Apakah Indonesia Siap Hadapi Krisis Pangan Global yang Bisa Picu Kelaparan?

Ruth Meliana Dwi Indriani

Selasa, 14 Juni 2022 | 10:10 WIB
Apakah Indonesia Siap Hadapi Krisis Pangan Global yang Bisa Picu Kelaparan?
Ilustrasi petani (Canva)

Akibat itu semua, produksi beras secara nasional walaupun ada kenaikan, tetapi tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Indonesia masih terus mengimpor beras sebagai stok nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor beras masih terjadi dalam tiga tahun terakhir. Pada 2018 Indonesia mengimpor beras 2.253.824,5 ton dan tahun 2019 impor menurun hanya 444.508,8 ton.

Lalu tahun 2020 impor turun lagi 356.286 ton beras. Sedangkan tahun 2021 volume impor beras naik lagi 14 persen lebih mencapai 407,74 ribu ton.

Ke depan perlu terus dikembangkan budi daya padi skala luas dengan melibatkan swasta melalui rice estate sebagai lumbung pangan nasional di luar Pulau Jawa.

Sejumlah daerah juga berlomba untuk mampu berswasembada padi dengan terus mencetak sawah baru. Keberadaan bendungan baru harus dimanfaatkan daerah dengan pembangunan irigasi sampai tersier, demi mengawal produktivitas sawah melalui penyuluh yang tangguh.

Bagaimana dengan kedelai? Dari ketiga makanan pokok tersebut, swasembada kedelai adalah yang tersulit dari sisi besarnya ketergantungan impor dan soal harga jual kedelai yang belum menggiurkan petani.

Berbeda dengan padi yang punya harga dasar dan dijamin ditampung Bulog, maka nasib harga kedelai belum bagus. Petani tak mau rugi, sehingga kedelai masih belum menjadi prioritas, apalagi hanya ditanam saat musim gadu atau sebagai tanaman sela.

Indonesia pernah mencatat produksi kedelai tertinggi, yaitu mencapai 1,87 juta ton pada 1991 sampai 1992. Namun sejak saat itu terus menurun. Padahal kebutuhan kedelai, khususnya untuk tahu dan tempe terus meningkat.

Produksi kedelai saat ini hanya sekitar 10 persen kebutuhan nasional, sehingga ketika harga impor kedelai naik, otomatis harga dalam negeri juga melonjak.

baca juga

Jagung sempat membanggakan

Produksi jagung sempat dipuji Presiden Jokowi saat membuka Pekan Nasional Tani dan Nelayan (Penas KTNA) di Banda Aceh, 6 Mei 2017. Saat itu Jokowi mengapresiasi kinerja petani di seluruh Indonesia yang mendukung peningkatan produksi jagung.

Indonesia dapat menekan ketergantungan pada jagung impor 3,6 juta ton pada 2015, menjadi 900.000 ton pada 2016, setelah pemerintah memutuskan harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp3.150 per kg.

Menteri Pertanian, saat itu Amran Sulaeman, bahkan meyakini produksi jagung Indonesia sudah bisa surplus sesegera mungkin atau di 2018.

Faktanya impor jagung terus terjadi dan di Tahun 2020 sampai 2021, peternak ayam menjerit karena harga jagung melonjak tinggi, sementara harga daging ayam dan telur tidak bisa naik terlalu tinggi.

Sepanjang setahun terakhir, harga telur dan daging ayam ras bisa fluktuatif setiap hari karena jagung dan bungkil kedelai yang merupakan bahan utama pakan juga naik turun.

Petani jagung juga masih mengalami gonjang ganjing harga jual walaupun ada harga patokan jagung pipil. Inilah yang membuat petani berpikir dua kali untuk menanam jagung.

Insentif dan harga dasar

Petani memiliki prinsip ekonomi yang kuat untuk memilih komoditas yang tepat. Pertama menjadi pertimbangan adalah jaminan harga jual dan kemudahan menjual hasil panen. Jika harga jual di bawah biaya pokok produksi, maka petani akan memilih aman untuk bertanam padi.

Selama harga jagung dan kedelai saat panen belum pasti, termasuk penampungnya, maka lebih baik kembali tanam padi, walaupun secara teori menanam padi tiga kali justru akan memperpanjang siklus hama padi.

Sudah saatnya ada BUMN yang bergerak untuk menjamin pembelian jagung dan kedelai karena dua komoditi itu pasti mempunyai pasar kuat di dalam negeri.

