facebook
bbc

Hepatitis Akut: PTM 100% di Sekolah Bisa Dilangsungkan Asal Anak Divaksin

Siswanto | BBC
Hepatitis Akut: PTM 100% di Sekolah Bisa Dilangsungkan Asal Anak Divaksin
BBC

Dengan landasan ini, pemerintah memutuskan pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah tetap dilakukan di 11 provinsi, meski ada penolakan dari beberapa kalangan.

Suara.com - Hasil pemeriksaan kontak investigasi Kementerian Kesehatan menyatakan dari 18 kasus yang tercatat sejauh ini, tidak ditemukan adanya penularan langsung maupun indikasi penularan melalui saluran cerna.

Dengan landasan ini, pemerintah memutuskan pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah tetap dilakukan di 11 provinsi, meski ada penolakan dari beberapa kalangan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan epidemiolog menyarankan selain menerapkan protokol kesehatan di sekolah untuk mencegah penularan hepatitis akut, pemerintah juga perlu mensyaratkan anak yang mengikuti pembelajaran tatap muka sudah divaksin Covid-19 dan mendapat imunisasi hepatitis sebagai upaya perlindungan.

Baca juga:

Baca Juga: Ada 21 Kasus Hepatitis Akut di Jakarta, Pemprov DKI Bakal Kurangi Kapasitas PTM?

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung di Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan hingga Kamis (12/05) kasus suspek hepatitis akut di Indonesia mencapai 18 orang.

Delapan belas kasus itu berasal dari lima provinsi di antaranya DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Sumatera Barat, dan Jawa Timur.

Adapun jumlah kasus meninggal dengan dugaan hepatitis akut sebanyak lima orang.

"Dari 18 kasus suspek itu paling banyak di DKI Jakarta yaitu 12 orang," ujar Siti Nadia kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Nadia juga mengatakan hasil pemeriksaan kontak investigasi terhadap belasan kasus suspek itu tidak ditemukan adanya penularan langsung dari manusia ke manusia.

Baca Juga: 1 Orang di Kalimantan Timur Dinyatakan Bergejala Hepatitis Akut Misterius, Total Ada 18 Kasus di Indonesia

Tidak ditemukan pula penularan dari saluran pencernaan.

"Dari hasil pemeriksaan kontak investigasi enggak ada riwayat anak itu habis makan di luar sebelum terinfeksi hepatitis akut."

"Tidak ditemukan juga gejala risiko anggota keluarga lain positif hepatitis akut setelah anak positif, enggak ada."

Karena itulah Kementerian Kesehatan menilai pembelajaran tatap muka tetap bisa dilaksanakan dengan kapasitas 100% di wilayah dengan status Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1 hingga 3.

Selain karena kasus hepatitis akut di Indonesia tidak sebesar Covid-19.

"Jadi enggak ada masalah sebenarnya. Enggak ada hubungan dengan pembelajaran tatap muka. Karena permasalahannya hepatitis akut ini bukan seperti Covid-19."

"Dan WHO tidak menyatakan hepatitis ini sebagai pandemi, hanya dinyatakan sebagai kewaspadaan."

Apakah pembelajaran tatap muka harus ditunda?

Desakan agar pemerintah mengevaluasi pembelajaran tatap muka disuarakan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) lantaran menduga hepatitis akut dapat menular melalui saluran cerna dan pernapasan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, bahkan menyatakan akan mengkaji ulang kebijakan itu setelah adanya 21 kasus suspek baru di DKI Jakarta.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan pembelajaran tatap muka bisa menimbulkan risiko jika anak sekolah tidak diajarkan bagaimana melakukan pencegahan penularan hepatitis.

Pasca menurunnya kasus positif Covid-19 di Indonesia, perilaku masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan cenderung longgar.

"Mereka bisa saja bertukar makanan, jadi kalaupun pembelajaran tatap muka tetap dilakukan orangtua dan guru harus memberikan edukasi yang bagus," imbuh Piprim.

"Kalau pencegahan lewat saluran pernapasan sudah diajar lewat protokol kesehatan Covid, tinggal memastikan minuman dan makanan harus matang dan kalau bisa bawa bekal dari rumah."

"Tapi jika kita tidak bisa memastikan hal itu dan anak-anak sulit menjaga protokol kesehatan, sebaiknya memang pembelajaran tatap muka dievaluasi."

Selain edukasi soal kebersihan makanan dan lingkungan sekolah, epidemiolog dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman, mengatakan pemerintah perlu mensyaratkan anak yang bisa mengikuti pembelajaran tatap muka sudah harus mendapatkan vaksin Covid-19 dan imunisasi hepatitis.

Hal itu penting untuk memperkuat imunitas mereka.

"Itu penting karena semakin lengkap vaksin program (hepatitis) pada anak-anak akan memperkuat perlindungan terhadap imun mereka," jelas Dicky Budiman.

Menurutnya, penyakit hepatitis akut yang muncul saat ini tidak lepas dari pandemi Covid-19.

Pasalnya di Wuhan, China, pada awal tahun 2020, kasus hepatitis pada anak dan orang dewasa terjadi bersamaan seiring merebaknya Covid-19. Namun ketika itu diketahui dengan cepat bahwa infeksi hepatitis berkaitan dengan SARS-COV-2.

Kemudian kajian dari Kementerian Kesehatan Israel menemukan 90% anak yang terinfeksi hepatitis akut, satu tahun sebelumnya terinfeksi SARS-COV-2 atau Covid-19.

Namun demikian pembelajaran tatap muka harus dihentikan sementara waktu, jika ada temuan bahwa hepatitis akut bisa menular melalui kontak langsung atau human-to-human transmission dan tingkat penularannya sangat tinggi.

"Kalau ada kluster di negara lain misalnya menunjukkan pada anak menular langsung harus ditunda. Karena itu itu rawan banget."

Seperti apa tanggapan orangtua siswa sekolah?

Salah satu orang tua yang kami hubungi adalah Norvi Lifinus, orangtua dari siswa kelas 1 Sekolah Dasar di Jakarta. Ia mengizinkan anaknya masuk sekolah meski sedikit khawatir di tengah bertambahnya kasus hepatitis akut.

Sebab baginya sekolah tatap muka lebih efektif ketimbang belajar jarak jauh.

"Anak-anak sudah dua tahun sekolah online, lihat perkembangan psikologisnya mending sekolah offline. Di sekolah dia bisa interaksi dengan teman, menangkap pelajaran langsung dari guru."

Ia juga mengatakan kasus hepatitis akut saat ini masih sedikit.

"Bukannya meremehkan hepatitis akut ini, tapi sekarang kasusnya belum banyak jadi harusnya bisa cepat dicegah bahkan dikurangi."

Tapi untuk berjaga-jaga agar terhindari dari hepatitis akut, dia sudah membiasakan anaknya membawa bekal makanan dari rumah dan tidak membolehkan jajan sembarangan.

Sementara itu, dia berharap guru bisa lebih mengawasi murid-muridnya. Akan tetapi jika kasus hepatitis akut mulai merebak di sekolah, ia akan memikirkan ulang keputusannya.

"Kalau dari 100 anak baru satu atau dua anak yang terinfeksi hepatitis akut, saya tetap memilih belajar tatap muka. Kecuali kalau setengah dari total siswa sekolah itu kena, ya lebih baik belajar online lagi."

Sampai Kamis (12/05) Organisasi Kesehatan Dunia, WHO mencatat terdapat 348 kasus hepatitis akut di sekitar 20 negara di seluruh dunia dan ada 70 kasus tambahan sedang menunggu klarifikasi. Inggris dan Amerika Serikat tercatat sebagai negara dengan kasus terbanyak.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar