Bagaimana Gunung di Tonga Meletus dan Menyebabkan Ada Peringatan Tsunami

Siswanto, ABC

Senin, 17 Januari 2022 | 15:52 WIB
Bagaimana Gunung di Tonga Meletus dan Menyebabkan Ada Peringatan Tsunami
Letusan gunung api bawah laut yang memicu tsunami Tonga pada Sabtu (15/1/2022). Foto hasil rekaman satelit Himawari-8 milik Jepang. [Institut Informasi dan Komunikasi Nasional Jepang/AFP]

Suara.com - Seberapa besar kerusakan akibat gunung berapi di Tonga masih belum diketahui secara pasti, tapi meletusnya gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha'apai membuat peringatan tsunami sempat dikeluarkan ke sejumlah negara, termasuk di pesisir timur Australia. 

Ini yang kita ketahui soal letusan gunung dan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Apa itu Hunga Tonga-Hunga Ha'apai?

Secara teknis, gunung berapi yang meletus di Hunga Tonga-Hunga Ha'apai dikategorikan sebagai gunung berapi bawah laut, jelas Profesor Emeritus Richard Arculus dari Australian National University.

Tapi seperti yang ditunjukkan Profesor Arculus, juga yang bisa Anda lihat dari gambar di bawah ini, kawah gunung berapi berada di atas air.

Kawah ini berada di antara dua daratan, yakni Hunga Tonga dan Hunga Ha'apai.

Lembaga antariksa NASA mengatakan dua daratan ini masih "muda" dan terbentuk karena ledakan.

Apakah pernah meletus sebelumnya?

Jawabannya iya dan Profesor Arculus mengatakan gunung berapi ini "cukup aktif dalam 15 tahun terakhir".

Letusan di tahun 2015 pernah juga menjadi pemberitaan, karena awan abu dari ledakan membuat sejumlah  maskapai penerbangan membatalkan penerbangan masuk dan keluar dari Tonga.

Pada saat itu, Peter Lechner, ahli meteorologi Otoritas Penerbangan Sipil Selandia Baru mengatakan kepada Radio Selandia Baru jika gunung berapi tersebut menyemprotkan abu vulkanik lebih dari 9.000 meter ke atas udara.

baca juga

Profesor Arculus juga mengatakan gunung berapi itu pernah meletus pada tahun 2009, 1988, 1937, dan 1912.

Jadi apa yang terjadi kali ini?

Profesor Arculus menggambarkannya sebagai "ledakan besar menyerupai lubang angin."

Rekaman dari satelit menunjukkan ledakan di permukaan laut menyebar dan menjauh.

Profesor Arculus mengatakan awan abu, yang terlihat dari luar angkasa, adalah hasil interaksi air dan materi terfragmentasi panas.

Seberapa kuat letusan ini?

Sebagai perbandingan, Profesor Arculus mengatakan itu kekuatannya berkali-kali lebih kuat daripada ledakan gunung di White Island.

Gunung berapi White Island meletus pada Desember 2019 dan menewaskan 22 turis yang mengunjungi pulau tersebut, termasuk 17 warga Australia.

Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru mengatakan tidak ada laporan resmi tentang kematian atau cedera akibat letusan gunung berapi di Tonga, karena komunikasi yang masih terbatas.

Tapi setelah letusan gunung terjadi, negara kepulauan Tonga dilanda tsunami setinggi satu meter. Para saksi mata mengatakan letusan juga membuat goncangan selama beberapa menit.

Biro Meteorologi Australia telah mengeluarkan peringatan laut di negara bagian New South Wales, Australia, juga Pulau Lord Howe dan Pulau Norfolk.

Di negara Chili, Kantor Darurat Nasional memerintahkan evakuasi di beberapa daerah pesisir karena ada tsunami berskala kecil.

Claudio Aldea, Deputi Direktur Operasi Kantor Darurat Nasional di Chili sudah meminta masyarakat di wilayah Coquimbo dan Los Rios mengungsi ke zona aman, setidaknya 30 meter di atas permukaan laut.

Peringatan tsunami juga dikeluarkan untuk Selandia Baru, Jepang, Hawaii, Alaska, dan pantai Pasifik di Amerika Serikat.

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Grace Legge, Ahli Meteorologi Senior untuk Biro Meteorologi Australia memperingatkan situasinya akan tetap berbahaya dan berubah.

Letusan bawah laut jauh lebih sulit diprediksi daripada pola cuaca atmosfer atau gempa bumi, katanya.

Profesor Arculus mengatakan aktivitas gunung berapi dapat berlanjut selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, tapi sulit untuk memprediksi kapan ledakan kuat lainnya akan terjadi lagi.

"

"Ini mungkin belum berakhir," katanya.

"

Profesor Arculus mengatakan 'pumice' atau batu apung, yang merupakan batuan vulkanik ringan, akan mencapai pantai timur Australia dalam beberapa bulan ke depan.

Batu itu bisa mengapung, mudah hancur, dengan warna abu-abu dan penuh lubang.

Diproduksi oleh Erwin Renaldi dari laporan dalam bahasa Inggris

ABC / Wires

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dampak Uap Air dar Letusan Gunung Berapi Tonga Bisa Hangatkan Bumi Bertahun-tahun

Dampak Uap Air dar Letusan Gunung Berapi Tonga Bisa Hangatkan Bumi Bertahun-tahun

Tekno | Selasa, 27 September 2022 | 05:15 WIB

Terkini

Ada Jejak Indonesia di Gua Australia, Dua Lukisan Kapal Jadi Kunci Misteri Ratusan Tahun

Ada Jejak Indonesia di Gua Australia, Dua Lukisan Kapal Jadi Kunci Misteri Ratusan Tahun

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:50 WIB

Mengerikan! Rekaman Banjir Bandang di Himalaya Tewaskan 98 Orang, Lebih dari 400 Hilang

Mengerikan! Rekaman Banjir Bandang di Himalaya Tewaskan 98 Orang, Lebih dari 400 Hilang

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:45 WIB

Tim Alfa TNI Sudah Terjun ke Way Kambas, Apakah Juga Dikerahkan ke Karhutla Sumsel?

Tim Alfa TNI Sudah Terjun ke Way Kambas, Apakah Juga Dikerahkan ke Karhutla Sumsel?

Sumsel | Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:38 WIB

Bisnis Tiba-Tiba Viral? Ini Tantangan yang Menunggu di Balik Lonjakan Pesanan

Bisnis Tiba-Tiba Viral? Ini Tantangan yang Menunggu di Balik Lonjakan Pesanan

Lifestyle | Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:33 WIB

Saya Kurang Tidur! 3 Kata Pelatih Thailand Usai Gagal Juara Piala AFF 2026

Saya Kurang Tidur! 3 Kata Pelatih Thailand Usai Gagal Juara Piala AFF 2026

Bola | Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:27 WIB

Wali Murid SDIP Pamulang Murka, Sebut Rektor UIN Syarif Hidayatullah Tak Cerminkan Sosok Pendidik

Wali Murid SDIP Pamulang Murka, Sebut Rektor UIN Syarif Hidayatullah Tak Cerminkan Sosok Pendidik

Banten | Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:27 WIB

PLN ULP Ampera Jadwalkan Pemadaman Listrik 3 Jam, Cek Wilayah Terdampak

PLN ULP Ampera Jadwalkan Pemadaman Listrik 3 Jam, Cek Wilayah Terdampak

Sumsel | Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:24 WIB

Muktamar NU ke-35 Memanas, 6 Kritik Tajam dari Halaqah Ulama Jombang untuk Kepemimpinan PBNU

Muktamar NU ke-35 Memanas, 6 Kritik Tajam dari Halaqah Ulama Jombang untuk Kepemimpinan PBNU

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:19 WIB

Drama! Vietnam Juara Piala AFF 2026 Meski Pemain Thailand Cetak 4 Gol

Drama! Vietnam Juara Piala AFF 2026 Meski Pemain Thailand Cetak 4 Gol

Bola | Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:17 WIB

PTBA Borong Empat Penghargaan ISEA 2026, Tegaskan Transformasi Keselamatan Kerja

PTBA Borong Empat Penghargaan ISEA 2026, Tegaskan Transformasi Keselamatan Kerja

Sumsel | Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:16 WIB

×