Kalau dikembalikan ke Bulog untuk menyerap semua kedelai petani akan lebih baik, sehingga seperti dulu jalinan Bulog dan Koperasi Tahu Tempe menjadi mitra saling menguntungkan.

Setelah itu baru dirancang luasan lahan kedelai setiap kabupaten dengan insentif khusus, seperti benih unggul, pupuk dan pestisida.

Lebih baik dirancang pembukaan lahan baru khusus kedelai yang tidak banyak membutuhkan irigasi teknis. Dalam satuan lahan yang lebih luas, sehingga memungkinkan penggunaan mekanisasi pertanian dan pengendalian hama terpadu.

Saat ini lonjakan harga kedelai dunia yang membuat harga kedelai di dalam negeri melonjak sampai Rp11.800 per kilogram, sehingga seharusnya menjadi peluang untuk merangsang petani menanam kedelai.

Rata-rata biaya produksi kedelai lokal mencapai Rp7.000 per kilogram, sehingga masih ada marjin yang cukup bagi swasta untuk terjun.

Jagung paling mungkin

Dari tiga komoditi itu, jagung sebenarnya paling mungkin bisa swasembada karena teknologi budi daya relatif mudah, tidak membutuhkan banyak air dan harga jual yang diproyeksikan terus naik.

Harga normal jagung adalah kisaran Rp 4.000-4.500 per kg, sementara saat ini bisa mencapai Rp 6.000 per kg, bahkan lebih mahal di beberapa daerah. Ini peluang bagi daerah yang mempunyai lahan tidur cukup luas.

Ini seperti mengikuti harga jagung dunia dimana pada Rabu (20/4/2022) harga jagung dunia tercatat 8 dolar AS per gantang (25,4 kg) atau Rp4.560 per kilogram. Ini rekor tertinggi sejak September 2012.

Khusus di Indonesia, justru ada anomali karena saat panen jagung pada Maret-April 2022. Harga di tingkat petani di kisaran Rp4.000 per kilogram, sementara di pasaran dalam partai besar masih Rp6.000 per kilogram, dan harga eceran yang dibeli peternak kecil sekitar Rp7.500 per kilogram.

Ini sebenarnya menjadi peluang Bulog untuk menyerap jagung petani di harga dasar Rp4.150 per kilogram dan bisa menjual kepada peternak dengan marjin yang wajar di kisaran Rp5.500 per kilogram.

Terlebih selama ini yang bermain adalah para pedagang besar yang mampu menimbun jagung dan membiarkan suplai di pasaran terbatas.

Buktinya, dari data Kementan, produksi bulanan jagung pada Maret-April 2022 sekitar 2,5 juta ton, sementara volume konsumsi jagung di dalam negeri paling banyak 1,5 juta ton.

Artinya surplus cukup besar saat panen raya, tetapi suplai tetap tersendat dan petani tetap dengan harga jual yang rendah. Jagung sebenarnya berpeluang besar untuk swasembada jika harga dasar jagung naik di atas Rp4.500 per kilogram. Tanpa perlu kampanye lagi, petani akan berlomba memproduksi jagung.

Salah satu penyebabnya produktivitas jagung di Indonesia masih rendah, yaitu rata-rata sekitar 5,5 ton per hektare, padahal dengan pola intensifikasi jagung bisa mencapai 9 ton per hektare.

Ini merupakan tugas penyuluh pertanian untuk memotivasi petani menggunakan pola intensifikasi jagung, yaitu penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang dan pengendalian hama terpadu.

Kedua, perlu didorong swasta untuk menggarap lahan-lahan tidur yang berskala luas dengan insentif keringanan pajak dan jaminan serapan pasar yang baik.

Dengan skala luas, maka efisiensi akan tercapai, apalagi dengan modernisasi penggarapan lahan dan mesin panen.

Peternakan ayam ras saat ini sudah ada merata di setiap kabupaten sehingga tidak perlu khawatir untuk memasarkan sebagai bahan baku pakan ternak. Hanya perlu jalinan kemitraan dengan peternak lokal atau pabrik pakan di sekitar areal jagung.

Swasembada bukan hanya tugas Pemerintah pusat, tetapi juga tugas pemerintah daerah untuk berinovasi meningkatkan produksi padi, jagung dan kedelai.

