Benarkah Urine adalah Jawaban atas Kekurangan Pupuk Global?

Siswanto, Deutsche Welle

Senin, 16 Mei 2022 | 13:45 WIB
Benarkah Urine adalah Jawaban atas Kekurangan Pupuk Global?
DW

Suara.com - Semua mata tertuju pada sistem pangan ketika perang Rusia di Ukraina semakin mendorong kenaikan harga pupuk. Para ilmuwan berpikir urine bisa menjadi solusi untuk membantu tanaman tumbuh dan memperkuat ketahanan pangan.

Orang mungkin tidak menyangka Battleboro, sebuah kota yang indah di negara bagian Vermont, Amerika Serikat, sebagai tuan rumah lomba pipis.

Setiap tahun, sekitar 200 peserta bersaing mengumpulkan urine paling banyak untuk memenangkan piala. Dan yang lebih penting, untuk menyuburkan tanaman.

Acara ini diselenggarakan oleh Rich Earth Institute, sebuah organisasi nirlaba lokal yang mempasteurisasi urine yang disumbangkan dan memasoknya ke pertanian untuk digunakan sebagai pengganti pupuk sintetis.

Urine mengandung nitrogen, fosfor, kalium, dan mikronutrien, yang semuanya bisa membantu tanaman tumbuh. Untuk mendukung program itu, lembaga tersebut memasang toilet khusus di sebagian besar rumah para sukarelawan, yang dapat memisahkan urine dari sumbernya, sehingga nantinya dapat dipompa keluar dan diangkut ke tempat yang dibutuhkan.

"(Para sukarelawan) sangat bangga dengan apa yang mereka lakukan," kata Abraham Noe-Hays, Direktur Penelitian Rich Earth Institute.

"Mereka melihatnya sebagai cara lain untuk mendaur ulang."

Sistem pangan lebih tangguh karena urine?

Mengubah urine menjadi pupuk tidak terbatas pada komunitas ini. Perusahaan spin off Rich Earth sedang mengembangkan sistem yang bisa digunakan di gedung-gedung, sehingga dapat memperluas program ke tempat lain.

baca juga

Lebih jauh di negara-negara seperti Swedia, Prancis, Jerman, Afrika Selatan, dan Australia, organisasi lain bekerja untuk menggunakan kembali limbah manusia dalam upaya mengurangi ketergantungan pada pupuk komersial, yang memiliki serangkaian tantangan lingkungan dan ekonomi.

Pupuk nitrogen sintetis mencemari air tanah dan merupakan pendorong perubahan iklim yang signifikan. Produksi dan penggunaan pupuk tersebut menyumbang 2,4% dari emisi global, menurut sebuah studi tahun 2021.

Cadangan fosfor global juga menyusut dan petani di seluruh dunia telah menghadapi kekurangan dengan melonjaknya harga sejak Rusia, pengekspor pupuk utama, menginvasi Ukraina.

Para ilmuwan telah lama menilai sumber daya yang ditemukan dalam kotoran manusia sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan impor, kata Prithvi Simha, seorang peneliti di Universitas Ilmu Pertanian Swedia (SLU).

"Ketika ada guncangan pada rantai pasokan, bagaimana kita menanam makanan? Mendaur ulang urine, kita menambah ketahanan sistem pangan kita," katanya.

Sekitar sepertiga dari semua nitrogen dan fosfor yang digunakan dalam pertanian secara global berpotensi digantikan oleh nutrisi yang diperoleh dari urine, menurut Simha.

Persentase ini tumbuh secara dramatis untuk negara-negara seperti Uganda atau Etiopia, di mana terdapat populasi yang besar untuk menyediakan urine, tetapi tidak banyak pupuk sintetis yang digunakan karena terlalu mahal.

Dari "emas cair" hingga pupuk kering Simha adalah bagian dari tim peneliti yang mengembangkan cara untuk mengubah urine menjadi pupuk padat dengan volume lebih kecil dan terlihat seperti pelet sintetis yang digunakan kebanyakan petani saat ini.

Perusahaan spin-off SLU, Sanitation 360, yang berbasis di pulau Gotland, Swedia, melengkapi toilet dengan kaset yang membuat urine menjadi alkali.

Proses ini memungkinkan nutrisi yang dikandungnya tetap stabil sementara kipas menguapkan air, dan meninggalkan bubuk kering.

"Ada cukup banyak chemistry yang kompleks di balik bagaimana kami mewujudkan ini, tetapi pada kenyataannya itu cukup sederhana untuk diterapkan," kata Simha.

