facebook

Jaga Jarak Sulit Diterapkan Saat PTM Sekolah, KPAI Khawatir Omicron

Erick Tanjung | Ria Rizki Nirmala Sari
Jaga Jarak Sulit Diterapkan Saat PTM Sekolah, KPAI Khawatir Omicron
Komisioner KPAI, Retno Listyarti. (Suara.com/Lilis Varwati)

"Walaupun sudah maju mejanya sampai deket papan tulis tapi jaga jarak itu menjadi sulit karena memang tidak sampai 1 meter antara meja satu dengan meja yang lain," kata Retno.

Suara.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI mengungkapkan pihaknya melakukan pengawasan reguler kepada sekolah yang menerapkan pembelajaran tatap muka/PTM baik di DKI Jakarta, Bogor hingga Bekasi, Jawa Barat. Dari hasil pengawasan tersebut, KPAI memiliki catatan terkait protokol kesehatan yakni jaga jarak yang masih sulit dilakukan di lingkungan sekolah.

Komisioner KPAI Retno Listyarti mengatakan pihaknya melihat jaga jarak yang sulit dilaksanakan terutama di lingkungan Sekolah Dasar. Semisal saja jaga jarak saat pembelajaran berlangsung.

Karena ruangan kelas yang tidak begitu besar, maka upaya jaga jarak juga sulit dilakukan.

"Walaupun sudah maju mejanya sampai deket papan tulis tapi jaga jarak itu menjadi sulit karena memang tidak sampai 1 meter antara meja satu dengan meja yang lain," kata Retno dalam diskusi bertajuk Omicron Ancam PTM 100 Persen secara virtual, Selasa (18/1/2022).

Baca Juga: UGM Siapkan Kuliah Bauran Bulan Februari, Mahasiswa Perlu Perhatikan Persyaratan Ini

Karena kondisi tersebut, Retno memberi masukan kepada Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk bisa menurunkan kapasitas murid yang menjalankan PTM dari 100 ke 50 persen. "Karena memang jaga jaraknya sulit sekali," ujarnya.

Selain itu, Retno juga mengungkap upaya jaga jarak itu sulit dilakukan ketika jam pulang sekolah. Ia menceritakan ketika kelompok PTM pertama sudah selesai, maka murid-murid ke luar dari ruang kelas.

Akan tetapi masih ada murid yang masih diam di dalam kelas ataupun di lingkungan sekolah karena masih menunggu dijemput orang tuanya. Akibatnya kerumunan lantas tidak dapat dihindari ketika kelompok PTM kedua tiba di sekolah.

"Namun begitu kelas pertama ke luar, tidak semuanya dijemput, kan nunggu. datang lah kelas kedua ternyata sebagian belum dijemput juga numpuk lagi," ungkapnya.

Kerumunan juga menurutnya terlihat ketika jam penjemputan. Di mana saat ini, banyak anak-anak sekolah tidak dijemput orang tua melainkan menggunakan layanan ojek online atau ojol.

Baca Juga: Doddy Sudrajat Minta Ketua KPAI Diganti Wanita, Warganet: Spesies Megantropus

Karena harus menunggu sampai bertemu, maka kerumunan juga terjadi di lingkungan sekolah.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar