Petir Mematikan di India: 2.500 Orang Meninggal Akibat Tersambar Tiap Tahun

Siswanto, BBC

Selasa, 15 Februari 2022 | 09:59 WIB
Petir Mematikan di India: 2.500 Orang Meninggal Akibat Tersambar Tiap Tahun
BBC

Suara.com - Pada Maret tahun lalu, empat tukang kebun yang bekerja di sebuah kondominium di Gurgaon, --sebuah kawasan luar kota di dekat Delhi, India-- berlindung di bawah pohon ketika hujan turun.

Dalam hitungan menit, kilatan berwarna jingga melesat ke bawah batang pohon, diikuti bunyi gemuruh guntur.

Petir biasanya berlangsung kurang dari satu detik, tapi sebuah sambaran petir berdaya 300 juta volt dan 30.000 amp cukup mematikan. Petir seperti ini dapat menyebabkan udara di sekitarnya memanas hingga mencapai suhu lima kali lipat lebih tinggi dibanding suhu di permukaan matahari.

Keempat pria itu kemudian jatuh ke tanah. Satu di antaranya meninggal dunia, sedangkan yang lain selamat tapi mengalami luka bakar.

"Saya tidak ingat apa yang terjadi pada saya, juga bagaimana itu terjadi. Dalam hitungan detik semuanya hancur," kata salah satu korban kepada sebuah surat kabar di India.

Baca juga:

Rekannya adalah salah satu dari lebih 2.500 orang India yang kehilangan nyawa akibat petir setiap tahunnya.

Data resmi menunjukkan sambaran petir telah menewaskan lebih dari 100.000 orang di negara itu sejak 1967 hingga 2019. Jumlah itu lebih dari sepertiga kasus kematian akibat bencana alam dalam kurun waktu tersebut.

Orang yang selamat dari sambaran petir pun harus hidup dengan kondisi lemah, pusing, dan kehilangan ingatan.

baca juga

Sejak tiga tahun yang lalu, Badan Meteorologi India memulai prakiraan petir. Aplikasi-aplikasi seluler kini bisa melacak petir. Orang-orang diperingatkan melalui radio, TV, serta sukarelawan yang membawa megafon.

Sebuah inisiatif bernama Lightning India Resilient Campaign, yang juga telah berusia tiga tahun, berupaya meningkatkan kesiagaan di desa-desa rawan petir demi mengurangi angka kematian. Tetapi, jumlah sambaran petir juga meningkat tajam.

Studi dari lembaga nirlaba, Dewan Promosi Sistem Ketahanan Iklim menunjukkan terjadi lebih dari 18 juta sambaran petir sepanjang April 2020 hingga Maret 2021. Jumlah itu meningkat 34% dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya.

Data satelit yang dikumpulkan oleh Institut Meteorologi Tropis India juga menunjukkan sambaran petir "meningkat pesat" antara 1995 dan 2014.

Sejumlah negara bagian di India melaporkan sambaran petir besar-besaran, tapi ada tiga negara bagian yang menyumbang 70% angka kematian yakni Odisha, Jharkhand, dan Benggala Barat. Orang-orang yang bekerja di lahan pertanian adalah yang paling rentan tersambar.

"Ada banyak sambaran petir di daerah kami. Saya masih ingat seorang bocah lelaki berusia tujuh tahun meninggal ketika dia pergi keluar saat badai untuk menjemput kerbau mereka. Sekarang kami mencoba diam di rumah," kata Sandhyarani Giri, seorang guru sekolah di Benggala Barat.

Baca juga:

Giri tinggal di sebuah kampung nelayan berpenduduk padat di Fraserganja, sebuah wilayah yang berbatasan dengan Teluk Benggala dan berjarak 120 kilometer arah selatan dari Kolkata.

Area ini semacam titik panas sambaran petir. Sekitar 60 orang meninggal setiap tahunnya karena tersambar petir di tempat desa Giri berada.

Lanskap desa-desa pesisir ini terdiri dari lahan pertanian, telaga, serta rumah beratap seng dan jerami. Hidup di tepi laut bisa sangat berbahaya akibat badai siklon dan gelombang pasang yang terjadi. Petir lebih mungkin menyambar di darat, tetapi perairan di lepas pantai paling sering tersambar.

Pada dasarnya, petir terjadi akibat pelepasan listrik yang dipicu oleh ketidakseimbangan di dalam awan badai.

Oleh sebab itu, penduduk desa membuat konduktor petir sederhana untuk mengarahkan muatan listrik itu ke bumi.

Mereka menggunakan pelek sepeda bekas, bambu, dan kabel logam. Pelek dipasang di atas tiang bambu, yang kadang tingginya mencapai sembilan meter, diikatkan ke bangunan, terutama di pusat-pusat kegiatan masyarakat dan sekolah.

Konduktor itu akan mengalirkan listrik dari sambaran petir ke bumi tanpa menyebabkan kerusakan apa pun.

Namun penelitian Lightning Resilient India Campaing menunjukkan sebagian besar korban yang tersambar meninggal setelah berlindung di bawah pohon tinggi. Penduduk lokal yang bertani dan mencari ikan demi nafkah menjadi yang paling rentan tersambar.

