facebook

Warga Tutup Jalan Bentuk Protes Masalah Banjir, Begini Penampakan Tembok Tanggul di Pondok Bambu

Agung Sandy Lesmana | Yaumal Asri Adi Hutasuhut
Warga Tutup Jalan Bentuk Protes Masalah Banjir, Begini Penampakan Tembok Tanggul di Pondok Bambu
Warga di RT 09 RW 10, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur membeton jalanan sebagai bentuk protes terhadap Pemprov DKI karena tak ada solusi mengantasi banjir. (Suara.com/Yaumal)

Tembok terbuat dari batu bata, dengan tinggi sekitar 50 centimeter dan lebar sekitar lima meter.

Suara.com - Warga di RT 09 RW 10, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur menembok jalan sebagai bentuk protes ke pemerintah DKI Jakarta, karena keluhan mereka terkait banjir tak kunjung mendapat solusi. 

Berdasarkan pantauan Suara.com di lokasi, pada Kamis (13/1/2022), tembok tersebut didirikan di antara jalur yang menghubungkan Jalan Kejaksaan menuju Jalan Teluk Tomini, atau tepatnya perbatasan antara RT 09 dengan RT 13. 

Akibatnya, jalur tersebut tidak bisa dilalui oleh sepeda motor atau mobil. Hanya bisa dilalui pejalan kaki dengan cara melompatinya atau lewat dari samping tembok.

Tembok terbuat dari batu bata, dengan tinggi sekitar 50 centimeter dan lebar sekitar lima meter. 

Baca Juga: Protes Tak Dapat Solusi Banjir dari Pemprov DKI, Warga Pondok Bambu Beton Jalanan jadi Tanggul

Alex (55), warga RT 09, sebelumnya, mengatakan tembok tersebut dibangun sejak dua minggu lalu atas sukarela warga.

Warga di RT 09 RW 10, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur terpaksa membeton jalanan karena tak kunjung mendapat solusi dari pemerintah soal masalah banjir. (Suara.com/Yaumal)
Warga di RT 09 RW 10, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur terpaksa membeton jalanan karena tak kunjung mendapat solusi dari pemerintah soal masalah banjir. (Suara.com/Yaumal)

Dia mengungkapkan tidak masalah jika nanti tembok itu dibongkar, asal ada solusi dari pemerintah.  

"Itu maksudnya, kalau sudah ada solusi dibongkar enggak apa-apa. Karena kalau sudah banjir jangankan motor,  mobil saja enggak bisa masuk," kata  Alex saat ditemui Suara.com di lokasi, Kamis (13/1/2022).  

Kata dia, warga sejak 2018 sudah berulang kali melapor ke kelurahan dan kecamatan setempat, namun tidak mendapatkan solusi.  

"Cuma survei-survei doang dari kelurahan, dari kecamatan solusinya enggak ada. Akhirnya dibuat tanggul untuk mengurangi air dari sana ke sini (dari Jalan Kejaksaan ke Jalan Teluk Tomini)," ujar Alex.  

Baca Juga: Daftar Kawasan Rawan Bencana Banjir dan Longsor di Kabupaten Magetan

Dia mengatakan banjir yang meggenangi kawasan tempat tinggalnya, akibat luapan aliran kali yang berada di tengah kompleks.  

Di bagian ujung, kali mengalami penyempitan sehingga membuat air tidak mengalir. Terlebih rumah-rumah di Jalan Teluk Tomini  permukaan tanahnya lebih rendah. Karenanya mereka meminta pemerintah memperlebar aliran kali di bagian ujung.  

Saat banjir terjadi, ketinggian permukaan airnya bisa mencapai sekitar 50 centimeter. Namun, kata Alex, setelah adanya tembok tersebut, ketinggian air sekitar 7 centimeter. 

Terbukti semalam ya, air nya tergenang di situ. Di sini segini (semata kaki) di sana sedengkul ( sekitar 30 centimeter)," ungkap Alex.  

Kata Alex, dengan adanya tembok tersebut sejumlah warga memang sudah mengeluh, meskipun selama ini akes Jalan Kejaksaan menuju Jalan Teluk Tomini selalu diportal (tidak dapat dilalui).  

"Memang inikan fasilitas umum, kami menyadari, tapi dia (warga yang protes) enggak tahu maksudnya ini ditembok apa," ujar Alex. 

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar