Ibu Serdadu Rusia: Ukraina Adalah Banjir Darah

Siswanto, Deutsche Welle

Jum'at, 01 April 2022 | 15:36 WIB
Ibu Serdadu Rusia: Ukraina Adalah Banjir Darah
DW

Suara.com - Seorang tentara Rusia berusia 26 tahun tewas di Ukraina pada awal serangan ke bandara Hostomel dekat Kyiv. DW berbicara dengan ibunya, yang berduka dan tetap membela serangan Rusia.

Rusia mulai melancarkan serangan militer ke Ukraina pada 24 Februari, dan menyebut invasi itu sebagai "operasi militer khusus."

Para serdadu dan keluarga mereka sering tidak diberitahu ke mana mereka dikirim dan untuk misi apa.

Terakhir kali, Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan 1.351 prajuritnya tewas di Ukraina. Namun sumber NATO memperkirakan sekitar 7.000 hingga 15.000 tentara Rusia telah tewas sejak 24 Februari lalu.

Kebanyakan warga Rusia hanya mendapat berita propaganda dari pemerintahnya, karena media independen dilarang.

Sersan Yevgeny, 26 tahun, tewas pada hari-hari pertama serangan Rusia ke Ukraina.

Dia sebelumnya belum pernah mengambil bagian dalam operasi tempur. DW mewawancarai ibunya, Natalya (bukan nama sebenarnya -Red).

DW: Bagaimana kabar Anda ?

Natalja: Sangat sulit, sangat menyakitkan. Tidak ada yang akan membawa kembali anakku. Kapan Yevgeny masuk tentara? Tepat setelah ujiannya pada tahun 2014, dia bergabung dengan tentara. Dia dikirim ke unit khusus badan intelijen militer luar negeri GRU.

baca juga

Mereka menawarinya kontrak, tetapi saya meyakinkan dia untuk tidak menandatangani, karena dia harus bertugas di zona konflik. Setelah itu, dia bekerja di sebuah perusahaan keamanan, lalu melamar untuk bergabung dengan kepolisian. Tapi dia tidak menyukai pekerjaan itu, dan memutuskan untuk kembali ke militer.

Mereka segera mengambil dia lagi, kami hanya punya semalam untuk mengucapkan selamat berpisah. Yevgeny lalu bertugas di garda nasional. Dia suka di sana, dan naik menjadi pemimpin tim. Tugasnya membubarkan aksi-aksi protes di Moskow. Tahun 2017 dia menjadi ayah. Bertemu istrinya waktu masih jadi agen keamanan. Dia lalu pindah ke Moskow, dan mereka menikah.

Bagaimana dia akhirnya dikirim ke Ukraina?

Akhir bulan Januari, sekitar tanggal 25 atau 26, putra saya menelepon, memberi tahu saya bahwa mereka akan dikirim ke kota Smolensk (di Rusia barat, 80 kilometer dari perbatasan Belarus -Red) untuk latihan dengan Belarus.

Saya bertanya kepadanya: "Apakah kamu berbohong? Latihan apa?" Saya lalu cari di internet dan menemukan bahwa latihan dengan Belarus telah dilakukan di masa lalu.

Saya terus mencari dan mencoba mencari tahu. Saya bahkan tidak memikirkan Ukraina.

Anda tidak tahu, anak Anda dikirim untuk berpartisipasi dalam manuver militer?

Ya. Saya bilang Yevgeny bahwa saya tidak bodoh dan tidak percaya dia dikirim ke Smolensk. Saya terus mencari informasi dan akhirnya menyadari bahwa dia akan dikirim ke Ukraina.

Saya ingin mencegahnya. Saya bilang padanya bahwa dia mungkin tidak akan kembali lagi. Dia menjawab: "Kamu bicara apa?!" Dia tidak tahu ke mana dia dikirim. Entah mereka sudah mencuci otaknya, membuat dia berpikir benar-benar akan berpartisipasi dalam latihan.

Atau dia tahu apa yang akan terjadi, tetapi tidak dapat membayangkan seperti apa pertumpahan darah itu. Saya kira tidak ada yang mengharapkan itu, bahkan Putin pun tidak.

Apakah ada kontak dengan dia setelah dia pergi?

Dia pergi 13 Februari. Saya bercanda bertanya apa dia suka Smolensk dan jenis makanan mereka. Dia tertawa, dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Terakhir kali saya mendengar kabar dari dia tanggal 24 Februari.

Dia menulis lewat akun WhatsApp sesama prajurit, memberi tahu saya: "Bu, perang telah pecah." Saya jawab: "Anakku, saya melihatnya di televisi." Dan dia bilang: "Coba bayangkan, seluruh unit kami terbunuh di perbatasan." Saya tanya: "kamu di mana?" Dia jawab: "Saya di Smolensk, Ibu."

Saya pikir dia ada di suatu tempat dekat sana. Karena dari sana mereka diterbangkan ke bandara (Hostomel, dekat Kyiv -Red). Saya bilang: "Tunggu di sana saja." Dan dia balas: "Baiklah, selamat tinggal ibu. Saya harus pergi. Beritahu istri saya bahwa semuanya baik-baik saja." Setelah itu kami tidak pernah mendengar kabar dari dia lagi.

Saya selalu membawa ponsel saya. Saya menghabiskan hari-hari menonton televisi, dan membaca di internet. Saya pikir, mungkin saya bisa melihat mukanya di suatu tempat. Saya pergi ke gereja setiap hari, menyalakan lilin dan berdoa untuk dia. Tapi saat itu, dia sebenarnya sudah lama mati.

Apa yang membuat Anda berpikir begitu?

Saya membaca di internet bahwa tentara kami menaklukkan Hostomel pada 24 Februari. Semua anak laki-laki kami kemudian dikirim ke sana. Tapi kemudian mereka mendapat serangan dari Kyiv. Mereka dikepung dan tidak ada yang datang membantu mereka. Mereka ditembak dan dibom selama sehari penuh.

Bayangkan, bandara pada dasarnya adalah lapangan terbuka. Tanggal 25 Februari, tentara kami merebut lagi kendali atas Hostomel. Pada 26 Februari, mereka menemukan Yevgeny. Tapi saya baru diberitahu pada 8 Maret.

Unitnya menelepon saya sekitar pukul 13.30. dan memberi tahu bahwa putra saya tewas dalam pertempuran di dekat Rostov (Rostov-on-Don, sebuah kota di Rusia selatan, sekitar 60 kilometer dari perbatasan Ukraina -Red).

Saya hampir gila. Saya tidak tahu mengapa mereka bilang begitu. Mungkin karena jenazahnya dikirim ke kamar mayat di Rostov, dan mereka tidak punya informasi bagaimana dia tewas.

Apakah Anda pernah mendiskusikan tentang Ukraina dengan putra Anda di masa lalu?

Sejujurnya, tidak.

Apakah Anda mengerti mengapa serangan ini dimulai?

Saya pikir jika kita tidak mulai membom mereka, Ukraina akan membom kita. Kita tidak punya pilihan. Tapi ada yang tidak beres. Begitu banyak tentara tewas. Kita tidak bisa berhenti, kita harus terus berjuang sampai meraih kemenangan.

Apakah Anda mengerti mengapa Rusia berperang di Ukraina? Apa yang diperjuangkan anak Anda?

Anak saya berjuang untuk kami, untuk rakyat dan negara Rusia. Supaya kita bisa tetap menggunakan ponsel kita, makan dan minum seperti dulu. Dia tidak mati sia-sia, dia mati untuk kita, agar kita bisa menjalani hidup yang panjang dan bahagia, sehingga kita tidak harus hidup dengan perang dan bom dijatuhkan kepada kita. Di Rusia, media tidak boleh menyebut konflik ini sebagai perang.

Apakah Anda menganggap ini sebagai perang atau sebuah "operasi khusus"?