Kenaikan harga komoditi pangan dunia harusnya terus memacu daerah untuk meningkatkan produksi pertanian sekaligus menjadi prestise daerah. [ANTARA]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jelang Lawan Nepal, Timnas Indonesia Dapat Dukungan Spesial dari Luis Milla: Vamos, Indonesia

Jelang Lawan Nepal, Timnas Indonesia Dapat Dukungan Spesial dari Luis Milla: Vamos, Indonesia

Bogor | Selasa, 14 Juni 2022 | 10:06 WIB

Chae YuJung, Pebulutangkis Korea Selatan Lawan Rinov/Pitha di EVIO 2022

Chae YuJung, Pebulutangkis Korea Selatan Lawan Rinov/Pitha di EVIO 2022

Your Say | Selasa, 14 Juni 2022 | 10:03 WIB

Restrukturisasi KIK-EBA Garuda Indonesia Disetujui

Restrukturisasi KIK-EBA Garuda Indonesia Disetujui

Bisnis | Selasa, 14 Juni 2022 | 09:48 WIB

Nepal di Kondisi Compang-Camping, Mampukah Timnas Indonesia Pesta Gol?

Nepal di Kondisi Compang-Camping, Mampukah Timnas Indonesia Pesta Gol?

Bekaci | Selasa, 14 Juni 2022 | 09:55 WIB

Jadwal dan Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Nepal: Kemenangan Harga Mati

Jadwal dan Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Nepal: Kemenangan Harga Mati

Bogor | Selasa, 14 Juni 2022 | 09:55 WIB

Makin Cantik Dibilang Mirip Seo Ye Ji, 5 Potret Transformasi Keisya Levronka

Makin Cantik Dibilang Mirip Seo Ye Ji, 5 Potret Transformasi Keisya Levronka

Banten | Selasa, 14 Juni 2022 | 10:05 WIB

Terkini

Dukung Penangkapan Eks Kepala BGN, Tani Merdeka: Program Prabowo Bagus, Oknumnya yang Main!

Dukung Penangkapan Eks Kepala BGN, Tani Merdeka: Program Prabowo Bagus, Oknumnya yang Main!

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:50 WIB

Polri hingga KPK Ajukan Tambahan Anggaran, Legislator PKB Minta Kinerja Berdampak Nyata

Polri hingga KPK Ajukan Tambahan Anggaran, Legislator PKB Minta Kinerja Berdampak Nyata

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:48 WIB

Dewan Keamanan Iran Akan Luncurkan Balasan Jika Amerika Berkhianat!

Dewan Keamanan Iran Akan Luncurkan Balasan Jika Amerika Berkhianat!

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:38 WIB

Pemprov Jabar Tingkatkan Akses Pekerja Informal terhadap BPJS Ketenagakerjaan

Pemprov Jabar Tingkatkan Akses Pekerja Informal terhadap BPJS Ketenagakerjaan

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:34 WIB

KPK Dalami Dugaan Illegal Gain Rp 27,8 Miliar Maktour di Kasus Korupsi Kuota Haji

KPK Dalami Dugaan Illegal Gain Rp 27,8 Miliar Maktour di Kasus Korupsi Kuota Haji

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:32 WIB

Mahasiswa Trisakti hingga Tani Merdeka Gelar Demo Hari Ini, 4.263 Polisi Berjaga di 5 Titik Jakpus

Mahasiswa Trisakti hingga Tani Merdeka Gelar Demo Hari Ini, 4.263 Polisi Berjaga di 5 Titik Jakpus

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:29 WIB

Kemenag Sudah Cairkan Insentif Tahap II untuk Guru PAI Non ASN dan Non Sertifikasi

Kemenag Sudah Cairkan Insentif Tahap II untuk Guru PAI Non ASN dan Non Sertifikasi

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:21 WIB

Dugaan Mark Up Proyek MBG, Kejagung Amankan 17.600 Unit Motor Listrik dan Segel Dua Gudang

Dugaan Mark Up Proyek MBG, Kejagung Amankan 17.600 Unit Motor Listrik dan Segel Dua Gudang

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:20 WIB

Program Mangrove NHM di Kao Berhasil Pulihkan Kawasan Pesisir dan Tingkatkan Ketahanan Lingkungan

Program Mangrove NHM di Kao Berhasil Pulihkan Kawasan Pesisir dan Tingkatkan Ketahanan Lingkungan

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:18 WIB

Dua Sekolah Rakyat Permanen di Pasuruan Siap Gelar Open House pada Juli

Dua Sekolah Rakyat Permanen di Pasuruan Siap Gelar Open House pada Juli

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 10:49 WIB