Sanitation 360 telah bekerja sama dengan perusahaan yang menyewakan toilet portable. Langkah ini meningkatkan pengumpulan urine dari 1.500 liter menjadi 25.000 liter dan tahun depan, 250.000 liter ditargetkan akan tercapai.

Jika pupuk urine ingin menjadi mainstream, maka harus mampu bersaing dengan pupuk sintetis yang diproduksi secara massal.

Upaya itu termasuk membuat disertifikasi oleh regulator nasional karena beberapa bagian dunia masih memberi label urine yang dipisahkan dari sumbernya sebagai limbah. Namun, opsi itu juga melibatkan pembuatan teknologi dan peralatan tersedia secara luas.

Toilet pengalih urine adalah bagian penting dari teka-teki. Pisahkan sebelum didaur ulang Jika kita ingin menggunakan kembali air kencing untuk pupuk, itu perlu dipisahkan dari kotoran kita, juga air toilet, dengan cara yang sama kita memisahkan sampah daur ulang, seperti plastik dan sampah lainnya.

Toilet pengalih urine bisa dari jenis "flush atau dry" dan biasanya bekerja dengan mengumpulkan limbah cair di baskom khusus di depan toilet. Model-model ini sebenarnya pertama kali dikembangkan sebagai cara untuk mengurangi polusi air.

Urine hanya menghasilkan 1% dari air limbah di pabrik pengolahan Eropa, tetapi itu juga menjadi salah satu sumber nutrisi utama, seperti nitrogen yang mencemari dan merusak sungai dan danau. Menggunakan kembali urine yang dialihkan pada sumbernya menjadi pupuk bukanlah hal yang sulit, kata Tove Larsen, seorang ilmuwan senior di Institut Sains dan Teknologi Perairan Federal Swiss (Eawag).

"Jika tidak, Anda mengekstrak emas dari air limbah Anda dan alih-alih mendaur ulangnya ke industri, Anda hanya membuangnya," katanya.

Teknologi yang berkembang Sejauh ini, salah satu tantangan utama toilet pengalih urine adalah toilet tersebut dianggap tidak praktis untuk digunakan dan diproduksi, menurut Larsen. Namun, dengan model baru yang dikembangkan oleh perusahaan Swiss, Laufen dan Eawag, bisa mengubah itu, katanya.

Model ini menggunakan "efek teko". Di bagian atas, di depan mangkuk, dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan urine menetes ke dalam lubang terpisah mirip dengan saat teh menetes ke bagian luar pot saat dituangkan pada sudut tertentu.

Sistem penyiraman juga dirancang untuk membersihkan bagian atas dengan sedikit air, cukup untuk menghilangkan bau yang ditimbulkan. Keuntungan utama dari model baru ini adalah dapat digunakan dan diproduksi seperti toilet keramik lainnya, menurut Larsen.

Untuk saat ini, mereka terbatas hanya pada beberapa bangunan di seluruh dunia. Namun, para ilmuwan berharap bahwa ketika teknologi ini perlahan menyebar, mendaur ulang "emas cair" pada akhirnya akan semudah semua orang duduk dan membuang air kecil. (bh/ha)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengenal Fenomena 'Deskilling': Benarkah AI Perlahan Menurunkan Keterampilan Berpikir Manusia?

Mengenal Fenomena 'Deskilling': Benarkah AI Perlahan Menurunkan Keterampilan Berpikir Manusia?

Your Say | Kamis, 06 Agustus 2026 | 12:03 WIB

Rincian Bunga Deposito BRI dan BNI Terbaru Tahun 2026

Rincian Bunga Deposito BRI dan BNI Terbaru Tahun 2026

Bisnis | Kamis, 06 Agustus 2026 | 11:59 WIB

Komisi IX DPR Kecam Oknum Nakes yang Diduga Nirempati pada Yurizal: BPJS Bukan Pasien Kelas Dua

Komisi IX DPR Kecam Oknum Nakes yang Diduga Nirempati pada Yurizal: BPJS Bukan Pasien Kelas Dua

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 11:54 WIB

Panduan Susunan Upacara Bendera 17 Agustus di Sekolah Lengkap dari Awal sampai Akhir

Panduan Susunan Upacara Bendera 17 Agustus di Sekolah Lengkap dari Awal sampai Akhir

Lifestyle | Kamis, 06 Agustus 2026 | 11:51 WIB

Dipimpin Hakim Richard Edwin Basoeki, Sidang Praperadilan Febrie Adriansyah Digelar 18 dan Agustus

Dipimpin Hakim Richard Edwin Basoeki, Sidang Praperadilan Febrie Adriansyah Digelar 18 dan Agustus

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 11:47 WIB

Seberapa Oke Mobil Listrik Jaecoo J5 EV? Intip Kata Pakar

Seberapa Oke Mobil Listrik Jaecoo J5 EV? Intip Kata Pakar

Otomotif | Kamis, 06 Agustus 2026 | 11:44 WIB

Riset Terbaru Ungkap Manfaat Sistem Kerja Hybrid bagi Karyawan saat Musim Libur Sekolah

Riset Terbaru Ungkap Manfaat Sistem Kerja Hybrid bagi Karyawan saat Musim Libur Sekolah

Lifestyle | Kamis, 06 Agustus 2026 | 11:42 WIB

Bukan di Dalam Museum, Ini "Sekolah" Budaya Paling Nyata di Ujung Timur Jawa

Bukan di Dalam Museum, Ini "Sekolah" Budaya Paling Nyata di Ujung Timur Jawa

Your Say | Kamis, 06 Agustus 2026 | 11:41 WIB

Budget Pas-pasan? Ini 20 Ide Hadiah 17 Agustus yang Murah, Unik, dan Pasti Terpakai!

Budget Pas-pasan? Ini 20 Ide Hadiah 17 Agustus yang Murah, Unik, dan Pasti Terpakai!

Lifestyle | Kamis, 06 Agustus 2026 | 11:40 WIB

Shin Tae-yong Pusing! Persija Langsung Hadapi Borneo FC dan Persib di Dua Laga Awal Super League

Shin Tae-yong Pusing! Persija Langsung Hadapi Borneo FC dan Persib di Dua Laga Awal Super League

Bola | Kamis, 06 Agustus 2026 | 11:38 WIB

Terkini

Dari Jepang, Kolombia, hingga NTT: Daftar 'Gempa Besar' Selama Agustus 2026

Dari Jepang, Kolombia, hingga NTT: Daftar 'Gempa Besar' Selama Agustus 2026

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:12 WIB

BNPB Minta Negara Tetangga Tak Saling Menyalahkan soal Asap Karhutla

BNPB Minta Negara Tetangga Tak Saling Menyalahkan soal Asap Karhutla

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:09 WIB

Menelusuri Jejak Kerajaan Nusantara Bersama Komunitas Mercedes Jip Indonesia

Menelusuri Jejak Kerajaan Nusantara Bersama Komunitas Mercedes Jip Indonesia

Otomotif | Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:08 WIB

Pimpinan DPR Turun Langsung ke Desa Adat Sade: Bantuan Disalurkan, Siapkan Revitalisasi

Pimpinan DPR Turun Langsung ke Desa Adat Sade: Bantuan Disalurkan, Siapkan Revitalisasi

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:06 WIB

Rekening Mas Botok AMPB Diblokir Bank, Jefri Nichol: Serem Belum Demo Udah Dibungkam

Rekening Mas Botok AMPB Diblokir Bank, Jefri Nichol: Serem Belum Demo Udah Dibungkam

Entertainment | Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:05 WIB

Desa Adat Sade Dilalap Api, Bantuan Rp200 Juta Datang Saat Warga Mengais Puing

Desa Adat Sade Dilalap Api, Bantuan Rp200 Juta Datang Saat Warga Mengais Puing

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:01 WIB

Gandeng Menteri PKP, Bupati Rudy Susmanto Akselerasi Pengentasan Pemukiman Kumuh di Bogor

Gandeng Menteri PKP, Bupati Rudy Susmanto Akselerasi Pengentasan Pemukiman Kumuh di Bogor

Bogor | Minggu, 23 Agustus 2026 | 18:55 WIB

Tanpa Sertifikasi, Ali Tatto Sulam Sebut Pesolek Talenta Lokal Susah Tembus Pasar Global

Tanpa Sertifikasi, Ali Tatto Sulam Sebut Pesolek Talenta Lokal Susah Tembus Pasar Global

Jabar | Minggu, 23 Agustus 2026 | 18:44 WIB

Rektor Ditangkap KPK: Maba Korban Pemerasan Harus Diselamatkan?

Rektor Ditangkap KPK: Maba Korban Pemerasan Harus Diselamatkan?

Your Say | Minggu, 23 Agustus 2026 | 18:40 WIB

Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut

Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 18:35 WIB

×