Saya tidak melihat ini sebagai "operasi khusus". Ini adalah perang. Saya sadar, kita tidak bisa menyebutnya begitu, tetapi ini adalah perang. Ini adalah banjir darah. (hp/vlz)

Wawancara untuk DW dilakukan oleh Oxana Ivanova.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Kronologi WNI Eks Sopir Taksi Jadi Tentara Bayaran Rusia, Baru 10 Hari Latihan Tewas di Ukraina

Kronologi WNI Eks Sopir Taksi Jadi Tentara Bayaran Rusia, Baru 10 Hari Latihan Tewas di Ukraina

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Nasib Tragis WNI Muhammad Taufiq Eks Sopir Taksi yang Jadi Tentara Bayaran Rusia

Nasib Tragis WNI Muhammad Taufiq Eks Sopir Taksi yang Jadi Tentara Bayaran Rusia

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:30 WIB

Rusia Siapkan 2 Reaktor Nuklir di Indonesia, Ini Lokasi Detailnya: Targetnya 5 Tahun Lagi

Rusia Siapkan 2 Reaktor Nuklir di Indonesia, Ini Lokasi Detailnya: Targetnya 5 Tahun Lagi

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:06 WIB

Perusahaan Rusia Ungkap Detail Kesepakatan Nuklir dengan Indonesia, Pasokan Listrik Dijamin 60 Tahun

Perusahaan Rusia Ungkap Detail Kesepakatan Nuklir dengan Indonesia, Pasokan Listrik Dijamin 60 Tahun

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:47 WIB

Trump Bakal Longgarkan Sanksi bagi Rusia, Harga Minyak Dunia Terkoreksi

Trump Bakal Longgarkan Sanksi bagi Rusia, Harga Minyak Dunia Terkoreksi

Bisnis | Selasa, 20 Oktober 2026 | 08:33 WIB

Torehkan Sejarah, Rosatom dan Indonesia Sepakati Ekspor Listrik Nuklir Terapung Perdana di Dunia

Torehkan Sejarah, Rosatom dan Indonesia Sepakati Ekspor Listrik Nuklir Terapung Perdana di Dunia

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 17:14 WIB

Hubungan Dagang Indonesia-Rusia Capai 4,84 Miliar Dolar AS, Naik 21,6%

Hubungan Dagang Indonesia-Rusia Capai 4,84 Miliar Dolar AS, Naik 21,6%

Bisnis | Senin, 19 Oktober 2026 | 14:57 WIB

Vladimir Putin Kirim Ucapan Selamat Ultah untuk Presiden Prabowo, Singgung Soal Komitmen

Vladimir Putin Kirim Ucapan Selamat Ultah untuk Presiden Prabowo, Singgung Soal Komitmen

News | Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:57 WIB

Bakom Bantah Tak Ada Pesta, Media Rusia Sebut Ada Perayaan Ultah Presiden Prabowo

Bakom Bantah Tak Ada Pesta, Media Rusia Sebut Ada Perayaan Ultah Presiden Prabowo

News | Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:00 WIB

Terkini

Polemik Penggeledahan Rumah Tahfiz di Sukoharjo Kian Memanas, DPR Desak Pembentukan TGPF Independen

Polemik Penggeledahan Rumah Tahfiz di Sukoharjo Kian Memanas, DPR Desak Pembentukan TGPF Independen

News | Senin, 02 November 2026 | 01:02 WIB

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:11 WIB

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:09 WIB

Perang Dunia III di Depan Mata? Vladimir Putin: Rusia Siap Perang dengan Eropa

Perang Dunia III di Depan Mata? Vladimir Putin: Rusia Siap Perang dengan Eropa

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:45 WIB

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:42 WIB

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Sport | Minggu, 01 November 2026 | 23:37 WIB

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:29 WIB

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:00 WIB

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Lampung | Minggu, 01 November 2026 | 22:48 WIB

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 22:44 WIB

×