Sejauh ini, kampanye itu berhasil menurunkan angka kematian akibat sambaran petir hingga 60% di beberapa negara bagian.

"Tetapi kampanye pemerintah untuk membangun kesadaran berbasis masyarakat dan menjangkau orang yang benar-benar rentan di area pertanian, hutan, laut, pantai, kolam, danau, dan sungai masih kurang," kata penyelenggara kampanye tersebut, Kol Sanjay Srivastava.

Para ilmuwan mengatakan ancaman dari perubahan iklim telah menyebabkan aktivitas petir meningkat. Suhu permukaan tanah dan laut yang meningkat membuat udara di atas lebih hangat, sehingga lebih banyak energi tersedia untuk mendorong badai petir.

Sebuah studi di Universitas California, Berkeley, menunjukkan bahwa sambaran petir di AS berpotensi meningkat 12% untuk setiap derajat kenaikan suhu rata-rata. Sedangkan di India, meningkatnya urbanisasi dan berkurangnya lahan hijau telah memicu kenaikan suhu.

"Pemanasan di darat, kelembapan di atas air, dan aerosol karena polusi udara menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi awan untuk memicu aktivitas petir. Seiring meningkatnya suhu dan polusi di India, sambaran petir juga akan meningkat," kata Direktur Dinamika Badai Petir di Institut Metereologi Tropis India.

Selain itu, dia juga mengatakan bahwa intensitas petir meningkat. Baru-baru ini para ilmuwan mengonfirmasi rekor kilatan petir terpanjang, yakni hampir 500 mil (805 kilometer), di langit di tiga negara bagian AS.

Sementara itu, India menargetkan angka kematian akibat petir menurun menjadi 1.200 per tahun pada 2022.

Para relawan mengadakan sosialisasi untuk membangun kesadaran dan kesiagaan orang-orang di desa untuk diam di dalam rumah dan menghindari pergi ke ladang saat badai demi menjemput ternak.

Orang-orang juga diminta untuk tidak berkumpul di bawah pohon, menjauh dari kabel listrik, dan pagar besi.

Apa yang harus dilakukan saat petir menyambar?

  • Carilah perlindungan di dalam gedung atau mobil
  • Menjauh dari ruang terbuka yang luas atau puncak bukit
  • Apabila tidak ada tempat berteduh, berjongkok dengan kedua kaki rapat, tangan di lutut, dan kepala dimasukkan ke dalam
  • Jangan berlindung di bawah pohon yang tinggi atau pohon yang berdiri sendiri
  • Jika Anda berada di air, pergi lah ke pantai yang luas sesegera mungkin

Lihat juga:


Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Review Buku Nadira: Perjalanan Panjang Berdamai dengan Luka

Review Buku Nadira: Perjalanan Panjang Berdamai dengan Luka

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 14:30 WIB

Dilema Gaji UMR vs Gaya Hidup: Kenapa Bekerja Keras Rasanya Cuma Buat Numpang Lewat?

Dilema Gaji UMR vs Gaya Hidup: Kenapa Bekerja Keras Rasanya Cuma Buat Numpang Lewat?

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 14:28 WIB

DPR Sentil Penanganan Bencana Solok: Jangan Sibuk Cari Solusi Setelah Bencana Terjadi!

DPR Sentil Penanganan Bencana Solok: Jangan Sibuk Cari Solusi Setelah Bencana Terjadi!

News | Selasa, 22 September 2026 | 14:27 WIB

Special Day Cream Viva Manfaatnya untuk Apa? Krim Legendaris Cuma Rp7 Ribuan

Special Day Cream Viva Manfaatnya untuk Apa? Krim Legendaris Cuma Rp7 Ribuan

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 14:27 WIB

Purbaya dan Perry Tak Lagi Menjabat, Uang Rupiah Bertanda Tangannya Tetap Laku?

Purbaya dan Perry Tak Lagi Menjabat, Uang Rupiah Bertanda Tangannya Tetap Laku?

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 14:24 WIB

Wajib Coba! Intip Spot Nongkrong Baru di Kemayoran: Ada Donat Jepang dan Pancake Fluffy

Wajib Coba! Intip Spot Nongkrong Baru di Kemayoran: Ada Donat Jepang dan Pancake Fluffy

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 14:22 WIB

Kenalan dengan Saham Apple (AAPL), Salah Satu Saham Teknologi Populer Dunia

Kenalan dengan Saham Apple (AAPL), Salah Satu Saham Teknologi Populer Dunia

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 14:20 WIB

Review Film Whoever Steals This Book: Keajaiban Fantasi Dunia Literatur

Review Film Whoever Steals This Book: Keajaiban Fantasi Dunia Literatur

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 14:20 WIB

Beli Sepatu Lari Asics Apakah Harus Upsize? Ini Triknya agar Tidak Salah Ukuran

Beli Sepatu Lari Asics Apakah Harus Upsize? Ini Triknya agar Tidak Salah Ukuran

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 14:12 WIB

Kenapa HP Muncul Iklan Terus? Ini Penyebab dan Cara untuk Menghilangkannya

Kenapa HP Muncul Iklan Terus? Ini Penyebab dan Cara untuk Menghilangkannya

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 14:10 WIB

×