amhara dan Afar.

Dokter di Rumah Sakit Ayder mengatakan kepada BBC bahwa bahkan keluarga para staf pun terdampak oleh krisis.

"Anak saya mengalami radang usus buntu dan tidak bisa mendapatkan perawatan," katanya.

Dan sementara kekurangan terus berlanjut, dia berkata mereka tidak akan punya pilihan selain menghentikan semua operasi mulai minggu depan.

"Kami tidak punya persediaan. Kami telah sampai ke titik itu sekarang, karena itulah kami ingin memberi tahu dunia. Sebagian besar rumah sakit tutup."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tanah Longsor Mematikan di Gofa Etiopia, Renggut Nyawa 146 Orang

Tanah Longsor Mematikan di Gofa Etiopia, Renggut Nyawa 146 Orang

News | Selasa, 23 Juli 2024 | 23:37 WIB

Terkini

Lawan Status Tersangka TPPU, Febrie Adriansyah Uji Keabsahan Penahanan di Sidang Praperadilan

Lawan Status Tersangka TPPU, Febrie Adriansyah Uji Keabsahan Penahanan di Sidang Praperadilan

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:56 WIB

Langsung Antre, Harga Emas Antam Lagi Murah Hari Ini Dipatok Rp2.645.000/Gram

Langsung Antre, Harga Emas Antam Lagi Murah Hari Ini Dipatok Rp2.645.000/Gram

Bisnis | Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:54 WIB

Gunung Anak Krakatau Menggeliat, Abu Vulkaniknya Mulai Bikin Warga Pulau Sebesi Sesak Napas

Gunung Anak Krakatau Menggeliat, Abu Vulkaniknya Mulai Bikin Warga Pulau Sebesi Sesak Napas

Lampung | Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:48 WIB

Gempa Flores Ganggu Layanan Indosat, IM3 dan Tri Masih Dalam Proses Pemulihan

Gempa Flores Ganggu Layanan Indosat, IM3 dan Tri Masih Dalam Proses Pemulihan

Tekno | Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:47 WIB

Lenovo IdeaPad Slim 3i, Laptop AI Harga Mulai Rp11,7 Juta, Bawa NPU 17 TOPS, dan RAM Upgradable

Lenovo IdeaPad Slim 3i, Laptop AI Harga Mulai Rp11,7 Juta, Bawa NPU 17 TOPS, dan RAM Upgradable

Tekno | Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:36 WIB

Bikin Matte Seharian! 4 Sunscreen Korea Oil Control untuk Kulit Berminyak

Bikin Matte Seharian! 4 Sunscreen Korea Oil Control untuk Kulit Berminyak

Your Say | Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:35 WIB

IHSG Dibayangi Aksi Jual Saham AI, Perusahaan Outsourcing Justru Bersinar

IHSG Dibayangi Aksi Jual Saham AI, Perusahaan Outsourcing Justru Bersinar

Bisnis | Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:33 WIB

Micellar Water Wardah Pink untuk Kulit Apa? Ini Klaim dan Review Pengguna

Micellar Water Wardah Pink untuk Kulit Apa? Ini Klaim dan Review Pengguna

Lifestyle | Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:33 WIB

Jurus Agar Pemerintah Bisa Capai Target Lifting Minyak 610 Bph di 2027

Jurus Agar Pemerintah Bisa Capai Target Lifting Minyak 610 Bph di 2027

Bisnis | Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:31 WIB

Bongkar Pengelolaan Dana Umat, Transparansi Digital Jadi Kunci Perkuat Kepercayaan Publik

Bongkar Pengelolaan Dana Umat, Transparansi Digital Jadi Kunci Perkuat Kepercayaan Publik

Bisnis | Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:22 WIB

×