Ibu Kota Baru, Petani Adat: Kami Belum Pernah Diajak Berunding

Siswanto | BBC | Suara.com

Rabu, 02 Februari 2022 | 09:12 WIB
Ibu Kota Baru, Petani Adat: Kami Belum Pernah Diajak Berunding
BBC

Suara.com - Presiden Joko Widodo disebut telah menyerap aspirasi dan mendapat dukungan masyarakat lokal terkait pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur.

Pernyataan itu dikeluarkan pihak Istana, setelah pada Senin lalu (31/1), Jokowi bertemu lima sosok yang mereka sebut merepresentasikan kelompok adat.

Namun, sejumlah petani di calon ibu kota baru mempertanyakan klaim dukungan itu. Mereka berkata belum pernah diajak mendiskusikan proyek tersebut, baik oleh pemerintah maupun orang-orang yang disebut sebagai perwakilan masyarakat adat.

Menurut akademisi, pemerintah pusat semestinya sejak awal melibatkan masyarakat lokal di level terbawah dalam merencanakan ibu kota baru. Dituding tidak inklusif, proyek ini dikhawatirkan akan mengabaikan warga kelas bawah.

Baca juga:

Dua tahun setelah kebijakan pemindahan ibu kota bergulir, Sabukdin, seorang petani sekaligus warga adat Paser di Sepaku, Penajam Paser Utara, belum pernah dimintai pendapat tentang proyek itu.

Akhir tahun 2019, kami berjumpa dengan Sabukdin di rumahnya yang digadang-gadang akan masuk kawasan pusat ibu kota baru.

Sama seperti yang diutarakannya saat itu, kini dia masih bertanya-tanya tentang nasib keluarganya ke depannya.

"Kami mau menolak, tapi tidak ada daya. Hak-hak kami perlu diperhatikan pemerintah," kata Sabukdin via telepon, Selasa (01/02).

"Kami hanya mendengar dari media atau dari teman-teman. Pemerintah belum pernah mengajak kami berunding," ujarnya.

Sabukdin mengaku kecewa. Sebagai orang yang berpotensi kehilangan lahan dan sumber penghidupan akibat proyek ini, dia merasa berhak untuk dilibatkan dalam pembahasan ibu kota baru.

Menurut Sabukdin, pemerintah selama ini hanya berbicara dengan orang-orang kelas atas yang disebutnya tidak memahami dan mewakili keresahan mereka.

"Seharusnya kami dilibatkan. Jokowi harus mendengar suara rakyat kecil. Mereka kan tokoh. Mereka orang sukses. Mobil mereka Fortuner, sedangkan kami sepeda saja tidak punya," ucapnya.

Pernyataan Sabukdin merujuk pertemuan Jokowi di Balikpapan, dengan lima orang yang disebut pemerintah mewakili adat dan kelompok suku di Kaltim.

Dua dari lima orang yang diundang pihak Istana itu adalah Sultan Paser, Aji Jarnawi dan Sultan Kutai Kartanegara, Muhammad Arifin. Mereka memimpin kesultanan yang selama ini dilestarikan dalam konteks budaya dan sejarah.

Adapun tiga orang lain yang bertemu Jokowi adalah perwakilan masyarakat Dayak Kenyah, Bugis, dan Banjar.

Dalam pertemuan itu, kelima orang itu memang menyatakan dukungan terhadap proyek ibu kota baru. Meski begitu, petani seperti Sabukdin menyebut tidak seluruh warga di kampungnya sependapat.

"Sebagian warga bersedia menerima ganti rugi jika lahannya diambil, tapi ada yang tidak mau. Nah bagaimana solusi bagi yang tidak mau. Jangan hadapkan warga lokal pada hukum," kata Sabukdin.

Persoalan representasi dan pelibatan masyarakat dalam proyek ibu kota baru sebelumnya juga mencuat.

Pertengahan Januari lalu misalnya, kelompok warga yang bernaung dalam Koalisi Masyarakat Kaltim menolak proyek ibu kota baru. Salah satu alasan mereka, rancangan undang-undang yang menjadi dasar proyek ini dibahas secara tertutup tanpa partisipasi warga lokal.

Merujuk Peraturan Menteri Hukum dan HAM 11/2021 misalnya, kementerian dan lembaga pemerintah perlu menggelar konsultasi publik saat membentuk undang-undang. Tujuannya adalah menampung masukan dari masyarakat yang terdampak dan kalangan lainnya.

Tenaga ahli Kantor Staf Presiden, Wandy Tuturoong, menyebut pemerintah sudah melibatkan berbagai elemen warga Kaltim dalam proyek ini sejak tahun 2019.

Bukan hanya pada pertemuan yang dipimpin Jokowi awal pekan ini, Wandy berkata bahwa Bappenas dan lembaga pemerintah lainnya sudah berulang kali menyerap aspirasi komunitas lokal.

Kalaupun ada pihak yang mengaku belum pernah dilibatkan, Wandy berkata prinsip partisipatif proyek ibu kota akan terus dijalankan.

"Yang kami benar-benar kawal adalah tata kelola pemerintahan yang partisipatif, jangan sampai masyarakat lokal teralienasi," kata Wandy saat dihubungi.

"Kami datang ke sana untuk meminta masukan dari LSM, pemerintah daerah, dan representasi banyak pemangku kepentingan.

"Kalau ada yang merasa ditinggalkan, pemerintah akan tetap terbuka. Sejak awal kami berusaha seterbuka mungkin, tapi tidak berarti sekarang kami sudah menutup dialog," ucapnya.

Dua dari lima 'perwakilan warga lokal' yang bertemu Jokowi di Balikpapan mengaku tidak tahu bagaimana mereka bisa dipilih oleh pihak Istana.

Meski begitu, mereka berkata bahwa tuntutan yang mereka sampaikan kepada Jokowi mewakili aspirasi seluruh lapisan masyarakat dalam kelompok mereka.

"Kami meminta istana Kesultanan Paser dibangun di titik nol ibu kota negara," kata Sultan Paser, Aji Jarnawi.

Selain itu, Aji juga meminta pemerintah melestarikan sebuah desa dan sebidang kawasan hutan yang didedikasikan sebagai penanda peradaban warga adat Paser.

Aji mengaku juga meminta agar pemerintah nantinya mempertahankan penamaan desa, kecamatan, hingga sungai yang becorak lokal.

"Kami juga berharap agar dalam penerimaan PNS, TNI/Polri maupun di perusahaan swasta, putra-putri lokal diberikan kuota khusus. Tanpa kuota itu, kami akan ketinggalan dari orang-orang dari Jawa.

Kepala Adat Dayak Kenyah, Ajang Tedung, yang turut hadir dalam pertemuan dengan Jokowi, meminta agar komunitasnya mendapat jatah kursi di badan otorita ibu kota baru.

Selain mengedepankan kearifan lokal, Ajang meminta pemerintah melibatkan warga lokal dalam pembangunan fisik ibu kota baru.

Permintaan lainnya adalah pembukaan pusat pelatihan keterampilan yang dikhususkan bagi warga lokal.

Ajang berkata, Jokowi tidak perlu bertemu dengan seluruh perwakilan warga di Kaltim untuk memahami aspirasi mereka. Apalagi selama ini, kata dia, beberapa kalangan kerap dilibatkan Bappenas dalam konsultasi publik.

"Dalam menyampaikan aspirasi, tidak terpengaruh berapa yang datang. Walau hanya beberapa orang, tapi aspirasi yang kami sampaikan menyangkut seluruh masyarakat adat Kaltim," ujarnya.

"Jokowi bilang itu bukan pertemuan terakhir, tapi akan berlanjut karena aspirasi pasti berkembang," kata Ajang.

Bagaimanapun, partisipasi masyarakat dalam proyek ibu kota semestinya tidak hanya seremonial belaka, tapi benar-benar membahas hal substantif. Hal ini katakan Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, Haris Retno Susmiyati.

Menurutnya, pihak yang paling penting dilibatkan dalam pembahasan proyek ini adalah masyarakat kelas bawah, bukan cuma di pusat ibu kota baru, tapi di seluruh Kaltim.

"Implikasi ibu kota baru ini tidak hanya di wilayah pusat seluas 256 ribu hektare karena ada pembangunan tiga waduk besar di kabupaten lain untuk mendukung keberadaannya," kata Retno.

"Jadi sangat penting membicarakannya dengan masyarakat lapis paling bawah karena pada dasarnya merekalah yang akan menerima dampak terbesar dari kebijakan ini.

"Dalam pengambilan keputusan, wajib partisipasi penuh masyarakat, bukan yang sifatnya formalitas, tapi substantif. Itu harus dilakukan sejak awal. Kalau kebijakannya sudah diambil, masyarakat tidak akan punya posisi tawar," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ironi Pelapor Mafia Tanah Jadi Tersangka Fitnah, Kini Minta Perlindungan LPSK

Ironi Pelapor Mafia Tanah Jadi Tersangka Fitnah, Kini Minta Perlindungan LPSK

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:57 WIB

Masjid Al Ikhlas PIK dan Al-Khairiyah Siap Gelar Salat Iduladha 1447 H, Catat Jadwalnya

Masjid Al Ikhlas PIK dan Al-Khairiyah Siap Gelar Salat Iduladha 1447 H, Catat Jadwalnya

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 05:05 WIB

HIS PIK2 Tekankan Peran Orang Tua dan Guru Bentuk Karakter Anak Sejak Dini

HIS PIK2 Tekankan Peran Orang Tua dan Guru Bentuk Karakter Anak Sejak Dini

Lifestyle | Selasa, 26 Mei 2026 | 05:00 WIB

Bantah Main Mata, PMJ Tegaskan Kasus Andrie Yunus Tak Dihentikan Diam-diam

Bantah Main Mata, PMJ Tegaskan Kasus Andrie Yunus Tak Dihentikan Diam-diam

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:45 WIB

Rocky Gerung Sebut Eksaminasi Putusan Kerry Riza Uji Cara Berpikir Penegak Hukum

Rocky Gerung Sebut Eksaminasi Putusan Kerry Riza Uji Cara Berpikir Penegak Hukum

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 19:25 WIB

Eksaminasi Putusan Kerry Riza, Guru Besar UI Nilai Unsur Pidana Tak Terbukti

Eksaminasi Putusan Kerry Riza, Guru Besar UI Nilai Unsur Pidana Tak Terbukti

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 17:25 WIB

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB

Dukung Putusan MK, Dasco Pastikan Syarat Keterwakilan Perempuan Masuk RUU Pemilu

Dukung Putusan MK, Dasco Pastikan Syarat Keterwakilan Perempuan Masuk RUU Pemilu

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:07 WIB

Harga BBM Subsidi Tak Naik, Kepercayaan Industri RI Langsung Melesat

Harga BBM Subsidi Tak Naik, Kepercayaan Industri RI Langsung Melesat

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:55 WIB

Di Tengah Lemahnya Rupiah, Kepercayaan Industri Naik ke Level 53,56

Di Tengah Lemahnya Rupiah, Kepercayaan Industri Naik ke Level 53,56

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:20 WIB

Terkini

Ironi Pelapor Mafia Tanah Jadi Tersangka Fitnah, Kini Minta Perlindungan LPSK

Ironi Pelapor Mafia Tanah Jadi Tersangka Fitnah, Kini Minta Perlindungan LPSK

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:57 WIB

Bantah Main Mata, PMJ Tegaskan Kasus Andrie Yunus Tak Dihentikan Diam-diam

Bantah Main Mata, PMJ Tegaskan Kasus Andrie Yunus Tak Dihentikan Diam-diam

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:45 WIB

Dukung Putusan MK, Dasco Pastikan Syarat Keterwakilan Perempuan Masuk RUU Pemilu

Dukung Putusan MK, Dasco Pastikan Syarat Keterwakilan Perempuan Masuk RUU Pemilu

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:07 WIB

Dasco Dukung Putusan MK soal Parpol Tanpa 30 persen Caleg Perempuan Bakal Gugur

Dasco Dukung Putusan MK soal Parpol Tanpa 30 persen Caleg Perempuan Bakal Gugur

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:49 WIB

Pemerataan Pendidikan, Anak-Anak di Daerah Terpencil Bogor Kini Punya Gedung Sekolah Dasar Baru

Pemerataan Pendidikan, Anak-Anak di Daerah Terpencil Bogor Kini Punya Gedung Sekolah Dasar Baru

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:24 WIB

Lawan Impunitas, Nasib Kasus Air Keras Andrie Yunus Ditentukan 2 Juni

Lawan Impunitas, Nasib Kasus Air Keras Andrie Yunus Ditentukan 2 Juni

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:10 WIB

Kementerian PANRB dan Kemenkes Perkuat SDM Kesehatan Dukung Program Prioritas Presiden

Kementerian PANRB dan Kemenkes Perkuat SDM Kesehatan Dukung Program Prioritas Presiden

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:42 WIB

Bocoran Der Spiegel: AS Berencana Pangkas Drastis Kontribusi Militer untuk NATO

Bocoran Der Spiegel: AS Berencana Pangkas Drastis Kontribusi Militer untuk NATO

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:41 WIB

Misteri CCTV 'Gaib' di Kasus Andrie Yunus: Muncul Saat Rilis, Lenyap di Meja Hijau

Misteri CCTV 'Gaib' di Kasus Andrie Yunus: Muncul Saat Rilis, Lenyap di Meja Hijau

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:35 WIB

Fleksibilitas Kerja ASN Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Berbasis Kinerja

Fleksibilitas Kerja ASN Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Berbasis Kinerja

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:29 WIB